Thursday, 26 September 2013

Sirah Sahabat Abdullah bin Umar

Tekun Beribadah dan Mendekatkan Diri Kepada Allah

Sewaktu telah berada di puncak usianya yang tinggi, ia berbicara: “Saya telah bai’at kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka sampai saat ini, saya tak pernah belot atau mungkir janji…. Dan saya tak pernah bai’at kepada pengobar fitnah…. Tidak pula membangunkan orang Mu’min dari tidurnya….”
Dalam kalimat-kalimat di atas tersimpul secara ringkas tapi padat kehidupan seorang laki-laki shalih yang lanjut usia, melebihi usia 80 tahun, dan telah memulai hubungannya dengan Rasulullah dan Agama Islam semenjak berusia 13 tahun, yaitu ketika ia ingin menyertai ayahandanya dalam Perang Badar, dengan harapan akan beroleh tempat dalam deretan para pejuang, kalau tidak ditolak oleh Rasulullah disebabkan usianya yang masih terlalu muda….
Semenjak saat itu bahkan sebelumnya lagi, yakni ketika ia menyertai ayahandanya dalam hijrahnya ke Madinah, hubungan anak yang cepat matang kepribadiannya itu dengan Rasulullah dan Agama Islam, telah mulai terjalin….
Dan semenjak hari itu, sampai saat ia menemui Allah, yakni setelah ia mencapai usia 85 tahun, akan kita dapati ia sebagaimana adanya; seorang yang tekun beribadat dan mendekatkan diri kepada Allah, dan tak hendak bergeser dari pendiriannya walau agak seujung rambut, serta tak hendak menyimpang dari bai’at yang telah diikrarkannya atau melanggar janji yang telah diperbuatnya….
Keistimewaan-keistimewaan yang memikat perhatian kita terhadap Abdullah bin Umar ini tidak sedikit. Ilmunya, kerendahan hatinya, kebulatan tekad dan keteguhan pendirian, kedermawanan keshalihan dan ketekunannya dalam beribadah serta berpegang teguhnya kepada contoh yang diberikan oleh Rasulullah. Semua sifat dan keutamaan itu telah berjasa dalam me-nempa kepribadiannya yang luar biasa dan kehidupannya yang suci lagi benar….
Dipelajarinya dari bapaknya — Umar bin Khatthab — berbagai macam kebaikan; dan bersama bapaknya itu, dipelajarinya pula dari Rasulullah semua macam kebaikan dan semua macam kebesaran…. Sebagaimana bapaknya, ia pun telah berhasil mencapai keimanan yang baik terhadap Allah dan Rasul-Nya. Dan oleh karena itu, kesetiaannya mengikuti jejak langkah Rasulullah, merupakan suatu hal yang amat mena’jubkan….
Diperhatikannya apa kiranya yang dilakukan oleh Rasulullah mengenai sesuatu urusan, maka ditirunya secara cermat dan teliti…. Misalnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melakukan shalat di suatu tempat, maka Ibnu Umar melakukannya pula di tempat itu. Di tempat lain umpamanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. pernah berdoa sambil berdiri, maka Ibnu Umar berdoa di tempat itu sambil berdiri pula. Di sana Rasulullah pernah berdoa sambil duduk, maka Ibnu Umar berdoa di sana sambil duduk pula. Di sini — di jalan ini — Rasulullah pernah turun dari punggung untanya pada suatu hari dan melakukan shalat dua raka’at, maka Ibnu Umar tak hendak ketinggalan melakukannya, jika dalam perjalanannya ia kebetulan lewat di daerah itu dan tempat itu.
Bahkan ia takkan lupa bahwa unta tunggangan Rasulullah berputar dua kali di suatu tempat di kota Mekah sebelum Rasulullah turun dari atasnya untuk melakukan shalat dua raka’at, walaupun barangkali unta itu berkeliling dengan suatu maksud untuk mencari tempat baginya yang cocok untuk bersimpuh nanti. Tapi Abdullah ibnu Umar baru saja sampai di tempat itu, ia segera membawa untanya berputar dua kali kemudian baru bersimpuh, dan setelah itu ia shalat dua raka’at, sehingga persis sesuai dengan perbuatan Rasulullah yang telah disaksikannya…!
Kesetiaannya yang amat sangat dalam mengikuti jejak langkah Rasulullah ini, telah mengundang pujian dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anh sampai ia mengatakan:
“Tak seorang pun mengikuti jejak langkah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di tempat-tempat pemberhentiannya, sebagai dilakukan oleh Ibnu Umar…”
Sungguh, usia lanjutnya yang dipenuhi barkah itu telah dijalaninya untuk membuktikan kecintaannya yang mendalam terhadap Rasulullah, hingga pernah terjadi suatu masa, Kaum Muslimin yang shalihnya berdoa: “Ya Allah, lanjutkanlah kiranya usia Ibnu Umar sebagai Allah melanjutkan usiaku, agar aku dapat mengikuti jejak langkahnya, karena aku tidak mengetahui seorang pun yang menghirup dari sumber pertama selain Abdullah bin Umar.”
Dan karena kegemarannya yang kuat tak pernah luntur dalam mengikuti sunnah dan jejak langkah Rasulullah, maka Ibnu Umar bersikap amat hati-hati dalam penyampaian Hadits dari Rasulullah. la tak hendak menyampaikan sesuatu Hadits daripadanya, kecuali jika ia ingat seluruh kata-kata Rasulullah.
Orang-orang yang semasa dengannya mengatakan: “Tak seorang pun di antara shahabat -shahabat Rasulullah yang lebih berhati-hati agar tidak terselip atau terkurangi sehurufpun dalam menyampaikan Hadits Rasulullah sebagai halnya Ibnu Umar!”
Demikian pula dalam berfatwa, ia amat berhati-hati dan lebih suka menjaga diri…. Pada suatu hari seorang penanya datang kepadanya untuk meminta fatwa. Dan setelah orang itu memajukan pertanyaan, Ibnu Umar menjawab “Saya tak tahu tentang masalah yang Anda tanyakan itu…” Orang itu pun berlalulah, dan baru beberapa langkah ia meninggalkannya, Ibnu Umar bertepuk tangan seraya berkata dalam hatinya: “Ibnu Umar ditanyai orang tentang yang tidak diketahuinya, maka dijawabnya bahwa ia tidak tahu…”
Ia tidak hendak berijtihad untuk memberikan fatwa, karena takut akan berbuat kesalahan. Dan walaupun pola hidupnya mengikuti ajaran dari suatu Agama besar, yang menyediakan satu pahala bagi orang-orang yang tersalah dan dua pahala bagi yang benar hasil ijtihadnya, tetapi demi menghindari berbuat dosa menyebabkannya tidak berani untuk berfatwa….
Juga ia menghindarkan diri dari jabatan qadhi atau kehakiman, padahal jabatan ini merupakan jabatan tertinggi di antara jabatan kenegaraan dan kemasyarakatan; di samping menjamin pemasukan keuangan, diperolehnya pengaruh dan kemuliaan. Apa perlunya kekayaan, pengaruh dan kemuliaan itu bagi Ibnu Umar…!
Pada suatu hari Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘Anh memanggilnya dan meminta kesediaannya untuk memegang jabatan kehakiman itu, tetapi ditolaknya. Utsman mendesaknya juga, tetapi Ibnu Umar bersikeras pula atas penolakannya. “Apakah Anda tak hendak menta’ati perintahku?” tanya Utsman. Jawab Ibnu Umar:
“Sama sekali tidak…, hanya saya dengar para hakim itu ada tiga macam:
Pertama hakim yang mengadili tanpa ilmu, maka ia dalam neraka. Kedua yang mengadili berdasarkan nafsu, maka ia juga dalam neraka. Dan ketiga yang berijtihad sedang hasil ijtihadnya betul, maka ia dalam keadaan berimbang, tidak berdosa tapi tidak pula beroleh pahala. Dan saya atas nama Allah memohon kepada Anda agar dibebaskan dari jabatan itu…”
Khalifah Utsman menerima keberatan itu setelah mendapat jaminan bahwa ia tidak akan menyampaikan hal itu kepada siapa pun juga. Sebabnya ialah karena Utsman menyadari sepenuhnya kedudukan Ibnu Umar dalam hati masyarakat, karena jika orang-orang yang taqwa lagi shalih mengetahui keberatan Ibnu Umar menerima jabatan tersebut pastilah mereka akan mengikuti langkahnya, sehingga khalifah takkan menemukan seorang taqwa yang bersedia menjadi qadhi atau hakim.
Mungkin pendirian Abdullah bin Umar ini tampaknya sebagai suatu hal negatif yang terdapat pada dirinya. Tetapi tidaklah demikian halnya! Ibnu Umar tidak akan menolak jabatan tersebut apabila tidak ada lagi orang lain yang pantas menduduki jabatan itu, karena masih banyak di antara shahabat-shahabat Rasulullah yang shalih dan wara’ yang juga pantas memegang jabatan kehakiman dan mampu memberikan fatwa secara praktis maka ia menolaknya.
Maka dengan penolakannya itu tidaklah akan menyebabkan lowongnya kursi jabatan tersebut atau mengakibatkannya jatuh ke tangan orang-orang yang tidak berwenang. Telah tertanam dalam kehidupan pribadi Ibnu Umar untuk selalu membina dan meningkatkan diri agar lebih sempurna ketaatan dan ibadahnya kepada Allah.
Apalagi bila dikaji kehidupan Agama Islam di waktu itu, ternyata bahwa dunia telah terbuka pintunya bagi Kaum Muslimin, harta kekayaan melimpah ruah, pangkat dan kedudukan bertambah-tambah. Daya tarik harta dan kedudukan itu telah merangsang dan mempesona hati orang-orang beriman, menyebabkan bangkitnya sebagian shahabat Rasulullah — di antaranya Ibnu Umar — mengibarkan bendera perlawanan terhadap rangsangan dan godaan itu. Caranya ialah dengan menyediakan diri mereka sebagai contoh teladan dalam yuhud dan keshalihan, menjauhi kedudukan-kedudukan tinggi, mengatasi fitnah dan godaannya….
Boleh dikata bahwa Ibnu Umar adalah “penyerta malam” yang biasa diisinya dengan melakukan shalat…. atau “kawan dini hari” yang dipakainya untuk menangis dan memohon diampuni. Di waktu remajanya ia pernah bermimpi yang oleh Rasulullah dita’birkan bahwa qiyamul lail itu nantinya akan menjadi campuran tumpuan cita Ibnu Umar, tempat tersangkut-nya kesenangan dan kebahagiaannya. Nah, marilah kita dengar ceritera tentang mimpinya itu:
“Di masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. saya bermimpi seolah-olah di tanganku ada selembar kain beludru. Tempat mana saja yang saya ingini di surga, maka beludru itu akan menerbangkanku ke sana…
Lalu tampak pula dua orang yang mendatangiku dan ingin membawaku ke neraka. Tetapi seorang Malaikat menghadang mereka, katanya: ‘Jangan ganggu! Maka kedua orang itu pun meluangkan jalan bagiku….’
Oleh Hafshah, yaitu saudaraku, mimpi itu diceriterakannya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Akan menjadi laki-laki paling utamalah Abdullah itu, andainya ia sering shalat malam dan banyak melakukannya! “
Maka semenjak itu sampai ia pulang dipanggil Allah, Ibnu Umar tidak pernah meninggalkan qiyamul lail baik di waktu ia mukim atau musafir. Yang dilakukannya ialah shalat, membaca Al Quran dan banyak berdzikir menyebut nama Allah…, dan yang sangat menyerupai ayahnya ialah airmatanya bercucuran bila mendengar ayat-ayat peringatan dari al-Quran.
Berkata ‘Ubaid bin ‘Umair: “Pada suatu hari saya bacakan ayat berikut ini kepada Abdullah bin Umar:
“Betapakah bila Kami hadapkan dari setiap ummat seorang saksi, dan Kami hadapkan pula kamu sebagai saksi atas mereka semua… ? Padahari itu orang-orang kafir dan yang mendurhakai Rasul berharap kiranya mereka ditelan bumi, dan tiada pula suatu pembicaraan pun yang dapat mereka sembunyikan dari Allah…!“ (QS An Nisa: 41-42)
Maka Ibnu Umar pun menangis, hingga janggutnya basah oleh airmata. Pada suatu hari ketika ia duduk di antara kawan-kawannya, lalu membaca:
“Maka celakalah orang-orang yang berlaku curang dalam takaran! Yakni orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta dipenuhi, tetapi mengurangkannya bila mereka yang menakar atau menimbang untuk orang lain. Makkah mereka merasa bahwa mereka akan dibangkitkan nanti menghadapi suatu hari yang dahsyat…, yaitu ketika manusia sama berdiri di hadapan Tuhan Rabbul ‘alamin… (QS At Tathfif: 1-6)
Terus saja ia mengulang-ulang ayat:
“Ketika manusia sama berdiri di hadapan Rabbul ‘alamin sedang airmatanya mengucur bagai hujan…. hingga akhirnya ia jatuh disebabkan duka dan banyak menangis itu….”
Kemurahan, sifat zuhud dan wara’ bekerja sama pada dirinya dalam suatu paduan seni yang agung membentuk corak kepribadian mengagumkan dari manusia besar ini…. Ia banyak memberi karena ia seorang pemurah…. Yang diberikannya ialah barang halal karena ia seorang yang wara’ atau shalih…. Dan ia tidak peduli, apakah kemurahannya itu akan menyebabkannya miskin karena ia zahid, tidak ada minat terhadap dunia….
Ibnu Umar termasuk orang yang hidup ma’mur dan berpenghasilan banyak. Ia adalah seorang saudagar yang jujur dan berhasil dalam sebagian benar dari kehidupannya. Di samping itu gajinya dari Baitulmal tidak sedikit pula: Tetapi tunjangan itu tidak sedikit pun disimpannya untuk dirinya pribadi, tetapi dibagi-bagikan sebanyak-banyaknya kepada orang-orang miskin, yang kemalangan dan peminta-minta.
Ayub bin Wa-il Ar Rasibi pernah menceriterakan kepada kita salah satu contoh kedermawanannya. Pada suatu hari Ibnu Umar menerima uang sebanyak empat ribu dirham dan sehelai baju dingin. Pada hari berikutnya Ibnu Wa-il melihatnya di pasar sedang membeli makanan untuk hewan tunggangannya secara berutang. Maka pergilah Ibnu Wa-il mendapatkan keluarganya, tanyanya: “Bukankah kemarin Abu Abdurrahman — maksudnya Ibnu Umar — menerima kiriman empat ribu dirham dan sehelai baju dingin?”
“Benar”, ujar mereka.
 Kata Ibnu Wa-il: “Saya lihat ia tadi di pasar membeli makanan untuk hewan tunggangannya dan tidak punya uang untuk membayarnya… “
Ujar mereka: “Tidak sampai malam hari, uang itu telah habis dibagi-bagikannya. Mengenai baju dingin, mula-mula dipakainya, lalu ia pergi ke luar. Tapi ketika kembali, baju itu tidak kelihatan lagi; dan ketika kami tanyakan, jawabnya bahwa baju itu telah diberikannya kepada seorang miskin.!“
Maka Ibnu Wa-il pun pergilah sambil menghempas-hempaskan kedua belah telapak tangannya satu sama lain, dan pergi menuju pasar. Di sana ia naik ke suatu tempat yang tinggi dan berseru kepada orang-orang pasar, katanya: “Hai kaum pedagang…! Apa yang tuan-tuan lakukan terhadap dunia….? Lihat Ibnu Umar, datang kiriman kepadanya sebanyak empat ribu dirham, lalu dibagi-bagikannya hingga esok pagi ia membelikan hewan tunggangannya makanan secara utang…!“
Memang, seorang yang gurunya Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. dan bapaknya Umar, adalah seorang yang luar biasa dan cocok untuk hal-hal istimewa.. Sungguh, kedermawanan, sifat zuhud dan wara’, ketika unsur ini membuktikan secara gamblang, bagaimana Abdullah bin Umar menjadi seorang pengikut terpercaya dan seorang putera teladan….
Bagi orang yang ingin melihat kesetiaannya mengikuti jejak langkah Rasulullah, cukuplah bila diketahuinya bahwa Ibnu Umar akan berhenti dengan untanya di suatu tempat itu, karena pada suatu hari dilihatnya Rasulullah berhenti dengan untanya di tempat itu, seraya katanya: “Semoga setiap jejak akan menimpa di atas jejak sebelumnya…!”
Begitu pula dalam baktinya kepada orang tua, penghormatan dan kekagumannya, Ibnu Umar mencapai suatu taraf yang mengharuskan agar kepribadian Umar itu diteladani oleh pihak musuh, apatah lagi oleh kaum kerabat, dan kononlah oleh putera-putera kandungnya sendiri…!
Terlintas pada kita: “Tiada masuk akal, orang yang mengaku sebagai pengikut Rasul ini dan penganut ayah yang terkenal Al Faruq…, akan menjadi budak atau hamba harta…. Memang harta itu datang kepadanya secara berlimpah ruah…, tetapi ia hanya sekedar lewat, atau mampir ke rumahnya sebentar saja…!”
Dan kedermawanan ini, baginya bukanlah sebagai alat untuk mencari nama, atau agar dirinya menjadi buah bibir dan sebutan orang. Oleh sebab itu pemberiannya hanya ditujukannya kepada fakir miskin dan yang benar-benar membutuhkan. Jarang sekali makan seorang diri, karena pasti disertai oleh anak-anak yatim dan golongan melarat. Sebaliknya ia seringkali memarahi dan menyalahkan sebagian putera-puteranya, ketika mereka menyediakan jamuan untuk orang-orang hartawan, dan tidak mengundang fakir miskin, katanya: “Kalian mengundang orang-orang yang dalam kekenyangan, dan kalian biarkan orang-orang yang kelaparan!”
Dan fakir miskin itu kenal benar siapa Ibnu Umar, mengetahui sifat santunnya dan merasakan akibat kedermawanan dan budi baiknya. Sering mereka duduk di jalan yang akan dilaluinya pulang, dengan maksud semoga tampak olehnya hingga dibawanya ke rumahnya. Pendeknya mereka berkumpul sekelilingnya tak ubah bagai kawanan lebah yang berhimpun mengerumuni kembang demi untuk menghisap sari madunya…!
Bagi Ibnu Umar harta itu adalah sebagai pelayan, dan bukan sebagai tuan atau majikan! Harta hanyalah alat untuk mencukupi keperluan hidup dan bukan untuk bermewah-mewahan. Dan hartanya itu bukanlah miliknya semata, tapi padanya ada bagian tertentu haq fakir miskin, jadi merupakan hak yang serupa tak ada hak istimewa bagi dirinya.
Kedermawanan yang tidak terbatas ini disokong oleh sifat zuhudnya. Ibnu Umar tak hendak membanting tulang dalam mencari dan mengusahakan dunia. Harapan dari dunia itu hanyalah hendak mendapatkan pakaian sekedar penutup tubuhnya dan makanan sekedar penunjang hidup.
Salah seorang shahabatnya yang baru pulang dari Khurasan menghadiahkan sehelai baju halus yang indah kepadanya, serta katanya: “Saya bawa baju ini dari Khurasan untukmu! Dan alangkah senangnya hatiku melihat kamu menanggalkan pakaianmu yang kasar ini, lalu menggantinya dengan baju baru yang indah ini!”
“Coba lihat dulu”, jawab Ibnu Umar. Lalu dirabanya baju itu dan tanyanya: “Apakah ini sutera?” “Bukan”, ujar kawannya itu, “itu hanya katun.” Ibnu Umar mengusap-usap baju itu sebentar, kemudian diserahkannya kembali, katanya: “Tidak, saya khawatir terhadap diriku…! Saya takut ia akan menjadikan diriku sombong dan megah, sedang Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan bermegah diri… I “
Pada suatu hari, seorang shahabat memberinya pula sebuah kotak yang berisi penuh.
“Apa isinya ini… ?” tanya Ibnu Umar.
Jawab shahabatnya: “Suatu obat istimewa, saya bawa untukmu dari Irak!”
“Obat untuk penyakit apa?” tanya Ibnu Umar pula.
“Obat penghancur makanan untuk membantu pencernaan.”
Ibnu Umar tersenyum, katanya kepada shahabat itu: “Obat penghancur makanan… ? Selama empat puluh tahun ini saya tak pernah memakan sesuatu makanan sampai kenyang…!”
Nah, seseorang yang tak pernah makan sampai kenyang selama 40 tahun bukanlah maksudnya hendak menjauhi ke kenyangan itu semata, tetapi pastilah karena zuhud dan wara’-nya, serta usahanya hendak mengikuti jejak langkah Rasulullah dan bapaknya! Ia cemas akan dihadapkan pada hari qiamat dengan pertanyaan sebagai berikut: Telah kamu habiskan segala keni’matan di waktu hidupmu di dunia, kamu bersenang-senang dengannya! Ia menyadari bahwa di dunia ini ia hanyalah tamu atau seorang musafir lalu… Dan pernah ia berceritera tentang dirinya, katanya: “Tak pernah saya membuat tembok dan tidak pula menanam sebatang kurma semenjak wafatnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
Berkata Maimun bin Mahran: “Saya masuk ke rumah Ibnu Umar dan menaksir harga barang-barang yang terdapat di sana berupa ranjang, selimut, tikar…, pendeknya apa juga yang terdapat di sana, maka saya dapati harganya tidak sampai seratus dirham…!” Dan demikian itu bukanlah karena kemiskinan, karena Ibnu Umar adalah seorang kaya…! Bukan pula karena kebakhilan, karena ia seorang pemurah dan dermawan…! Sebabnya tidak lain hanyalah karena ia seorang zahid tidak terpikat oleh dunia, tidak suka hidup mewah dan tak senang menyimpang dari kebenaran dan keshalihan dalam menempuh hidup ini.
Ibnu Umar dikaruniai umur panjang dan mengalami masa Bani Umaiyah, di mana harta melimpah ruah, tanah tersebar luas dan kemewahan merajalela di kebanyakan rumah, bahkan katakanlah di mahligai-mahligai dan istana-istana…! Tapi walau demikian, namun gunung yang mulia ini tetap tegak dan tak tergoyahkan, tak hendakberanjak dari tempatnya dan tak hendak bergeser dari sifat wara’ dan zuhudnya.
Dan bila disebut orang kebahagiaan dunia dan kesenangannya yang dihindarinya itu, ia berkata: “Saya bersama shahabat-shahabatku telah sama sepakat atas suatu perkara, dan saya khawatir jika menyalahi mereka, takkan bertemu lagi dengan mereka untuk selama-lamanya.”
Dan kepada yang lain diberitahukannya bahwa ia meninggalkan dunia itu bukanlah disebabkan ketidak mampuan; ditadahkannya kedua tangannya ke langit, katanya; “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa kalau tidaklah karena takut kepada-Mu, tentulah kami akan ikut berdesakan dengan bangsa kami Quraisy memperebutkan dunia ini..
Benar…! Seandainya ia tidak takut kepada Allah, tentulah ia akan ikut merebut dunia dan tentulah ia akan berhasil. Tetapi ia tidak perlu berebutan, karena dunia datang sendiri kepadanya, merayunya dengan berbagai kesenangan dan daya perangsangnya….
Adakah lagi yang lebih menarik dari jabatan khalifah? Berkali-kali jabatan itu ditawarkan kepada Ibnu Umar, tetapi ia tetap menolak. Bahkan ia pernah diancam jika tak mau menerimanya, tetapi pendiriannya semakin teguh dan penolakannya semakin keras lagi…
Berceritakan Hasan Radhiyallahu ‘Anh:
“Tatkala Utsman bin Affan dibunuh orang, ummat mengatakan kepada Abdullah bin Umar: “Anda adalah seorang pemimpin, keluarlah, agar kami minta orang-orang bai’at pada Anda!’ Ujarnya: ‘Demi Allah,  seandainya dapat, janganlah ada walau setetes darah pun yang tertumpah disebabkan daku!’ Kata mereka pula: ‘Anda harus keluar! Kalau tidak akan kami bunuh di tempat tidurmu!’ Tetapi jawaban Ibnu Umar tidak berbeda dengan yang pertama. Demikianlah mereka membujuk dan mengancamnya, tetapi tak satu pun hasil yang mereka peroleh….!”
Dan setelah itu, ketika masa telah berganti masa dan fitnah telah menjadi-jadi, Ibnu Umar tetap merupakan satu-satunya harapan. Orang-orang mendesaknya agar sedia menerima jabatan khalifah dan mereka akan bai’at kepadanya, tetapi ia selalu menolak. Penolakan ini menyebabkan timbulnya masalah yang ditujukan kepada Ibnu Umar. Tetapi ia mempunyai logika dan alasan pula.
Sebagai dimaklumi setelah terbunuhnya Utsman Radhiyallahu ‘Anh keadaan tambah memburuk dan berlarut-larut yang akan membawa bencana dan malapetaka. Dan walaupun ia tidak mempunyai ambisi untuk jabatan khalifah tersebut, tetapi Ibnu Umar bersedia memikul tanggung jawab dan menanggung resikonya dengan syarat ia dipilih oleh seluruh Kaum Muslimin dengan kemauan sendiri tanpa dipaksa. Adapun jika bai’at itu dipaksakan oleh sebagian atas lainnya di bawah ancaman pedang, maka inilah yang tidak disetujui oleh Ibnu Umar, dan la menolak jabatan khalifah yang dicapai dengan cara seperti itu.
Dan ketika itu, syarat tersebut tidaklah mungkin. Bagaimanapun kebaikan Ibnu Umar dan kekompakan Kaum Muslimin dalam mencintai dan menghormatinya, tetapi luasnya daerah dan letaknya yang berjauhan, di samping pertikaian yang sedang berkecamuk di antara Kaum Muslimin, menyebabkan mereka terpecah-pecah kepada beberapa golongan yang saling berperang dan mengangkat senjata, maka suasana tidaklah memungkinkan tercapainya konsensus atau persesuaian yang diharapkan oleh Ibnu Umar itu.
Seorang laki-laki mendatanginya pada suatu hari, katanya: “Tak seorang pun yang lebih buruk perlakuannya terhadap ummat manusia daripadamu!”
“Kenapa?” ujar Ibnu Umar. ”Demi Allah, tak pernah saya menumpahkan darah mereka, tidak pula berpisah dengan jama’ah mereka apalagi memecah-belah kesatuan mereka!”
Kata laki-laki itu pula: “Andainya kamu mau, tak seorang pun yang akan menentang…!”
Jawab Ibnu Umar: “Saya tak suka kalau dalam hal ini seorang mengatakan setuju, sedang lainnya tidak!”
Bahkan setelah peristiwa berkembang sedemikian rupa, dan kedudukan Muawiyah telah kokoh, dan setelah itu beralih pula kepada puteranya Yazid…, lalu Muawiyah II putera Yazid setelah beberapa hari menduduki jabatan khalifah meninggalkannya karena tidak menyukainya. Sampai saat itu Ibnu Umar telah menjadi seorang tun berusia lanjut, ia masih menjadi harapan ummat untuk jabatan tersebut. Marwan datang kepadanya, katanya: “Ulurkanlah tangan Anda agar kami bai’at! Anda adalah pemimpin Islam dan putera dari pemimpinnya!”
Ujar Ibnu Umar: “Apa yang kita lakukan terhadap orang-orang masyriq?”
“Kita gempur mereka sampai mau bai’at!”
“Demi Allah,”ujar Ibnu Umar pula, “Saya tak sudi dalam umur saya yang tujuh puluh tahun ini, ada seorang manusia yang terbunuh disebabkan saya…
Marwan pun pergi berlalu sambil berdendang:
“Api fitnah berkobar sepeninggal Abu Laila,
Dan kerajaan akan berada di tangan yang kuat lagi perkasa.”
Yang dimaksud dengan Abu Laila ialah Muawiyah bin Yazid.
Penolakan untuk menggunakan kekerasan dan alat senjata inilah yang menyebabkan Ibnu Umar tak hendak campur tangan dan bersikap netral dalam kekalutan bersenjata yang terjadi di antara pengikut Ali dan penyokong Muawiyah dengan mengambil kalimat-kalimat berikut sebagai semboyan dan prinsipnya:
“Siapa yang berkata: ‘Marilah shalat!’ akan saya penuhi….
Dan siapa yang berkata: ‘Marilah menuju kebahagiaan!’ akan saya turuti pula….
Tetapi siapa yang mengatakan: ‘Marilah membunuh saudaramu seagama dan merampas hartanya!’ maka saya akan katakan tidak….”
Hanya dalam sikap netral dan tak hendak campur tangan ini, Ibnu Umar tak mau membiarkan kebathilan. Telah lama sekali Mu’awiyah yang ketika itu berada di puncak kejayaannya melakukan tindakan-tindakan yang menyakitkan dan membingungkannya, sampai-sampai Mu’awiyah mengancam akan membunuhnya. Padahal dia selalu bersemboyan: “Seandainya di antaraku dengan seseorang ada hubungan walau agak sebesar rambut, tidaklah ia akan putus…!”
Dan pada suatu hari Hajjaj’ tampil berpidato, katanya: “Ibnu Zubair telah merubah Kitabullah!”
Maka berserulah Ibnu Umar menentangnya: “Bohong bohong…., kamu bohong!“
Hajjaj yang selama ini ditakuti oleh siapa pun juga, merasa terpukul mendapat serangan tiba-tiba….Tetapi kemudian dia melanjutkan pembicaraan dengan mengancamnya akan memberi balasan yang seburuk-buruknya. Ibnu Umar mengacungkan tangannya ke muka Hajjaj, dan di hadapan orang-orang yang sama terpesona dijawabnya: “Jika ancamanmu itu kamu laksanakan, maka sungguh tak usah heran, kamu adalah seorang diktator yang biadab!” Tetapi bagaimana juga keras dan beraninya, sampai akhir hayatnya Ibnu Umar selalu ingin agar tidak terlibat dalam fitnah bersenjata itu dan menolak untuk berpihak kepada salah satu golongan….
Berkatalah Abul ‘Aliyah Al Barra:
“Pada suatu hari saya berjalan di belakang Ibnu Umar tanpa diketahuinya. Maka saya dengar ia berbicara kepada dirinya: ‘Mereka letakkan pedang-pedang mereka di atas pundak-pundak lainnya, mereka berbunuhan, lalu berkata: ‘Hai Abdullah bin Umar, ikutlah dan berikan bantuan.’ Sungguh sangat menyedihkan.”
la amat menyesal dan duka melihat darah Kaum Muslimin tertumpah oleh sesamanya. Dan sebagai kita baca dalam kata pengantar mengenai riwayatnya ini, “Tiadalah ia hendak mernbangunkan orang Muslimin yang sedang tertidur.”
Dan sekiranya ia mampu menghentikan peperangan dan menjaga darah tertumpah pastilah akan dilakukannya, tetapi suasana ternyata tidak mengidzinkan, oleh sebab itu dijauhinya.
Sebetulnya hati kecilnya berpihak kepada Ali Radhiyallahu ‘Anh, bahkan pada lahirnya Ibnu Umar yakin bahwa Ali Radhiyallahu ‘Anh di pihak yang benar, hingga diriwayatkan bahwa setelah ia menganalisa semua peristiwa dan situasi pada akhir hidupnya itu ia berkata: “Tiada sesuatu pun yang saya sesalkan karena tidak kuperoleh, kecuali suatu hal, aku sangat menyesal tidak mendampingi Ali dalam memerangi golongan pendurhaka…!”
Penolakannya berperang di pihak Ali yang sebenarnya mempertahankan haq dan berada di pihak yang benar, dilakukannya bukan dengan maksud hendak lari atau menyelamatkan diri, tetapi adalah karena tidak setuju dengan semua perselisihan dan fitnah itu, serta menghindari peperangan yang terjadi bukan di antara Muslim dengan musyrik, tetapi antara sesama Muslimin yang saling menerkam saudaranya….
Hal itu dijelaskannya dengan gamblang ketika ia ditanyai oleh Nafi’: “Hai Abu Abdurrahman, Anda adalah putera Umar dan shahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Anda adalah serta anda…! Tetapi apa yang menghalangi Anda bertindak?” maksudnya membela Ali. Maka ujarnya: “Sebabnya ialah karena Allah Ta’ala telah mengharamkan atasku menumpahkan darah Muslim! Firman-Nya ‘Azza wa Jalla:
“Perangilah mereka itu hingga tak ada lagi fitnah dan hingga orang-orang beragama itu semata ikhlas karena Allah.” (QS Al Baqarah: 193).
Nah, kita telah melakukan itu dan memerangi orang-orang musyrik, hingga agama itu semata bagi Allah! Tetapi sekarang apa tujuan kita berperang…? Saya telah mulai berperang semenjak berhala-berhala masih memenuhi Masjidil Haram dari pintu sampai ke sudut-sudutnya, hingga akhirnya semua itu dibasmi Allah dari bumi Arab…! Sekarang, apakah saya akan memerangi orang yang mengucapkan “Lah ilaaha illallaah”, tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah?”
Demikianlah logika dan alasan dari Ibnu Umar, dan demikianlah pula keyakinan dan pendiriannya! Jadi ia menghindari peperangan dan tak hendak turut mengambil bahagian padanya, bukanlah karena takut atau hal-hal negatif lainnya, tetapi adalah karena tak menyetujui perang saudara antara sesama ummat beriman, dan menentang tindakan seorang Muslim yang menghunus pedang terhadap Muslim lainnya.
Ibnu Umar menjalani usia lanjut dan mengalami saat-saat dibukakannya pintu keduniaan bagi Kaum Muslimin. Harta melimpah ruah, jabatan beraneka ragam dan kehendak serta keinginan berkobar-kobar. Tetapi kemampuan mentalnya yang luar biasa, telah merubah khasiat zamannya!
Masa yang penuh dengan segala macam keinginan, dengan fitnah dan harta benda itu, dirubahnyalah bagi dirinya menjadi suatu masa yang diliputi oleh zuhud dan keshalihan, kedamaian dan kesejahteraan yang dijalani oleh pribadi; tekun dan melindungkan diri ini dengan segala keyakinan, telah dibentuk dan ditempa oleh Agama Islam di masa-masa pertamanya yang gemilang dan tinggi menjulang itu, tidak tergoyahkan sedikit pun juga.
Dengan bermulanya masa Bani Umayah, corak kehidupan mengalami perubahan, suatu perubahan yang tak dapat dielakkan. Masa itu boleh disebut sebagai masa kelonggaran dalam segala hal, kelonggaran yang tidak Baja sesuai dengan keinginan keinginan pemerintah, tetapi juga dengan keinginan-keinginan pribadi dan golongan.
Dan di tengah badai rangsangan masa yang terpukau oleh kelonggaran-kelonggaran itu, oleh hasil perolehan dan kemegahannya, Ibnu Umar tetap bertahan dengan segala keutamaannya, tidak menghiraukan semuanya itu, dengan melanjutkan pengembangan jiwanya yang besar. Sungguh, ia telah berhasil menjaga tujuan mulia dari kehidupannya sebagai diharapkannya, hingga orang-orang yang semata dengannya melukiskannya sebagai berikut: “Ibnu Umar telah meninggal dunia, dan dalam keutamaan tak ubahnya ia dengan Umar.”
Bahkan ketika menyaksikan sifat dan akhlaqnya yang mengagumkan itu, mereka membandingkannya dengan Umar, yaitu bapaknya yang berpribadi besar, kata mereka: “Umar hidup di suatu masa di mana banyak tokoh-tokoh yang menjadi saingannya, tetapi Ibnu Umar hidup di suatu zaman, di mana tidak ditemui yang menjadi tolak bandingannya…!”
Perbandingan itu terlalu berlebihan, tetapi dapat dima’afkan terhadap orang seperti Ibnu Umar…. Adapun Umar, tak seorang pun dapat disejajarkan dengannya. Tak mungkin ada bandingannya di setiap masa dari kaum mana pun juga!
Suatu hari dari tahun 73 H…, ketika sang surya telah condong ke Barat hendak memasuki peraduannya, salah sebuah kapal keabadian telah mengangkat jangkar dan mulai berlayar, bertolak menuju Rafiqul A’la di alam barzakh, dengan membawa suatu sosok tubuh salah seorang tokoh teladan terakhir mewakili zaman wahyu di Mekah dan Madinah, yaitu jasad Abdullah bin Umar bin Khatthab.

Sunday, 22 September 2013

Hikmah Musibah

Kabar Gembira dari Aidh Qarni

Dr. Aidh Qarni seorang ulama di Saudi yang terkenal dengan bukunya “La Tahzan” menulis di ansarportsaid.net hari Sabtu 24 Agustus 2013 tentang bagaimana seorang muslim menyikapi kondisi Mesir saat ini. Berikut cuplikan tulisan beliau:
  
Ketika aku sedang menagis karena meratapi apa yang menimpa umat ini di seluruh dunia Islam, terutama di Mesir dan Suriah, ada seorang kawanku datang bertanya, “Kenapa kau bersedih?” Aku menjawab, “Aku bersedih karena agamaku sedang dalam kesulitan.” Diapun menjawab, “Islam adalah agama Allah swt. Dia sendiri yang akan menolongnya. Bukankah Allah swt. berfirman, "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." [Al-Mujadilah: 21].

Aku berkata, “Kalau begitu, aku menangis karena orang-orang yang dibunuh secara dhalim.” Dia pun menjawab, “Mereka telah berbahagia, in sya’a Allah, hidup dan mendapatkan rezeki di sisi Allah swt.”

Aku berkata, “Kalau begitu, aku menangis karena orang-orang yang terluka, tertawan dan tertindas.” Dia menjawab, “Segala musibah yang menimpa seorang muslim, hingga duri yang menusuknya, pasti akan menjadi penghapus dosa dan kesalahannya. Ujian dari Allah swt adalah kaffaratudz dzunub.”

Aku berkata, “Kalau begitu, aku menangis karena janda yang kehilangan suaminya, anak yatim yang kehilangan ayahnya.” Dia menjawab, “Allah swt. akan menolong mereka. Karena Allah swt. adalah penolong bagi orang-orang yang shalih.”

Aku berkata, “Kalau begitu aku menangis karena ibu yang kehilangan anak-anaknya, atau orang yang kehilangan orang-orang yang dikasihinya.” Dia menjawab, “Hanya orang yang sabar, yang pahalanya diberikan tanpa hitung-hitung.”

Aku berkata, “Aku bersedih karena ahli kebatilan berkuasa di bumi ini, mengalahkan ahli kebenaran.” Dia menjawab “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam; dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” [Ali Imran: 196-197].


Dia pun mengakhiri pembicaraan kita dengan sebuah nasihat, “Karena itulah tidak ada alasan kita menangis. Hapuslah airmatamu. Yakinilah janji Allah swt. Kalau Dia sudah berjanji, tidak ada yang akan bisa menghalangi-Nya. Perbaikilah dirimu sehingga menjadi orang yang layak termasuk dalam firman Allah swt. “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan yang baik (happy ending) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” [Al-Qashash: 83]. 

Friday, 14 June 2013

FIQH PUASA RAMADHAN

I. Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Ramadhan

Sebelum menjalankan ibadah Ramadhan, ada beberapa hal yang perlu dipahami. Di antaranya:

Puasa Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat. Hukumnya adalah fardhu (wajib) yang datang langsung dari Tuhan Pencipta, Allah Ta’ala.
Allah mensyari’atkan puasa dan berbagai ibadah Ramadhan sebagai salah satu program yang harus dilewati setiap Muslim dan Mukmin dalam pembentukan karakter taqwa meraka. (QS. Al-Baqarah : 183).
Ancaman keras bagi orang-orang beriman yang tidak melaksanakan ibadah Ramadhan, khususnya ibadah puasa seperti yang dijelaskan Rasul saw:
Ikatan dan basis agama islam itu ada tiga. Siapa yang meninggalkan salah satu darinya, maka ia telah kafir, halal darahnya: Syahadat Laa ilaaha illallah, sholat fardhu (5X sehari) dan puasa Ramadhan. (HR. Abu Ya’la dan Dailami).
Dalam hadits lain Rasul saw. bersabda :
Siapa berbuka satu hari dalam bulan Ramadhan tanpa ada ruhkshah (faktor vang membolehkan berbuka / dispensasi) dari Allah, maka tidak akan tergantikan kendati ia melaksanakan puasa sepanjang masa. (H.R. Abu Daud, Ibnu Majad dan Turmuzi).
Ramadhan memiliki aturan main yang perlu ditaati, agar proses dan pelaksanaan ibadahnya, khususnya puasa Ramadhan dapat berjalan dengan baik dan maksimal.

II. Hukum Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan hukumnya wajib atas setiap Muslim dan Muslimah yang sehat akalnya (tidak gila) dan telah mukallaf (umur remaja), tidak dalam keadaan musafir dan sakit. Khusus bagi wanita, tidak dalam keadaan haidh dan nitas.

Tentang wajibnya puasa, Allah menjelaskannya dalam surat Al-Baqarah : 183, “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atasmu sekalian puasa itu (shaum Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang hertaqwa“.

Dalam sebuah hadits dijelaskan, Rasul saw bersabda : “Sesungguhnya Islam itu dibangun di atas lima (dasar). Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan dan menunaikan haji.” (HR. Muslim)

Oleh sebab itu, Rasulullah saw mewanti-wanti umatnya agar sekali-kali jangan meninggalkan puasa Ramadhan tanpa alasan yang dibolehkan. Dalam salah satu haditsnya, Rasul saw bersabda : “Ikatan dan kaedah agama Islam itu ada tiga. Diatasnya dibangun Islam. Siapa meninggalkan salah satu darinya maka ia kafir, halal darahnya (karena sudah dihukumkan kepada orang murtad), syahadat La ilaalia illallah, sholat yang difardhukan dan puasa Ramadhan“. (HR Abu Ya’la dan Dailami)

III. Rukun Puasa

Setiap ibadah dalam Islam ada rukunnya agar ibadah itu bisa tegak dan berjalan dengan benar. Demikian juga dengan puasa Ramadhan. Rukunnya ada dua :

1. Niat.
Niat adalah faktor pertama yang akan menentukan sah atau tidaknya ibadah seseorang. Setiap amal ibadah, baik wajib maupun yang sunnah akan bernilai di mata Allah jika didasari dengan niat. Niatnya harus hanya karena Allah, tidak melenceng sedikitpun. Kemudian itu letaknya dalam hati, bukan dilafalkan (diucapkan dengan lisan), termasuk niat puasa Ramadhan harus dilakukan dalam hati. Waktunya sebelum terbit fajar.

2. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai mata hari tenggelam. (QS. Al-Baqarah : 187).

IV. Hal-Hal Yang membatalkan Puasa

Semua ibadah dalam Islam memerlukan syarat dan rukun agar ibadah tersebut sah dan bernilai di sisi Allah. Amal ibadah yang sudah sesuai syarat dan rukun tersebut bisa batal jika melanggar aturan atau terjadi hal-hal yang membatalkannya. Adapun yang membatalkan puasa terbagi dua. Pertama, hal-hal yang membatalkan puasa dan wajib diqadha (diganti di hari-hari setelah Ramadhan). Kedua, adalah yang membatalkan puasa dan wajib qadha dan kafarat (denda).

Adapun yang membatalkan puasa dan wajib qadha saja ialah:

1. Makan dan minum dengan sengaja. Rasul saw bersabda : Siapa yang berbuka (makan dan minum) di siang hari bulan Ramadhan karena lupa maka tidak perlu diqadha (diganti pada hari di luar Ramadhan), dan tidak pula kaferat (denda). (HR. Daru Quthni, Baihaqi dan Hakim).

2. Muntah dengan sengaja. Rasul saw berkata: Siapa yang terpaksa muntah maka tidak wajib baginya mengqadha (puasanya). Namun siapa muntak dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya). (HR. Ahmad, Abu Daud dan Titmizi)

3. Haidh/menstruasi dan nifas (melahirkan), kendati terjadi sesaat sebelum berbuka. Ini yang disepakati oleh jumhur Ulama.

4. Mengeluarkan sperma dengan sengaja baik dengan cara onani/masturbasi ataupun dengan pasangan/istri.

5. Memakan apa saja yang tidak lazim di makan, seperti plastik dan sebagainya.

6. Yang berniat membatalkan puasanya di siang hari. Dengan demikian dia sudah batal puasanya kendati dia tidak makan atau minum.

7. Jika dia makan, minum atau bercampur suami istri menduga waktu berbuka sudah masuk. Ternyata belum masuk. Dia wajib mengqadhanya.
Adapun yang membatalkan puasa dan harus diqadha dan kafarat menurut jumhur Ulama adalah berhubungan suami istri dengan sengaja. Tidak ada perbedaan antara suami dan istri, keduanya harus menjalankannya. Adapun kafarat bagi yang berhubungan suami istri ialah memerdekakan budak. Jika tidak sanggup, puasa 2 bulan berturut-turut. Jika tidak mampu memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang, seperti yang dijelaskan dalam salah satu hadits Rasul saw. yang diriwayatkan imam Bukhari.

V. Adab Melaksanakan Puasa

Sebagaimana semua ajaran Islam itu ada adab atau kode etiknya, maka puasa juga ada adabnya. Di antaranya :

1. Sahur (Makan Sahur). Bersabda Rasul saw: Bersahurlah kamu sekalian karena sahur itu ada berkahnya. (HR. Bukhari dan Muslim). Waktu sahur itu dari pertengahan malam sampai terbit fajar (saat waktu shalat subuh masuk). Tetapi diperlambat sampai mendekati terbit fajar lebih dianjurkan.

2. Menyegerakan berbuka, yakni setelah mengetahui waktu maghrib / tenggelam matahari maka segeralah berbuka. Bersabda Rasul saw: “Manusia senantiasa dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka“. (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Berdoa waktu berbuka dan sepanjang melaksanakan puasa. Dari Abdullah Bin Amr Bin Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Saw. berkata: “Sesungguhnya bagi orang yang sedang puasa saat berbuka doanya tidak ditolak“. (HR. Ibnu Majah) Dalam hadits lain Rasul bersabda : “Ada tiga doa yang tidak akan ditolak Allah; orang yang puasa sampai dia berbuka, imam (pemimpin) yang adil dan orang yang terzalimi (teraniaya)“. (HR. Tirmizi).

4. Menahan diri dari hai-hal yang bertentangan dengan puasa (menahan diri dari berbagai dorongan syahwat yang halal dan yang haram), karena puasa adalah salah satu cara taqarrub pada Allah yang amat mahal. Sebab itu tidak sepantasnya puasa hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, akan tetapi menahan semua apa saja yang akan mencederai nilai-nilai mulia yang ada dalam puasa.

5. Bersiwak dengan kayu siwak atau benda lain yang menyucikan mulut seperti sikat gigi.

6. Berjiwa dermawan dan mempelajari Al-Qur’an. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dia berkata : “Adalah Rasul saw orang yang paling dermawan. Namun, di bulan Ramadhan lebih dermawan lagi ketika bertemu Jibril. Beliu liqo (bertemu) Jibril setiap malam dari bulan Ramadhan, maka Beliau belajar Al-Qur’an dari Jibril. Maka Rasul saw dalam kedermawanannya lebih cepat dari angin kencang“. (HR. Bukhari)

7. Bersungguh-Sungguh Beribadah Pada 10 Hari Terakhir Ramadhan. Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata bahwa Nabi saw apabila masuk 10 hari terakhir Ramadhan Beliau menghidupkan sepanjang malam (dengan ibadah), membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya. (HR. Bukhari)

VI. Siapa Saja yang Dapat Dispensasi Berbuka, Tapi Wajib Membayar Fidyah (Denda)?

Kendati puasa itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah yang berakal dan sudah baligh (remaja), tetapi Allah memberikan keringanan kepada orang-orang yang termasuk ke dalam kategori berikut:

1. Orang-orang yang sudah tua renta.

2. Orang-orang sakit yang kecil kemungkinan dapat sembuh.

3. Para pekerja keras di pelabuhan, bangunan dan sebagainya yang tidak punya sumber kehidupan lain selain pekerjaan tersebut. Syaratnya ialah jika mereka puasa mereka akan mengalami kesulitan atau beban fisik yang sangat kuat sehingga menyulitkan mereka melaksanakan pekerjaan. Namun bagi yang kuat, maka puasa lebih baik.
Ketiga golongan / kategori tersebut mendapatkan dispensasi untuk tidak puasa di bulan Ramadhan. Akan tetapi. mereka wajib membayar fidyah (denda) sebanyak satu liter makanan / beras untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Makanan / beras tersebut diberikan kepada orang-orang miskin yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka.
Terkait wanita hamil dan menyusui, menurut imam Ahmad dan Syafi’i, jika mereka puasa itu berefek buruk terhadap janin dan anak mereka, maka mereka dapat dispensasi tidak puasa, tapi mereka harus mengqadhanya serta membayar fidyah. Namun, jika puasa itu hanya berimplikasi negatif terhadap diri mereka saja atau terhadap anak mereka saja, maka mereka hanya wajib mengqadhanya. Satu hal yang perlu dicatat ialah bahwa pengaruh negatif tersebut haruslah berdasarkan pendapat ahli kesehatan yang amanah secara keilmuan dan ketaqwaannya.

VII. Siapa Saja Yang Dapat Dispensasi Berbuka, Tapi Wajib Qadha’ (menggantinya dihari lain)?

Adapun golongan yang mendapat dispensasi puasa akan tetapi mereka harus membayar / mengqadha’ pada hari yang lain di luar bulan Ramadhan ialah orang yang sakit dan tidak kuat untuk menunaikan puasa dan juga yang sedang musafir/ perjalanan. Dalam sebuah hadits dijelaskan: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘atihu dia berkata : Dulu kami berperang bersama Rasul saw di bulan Ramadhan. Di antara kami ada yang puasa dan ada yang berbuka. Bagi yang puasa tidak mempengaruhi yang berbuka dan bagi yang berbuka tidak mempengaruhi yang puasa. Kemudian hagi yang melihat dirinya kuat menjalankan puasa dia lakukan dan itulah yang terbaik baginya dan bagi yang merasa dirinya lemah, maka ia berbuka, itulah yang terbaik baginya“. (HR. Ahmad dan Muslim)

VIII. Siapa Saja yang Wajib Berbuka dan Wajib Qadha’ atasnya?

Di samping dua kondisi di atas ada lagi kondisi lain terkait puasa Ramadhan, yakni orang-orang yang wajib berbuka dan wajib qadha’. Mereka adalah wanita Muslimah yang sedang menstruasi / haidh dan melahirkan. “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata : Kami saat haidh di masa Rasul saw diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat“. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tuesday, 11 June 2013

SOLAT DAN PEMBINAAN MENTAL

Saudara-saudara sesama Muslim!

Bayangkanlah seorang yang mendengar suara adzan lima kali sehari dan merasakan
bahwa sesuatu yang besar sedang dipersaksikan, dan bahwa kita semua diseru untuk
menghadap Maharaja yang sangat perkasa dan berkuasa. Seorang yang setiap kali
mendengar seruan ini meninggalkan semua pekerjaannya dan berlari menghadap Wujud
yang Maha Agung tersebut, yang dipandangnya sebagai Junjungannya serta Junjungan
seluruh alam semesta ini. Seorang yang setiap kali mau mengerjakan solat mensucikan
tubuh dan jiwanya dengan wudhu' dan mengerjakan perbuatan-perbuatan dalam solat dan
membaca bacaan-bacaannya dengan penuh pengartian. Bagaimana mungkin rasa takut
kepada Allah tidak akan timbul dalam hatinya, bagaimana ia tidak merasa malu
melanggar perintah-perintah Allah? Bagaimana mungkin jiwanya tidak akan gementar
setiap kali menghadap Allah, mengingat dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan yang
diperbuatnya? Bagaimana mungkin seorang yang mengatakan patuh dan menghamba
kepada Allah, dan percaya bahwa Dia adalah penguasa hari pengadilan, dalam
mengerjakan urusan dunianya ia berdusta,berlaku tidak jujur, merampas hak orang lain,
menyuap dan menerima suap, memberi dan mengambil riba, merugikan dan menyakitkan
hati sesama manusia, mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh dan
bertentangan dengan hukum, sedang ia masih pergi menghadap Tuhan berulang-ulang,
dengan membawa semua dosa-dosa ini dan tidak malu mengulang-ulangi pengakuannya
bahwa ia adalah hambaNya yang setia dan patuh? Duhai, bagaimana mungkin bahwa
setelah mengucapkan pernyataan "hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya
kepadaMu kami mohon pertolongan", tiga puluh enam kali di hadapan Allah dengan
penuh kesadaran, lalu pergi menyembah tuhan-tuhan lain di samping Allah dan
mengulurkan tangan memohon pertolongan kepada mereka? Apabila sekali kita telah
membuat pelanggaran setelah membuat pernyataan itu, maka di saat kita menghadap
Allah untuk kedua kalinya, hati nurani kita akan mencela dan marah, kita pasti akan
merasa malu. Celaan itu akan lebih keras pada pelanggaran yang kedua, dan hati kita
akan mengutuk kita dari dalam diri kita. Bagaimana boleh terjadi bahwa di sepanjang
hidup kita, kita terus menerus melakukan solat lima kali sehari, Tetapi akhlak kita
tetap bengkok, perbuatan-perbuatan kita tetap tidak benar, dan hidup kita tidak berubah
secara mendasar? Dengan alasan ini Allah menerangkan ciri solat yang benar, yakni,
"Sesungguhnya solat itu mencegah manusia dari perbuatan yang tidak senonoh dan
dari kejahatan". Maka bila ada orang yang tidak terpengaruh oleh proses pembersihan,
pem-baharuan dan penyegaran yang demikian kerasnya, maka itu adalah karena
perangainya yang buruk, bukan karena kesalahan solat itu. Bukan salah air dan sabun bila
orang tidak mau putih tetapi salah hitamnya jua.

Saudara-saudara!

Jadi ada kekurangan besar dalam solat kita. Dan kekurangan itu adalah bahwa kita
tidak memahami apa yang kita baca dalam solat kita. Tetapi bila kita mau
menyediakan waktu sedikit saja, kita tentu akan bisa mengingati arti bacaan-bacaan
dan do'a-do'a tersebut dalam bahasa yang kita fahami. Dan keuntungannya adalah kita
akan memahami apa yang kita baca dalam solat kita itu.

Saturday, 1 June 2013

APA YANG KITA BACA DALAM SOLAT?

Saudara-saudara sesama Muslim!

Dalam khutbah yang telah lalu, saya sudah menjelaskan bagaimana solat mempersiapkan
manusia untuk melaksanakan ‘ibadat kepada Allah, yakni penghambaan dan kepatuhan
kepadaNya. Apa yang telah saya katakan tentang dengan solat tentu telah dapat kita
fahami. Seandainya seseorang mengerjakan solat secara teratur dan sadar bahwa hal itu
adalah wajib dan merupakan perintah Allah, walaupun ia tidak mengerti arti bacaan-
bacaan solat itu, namun rasa takut kepada Allah dan percaya bahwa Allah ada di mana-
mana dan selalu melihatnya, serta yakin bahwa suatu hari nanti ia akan dihadapkan
kepada pengadilanNya, maka semua fakta-fakta tersebut akan selalu terpelihara di dalam
hatinya. Kepercayaan bahwa ia hanyalah budak kepada Allah, bukan budak dari siapa-
siapa selainNya dan bahwa hanya Allahlah Penguasa dan Raja yang sebenarnya, akan
selalu hidup dalam hatinya. Kebiasaan taat menjalankan kewajiban dan kesungguhan
untuk melaksanakan perintah-perintah Allah akan tumbuh dalam dirinya. Semua sifat-
sifat yang perlu untuk mengubah seluruh hidup manusia menjadi penghambaan dan
peribadatan kepada Allah akan secara automatik berkembang dalam dirinya.

Sekarang saya ingin menekankan fakta bahwa bila orang tersebut mengerjakan solat
dengan penuh pengertian akan artinya, dan pemahaman akan bacaan-bacaannya, maka
bayangkanlah betapa besar pengaruh yang akan ditimbulkannya terhadap fikiran-
fikirannya, kebiasaan dan wataknya, dan betapa jauh kekuatan imannya akan
berkembang, serta betapa hidupnya akan memiliki bentuk dan gaya yang baru.

ADZAN DAN PENGARUHNYA

Pertama-tama, marilah kita teliti masalah adzan. Selama sehari semalam kita diseru lima
kali dengan kata-kata berikut:

Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Allah maha Besar, Allah maha Besar.

Asyhadu anla ilaha illallah.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Asyhadu anna M.uhammadarrasulullah.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Hayya 'alas solah.
Mart mengerjakan solat.

Hayya 'alal falah.
Mari menuju kejayaan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

La ilaha illallah.
Tidak ada Tuhan selain Allah.

Lihatlah, betapa kuatnya panggilan ini! Betapa suara ini bergema lima kali sehari dan
mengingatkan kita bahwa "semua orang besar di dunia ini yang mendakwa diri sebagai
penguasa-penguasa adalah pembohong-pembohong belaka. Di seluruh langit dan bumi
hanya ada satu Wujud yang memiliki sifat kebesaran, dan hanya Dialah yang patut dipuja
dan disembah. Marilah kita menyembahNya. Dalam menyembahNya saja terletak
kejayaan kita di dunia dan di akhirat". Siapakah yang tidak akan tergugat hatinya
mendengar seruan-seruan ini? Bagaimana mungkin seseorang yang punya iman dalam
hatinya akan diam, acuh tidak acuh saja, mendengarkan seruan yang demikian perkasa,
dan tidak segera datang untuk bersujud di hadapan Allah?

WUDHU'

Ketika mendengar seruan adzan kita bangkit dari tempat duduk kita, dan pertama sekali
kita harus memeriksa apakah tubuh kita bersih atau tidak, apakah kita sudah
berwudhu' atau belum. Ini menunjukkan bahwa kita sadar bahwa pergi menghadap
Allah, Penguasa alam semesta adalah berbeda jauh sekali dengan urusan-urusan
keduniaan. Selain solat, semua pekerjaan-pekerjaan lain dapat dilakukan dengan keadaan
bagaimanapun juga. Tetapi untuk solat, adalah sangat tidak sopan untuk melakukannya
tanpa tubuh dan pakaian yang bersih, dan di atas semuanya, tanpa kesucian yang lebih
tinggi, yakni wudhu'. Dengan perasaan ini kita mulaMula memeriksa kebersihan badan
kita, lalu mengerjakan wudhu'. Apabila dalam berwudhu' itu kita mengingati Allah, dan
setelah selesai mengerjakannya kita membaca do'a yang diajarkan oleh Rasullullah saw,
maka tidak hanya badan kita saja yang bersih, Tetapi juga hati kita pun akan bersih
pula. Do'a tersebut ialah:

Asyhadu an-La ilaha illallahu wahdahu La syarika lahu waasyhadu anna muhammadan
'abduhuu wa rasuuluhu, allah-ummaj'alni minattawwabiina waj 'lni minal mutathahhirin.
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah sendiri, tidak ada sekutu bagiNya;
dan aku bersaksi bahwa Muham-mad adalah hamba dan UtusanNya. Ya Allah,
jadikanlah aku orang yang bertaobat dan jadikanlah aku orang yang suci".

TAKBIR

Setelah itu kita berdiri untuk melakukan solat dengan muka menghadap qiblat. Dalam
keadaan bersih dan rapi, kita berdiri di hadapan Penguasa alam semesta. Pertama-tama,
kita mengucapkan kata-kata:

Allahu Akbar.
"Allah Maha Besar".

Dengan pernyataan yang agung ini, kita mengangkat kedua tangan kita ke atas hingga
sampai ke telinga kita, seolah-olah kita melepaskan diri dari bumi dan semua yang ada
padanya. Lalu kita melipatkan tangan ke dada, hingga kita sekarang berdiri dengan
khidmat di hadapan Penguasa kita dengan tangan terlipat. Setelah itu kita memuji Allah
dengan kata-kata berikut:

TASBIH

Subhanakallahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka wa
ta 'ala jadduka wa la ilaaha ghairuk.
"Ya Allah, Maha Suci dan Maha terpujilah Engkau, Maha
Berkahlah NamaMu, Maha Tinggi KebesaranMu, dan tiada
Tuhan selain Engkau".

TA'AWWUDZ (BERLINDUNG KEPADA ALLAH)

A'udzubillahi minash shaithanirrajim.

"Aku berlindung kepada Allah dari gangguan dan kejahatan syaitan yang terkutuk".

BISMILLAH (DENGAN NAMA ALLAH)

Bismillahirrahmaniirahim.

"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang".

HAMD (PUJIAN BAGI ALLAH)

Alhamdu lillahi rabbil 'alamin. Arrahmanirrahim. Malikiyaumiddin. Iyyaka na'budu wa
iyyaka nasta 'in. Ihdinashshira-thal mustaqima. Shirathalladzina an'amta 'alaihim.
Ghairilmaghdhubi 'alaihim wa ladhdhallin.

"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pengasih,
Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya
Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah
kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.
(Iaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi ni'mat
kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan
bukan (pula jalan) mereka yang sesat".
(Al-Qur'an, al-Fatihah,1:2-7)

"Amin! Ya Allah kabulkan do'a kami ini".

Sesudah itu kita membaca beberapa ayat al-Qur'an, yang masing-masing mengandungi
kebijaksanaan dan memiliki keindahan sendiri. Ayat-ayat al-Qur'an mengandungi
pengajaran-pengajaran, peringatan-peringatan, dan pelajaran-pelajaran, serta pengarahan
bagi kita untuk menuju jalan yang benar yang kita mohonkan dalam surah al-Fatihah.

BEBERAPA SURAH AL-QUR'AN
1. Al-'Ashr

Wal'ashri. Innal insana lafi khusrin. Illalladzina amanu wa’amilush shalihati wa tawa
shaw bil haqqi watawa shaw bishabbri.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalam soleh dan nasehat menasehati
supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
(Al-Quran, al-Ashr, 103:1-3)

Surah ini mengajarkan kepada kita bahwa satu-satunya jalan bagi manusia untuk
selamat dari kehancuran dan kegagalan adalah iman dan amal saleh. Tetapi ini juga tidak
cukup. Harus ada kelompok orang-orang beriman dan yang saling tolong-menolong
dalam menjaga keutuhan din, dan dalam menegakkan din tersebut.

2. AI-Ma'un

Ara-aitalladzi yukadzdzibu biddin. Fadzalikalladzi yadu'-'ulyatim. Wa Ia yahudhdhu 'ala
tha'amil miskin. Fawailul lilmushallin. Alladzina hum 'an solatihim sahun. Alladzina
humyuraun. Wa yamna 'unal ma 'un.
"Tahukah kamu (orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang mengherdik anak
yatim, dan tidak memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang
yang solat, (iaitu) orang-orang yang lalai dari solatnya; orang-orang yang berbuat riya,
dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Al-Qur'an, al-Ma'un,107:1-7).

Surah ini mengajarkan kepada kita bahwa menolong anak-yatim dan orang miskin
adalah keperluan dari ajaran sosial Islam. Tanpa ini manusia secara sosial tidak akan
boleh bertemu dan menempuh jalan Allah yang lurus.

3. Humazah

Wailul li kulli humazatil lumazah, Alladzi jama 'a ma law wa 'addadah. Yahsabu anna
ma lahu akhladah. Kalla layunbadzanna fil huthamah. Wa ma adrakamal huthamah.
Narullahil muqadah, Allati taththali'u 'alal af'idah. Innaha 'alaihim mu 'shadah. Fi
'amadim mumaddadah.

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi
menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali
tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam huthamah. Dan
tahukah kamu apa huthamah itu? (iaitu) api(yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang
mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang".
(Al-Qur'an, al-Humazah, 104:1-9)

Pendeknya, surah yang mana pun dari al-Qur'an yang kita baca dalam solat akan
memberikan kepada kita suatu pengajaran atau bimbingan dan menunjukkan kepada
kita perintah-perintah Allah yang harus kita ikuti di dunia ini.

RUKU' (MEMBONGKOK)

Setelah membaca ayat-ayat yang berisi pengajaran itu kita mengucapkan Allahu Akbar,
dan melakukan ruku'. Dengan menempatkan kedua tangan kita pada lutut, kita
membongkok di hadapan Allah dan mengucapkan:

Subhaana rabbial azim.

"Maha Suci Penguasaku yang Maha Agung'.

Sebanyak tiga, lima atau tujuh kali.
Kemudian kita berdiri tegak lagi dan mengucapkan:

Sami allahu liman hamidah.

"Allah mendengarkan kepada orang yang memujiNya”.

SUJUD

Kemudian, dengan mengucap Allahu Akbar kita bersujud dan mengucapkan beberapa
kali:

Subhana rabbial a 'la

"Maha suci Tuhanku yang Tinggi dan Luhur"

AT-TAHIYYAT (PENGHORMATAN)

Kemudian kita mengangkat kepala dengan mengucapkan Allahu Akbar dan duduk
dengan khidmat lalu membaca:

Attahiyyatu lillahi washshalawatu waththayyihatu, assalamu'alaika ayyuhan-nabiyu wa
rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu 'alaina wa '-ala 'ibadullahishshalihin. Asyhadu
anla ilaaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu waRasuluh.

"Segala penghormatanku, do'a-do'a, dan semua hal yang baik adalah bagi Allah.
Semoga salam dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi, juga rahmat Allah dan berkahNya.
Semoga salam dilimpahkan kepada kami dan juga kepada semua hamba-hamba Allah
yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku juga bersaksi
bahwa Muhammad adalah Utusan Allah".

Sambil memberikan kesaksian ini, kita menaikkan telunjuk kita. Karena dalam solat,
hal ini merupakan pernyataan keimanan kita, dan perlu dilakukan untuk memberi
tekanan khusus dalam mengucapkan pernyataan iman kita itu. Setelah itu kita
membaca shalawat untuk Rasulullah saw.

SHALAWAT

Allahumma shalli ala Muhammadin wa 'ala ali Muhammadin kama shallaita 'ala
Ibrahima wa ala ali Ibrahima innaka hami-dum majid. Allahumma barik 'ala
Muhammadin wa 'ala ali Muhammadin kama barakta 'ala Ibrahima wa 'ala ali Ibrahima
innaka hamidum majid.

"Ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan kepada Muhammaddan keluarganya
sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada Ibrahim dan
keluarganya. Sungguh, engkau Maha Terpuji dan Maha Luhur. Ya Allah, limpahkanlah
berkah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah melimpahkan
berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sungguh engkau Maha Terpuji dan Maha
Luhur".

Setelah membaca shalawat ini kita berdo'a kepada Allah;

DO'A (PERMOHONAN)

Allahumma innii a 'uzu bika min azabi jahannam wa a 'uzubika min 'azabil qubri wa
a'uzu bika minfitnatilmasihiddaj-jal wa a 'uzu bika min fitnatil mahya wal mamati wa a
'uzubika minal maa-sini wal maghrim.

"Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari siksa jahannam, aku berlindung kepadaMu
dari siksa kubur, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan dajjal yang menyesatkan,
yang merajalela di dunia, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan dalam
hidup dan kematian. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari tanggungjawab perbuatan
dosa dan hutang budi".

SALAM (UCAPAN KESELAMATAN PADA WAKTU MENGAKHIRI SOLAT)

Setelah membaca do'a tersebut di atas, selesailah solat. Sekarang kita akan
mengundurkan diri dari hadapanNya, dan apakah hal pertama yang akan kita lakukan di
saat kita mau mengundurkan diri ini? Kita menolehkan kepala ke sebelah kanan dan
kiri dan memohonkan keselamatan dan rahmat bagi semua yang hadir dan juga bagi
seluruh makhluk:

Assalamu 'alaikum vwa rahmatullah

"Semoga keselamatan dan rahmat dilimpahkan Allah kepadamu".

Ini adalah seperti khabar baik yang kita bawa kepada dunia sekembali kita dari hadrat
Allah.

Yang tersebut di atas itu adalah solat yang kita lakukan diwaktu fajar di saat kita
bangun dari tidur sebelum kita memulakan pekerjaan sehari-hari kita. Kemudian
setelah sibuk selama beberapa jam dalam sesuatu pekerjaan, kembali kita datang ke
hadapan Allah pada tengah hari untuk melakukan solat lagi. Kira-kira tiga jam kemudian,
kembali kita solat lagi di petang hari. Setelah beristirehat dan atau bekerja lagi sampai
matahari terbenam, sekali lagi kita solat kembali. Dan akhirnya, setelah bebas dari
kesibukan dunia kita, maka sebelum kita tidur, kita menghadap ke hadrat Allah
kembali untuk yang terakhir kalinya. Apabila kita masih merasa kuat, kita mungkin
menambah solat yang terakhir ini dengan solat Witir, di mana pada rakaat yang terakhir
kita mengucapkan pernyataan ikatan yang teguh dengan Allah, yang disebut Du'a-i-
qunut. Qunut berarti pengakuan akan kerendahan diri, kehinaan dan penghambaan
terhadap Allah. Dengarkanlah kata-kata yang kita pakai dalam pernyataan itu.

Do'a-Qunut

Allahumma inna nasta'inuka wa nastaghfiruka wa nu'minu-bika wa natawakkalu 'alaika al
khaira wa nasykuruka wa lanakfuruka wa nakhla'u wanatruku manyyafjuruk.
Allahummaiyyaka na 'budu wa laka nushalli wa nasjudu wailaika nas 'a wa nahfidu wa
narju rahmataka wa nakhsya atabaka innaazabaka bil kuffari mulhiq,

"Ya Allah, kami meminta pertolongan kepadaMu dan memohon ampun kepadaMu, kami
beriman kepadaMu dan bertawakal kepadaMu serta memuji hanya kepadaMu. Kami
bersyukur kepadaMu dan tidak mengingkari ni'matMu. Kami akan memutuskan
hubungan dan meninggalkan orang yang membangkang kepada perintahMu, Ya Allah.
Ya Allah, hanya kepadaMu kami menghamba; kepadaMu kami mengerjakan solat dan
sujud; Engkaulah yang kami tuju, dan redhaMu lah yang kami cari. Kami mengharap
rahmatMu dan takut pada siksaanMu. Sungguh, siksaanMu yang pedih akan menimpa
mereka yang kafir.

Tuesday, 28 May 2013

SOLAT

Saudara-saudara sesama Muslim.

Dalam khutbah saya yang telah lalu saya telah menjelaskan kepada anda arti yang
sebenarnya dari 'ibadat. Saya telah menjanjikan untuk menerangkan bagaimana 'ibadat-
'ibadat yang wajib yang biasanya disebut Rukun Islam itu mempersiapkan manusia untuk
melaksanakan 'ibadat yang besar dan sebenarnya itu, yang menjadi tujuan diciptakannya
jin dan manusia. Di antara kelima 'ibadat wajib itu, yang paling besar dan paling penting
adalah solat. Dalam khutbah hari ini saya akan membahas masalah ini saja secara
singkat.


MAKNA KOMPREHENSIF DARI 'IBADAT

Kita semua telah tahu bahwa 'ibadat yang sebenarnya berarti penghambaan, dan
sebagai seorang hamba Allah, kita tidak boleh membebaskan diri dari melayani Allah
dalam waktu dan keadaan apa pun juga. Sebagaimana, halnya kita tidak boleh
mengatakan bahwa kita adalah hamba Allah untuk sekian jam atau sekian menit saja,
dan tidak menjadi hambaNya dalam waktu-waktu yang selebihnya. Maka, kita juga
tidak boleh mengatakan bahwa kita hanya wajib beribadat kepada Allah dalam jangka
waktu sekian, dan dalam waktu selebihnya kita bebas melakukan apa saja yang kita
sukai. Kita harus ingat bahwa kita adalah budak Allah sejak lahir. Allah menciptakan
kita dengan tujuan agar kita menjadi hambaNya saja. Karena itu seluruh hidup kita
haruslah kita habiskan dalam melayani Allah dan tidak boleh ada satu
saat pun di mana kita lengah dalam beribadat kepadaNya. Saya juga telah menjelaskan
bahwa 'ibadat tidaklah berarti melepaskan diri dari pekerjaan sehari-hari dan duduk di
sudut masjid sambil menyebut-nyebut nama Allah. Sebaliknya, arti 'ibadat yang
sebenarnya ialah bahwa apa pun yang kita kerjakan di dunia ini haruslah sesuai dengan
hukum dan aturan Allah. Tidur kita, bangun kita, makan dan minum kita, berjalan
kita pendeknya, setiap yang kita lakukan harus benar-benar menurut aturan yang telah
ditetapkan Allah. Apabila kita sedang berada di rumah bersama isteri dan anak-anak
kita, saudara-saudara dan sanak saudara kita, maka kita harus bersikap terhadap
mereka dengan cara yang ditetapkan Allah. Apabila kita berbincang-bincang dengan
teman-teman kita dan bersantai-santai, kita juga harus selalu ingat bahwa kita adalah
pelayan Allah, dan bukan orang bebas. Apabila kita pergi ke luar rumah mencari nafkah
dan berurusan dengan orang lain, maka juga harus selalu ingat ajaran-ajaran Allah dalam
setiap hal dan setiap pekerjaan, dan tidak boleh sekali-kali melangkahi batas-batas yang
telah ditentukanNya. Apabila di tengah kegelapan malam kita merasa bahwa kita
boleh melakukan dosa yang tidak boleh diketahui oleh seorang pun, maka kita harus
ingat bahwa Allah selalu melihat kita dan bahwa Allahlah yang harus ditakuti dan
bukannya manusia. Apabila kita berada seorang diri di hutan, di mana kita boleh
berbuat kejahatan tanpa diketahui oleh polisi atau disaksikan siapa pun, maka di situ
pun kita juga harus menghentikan niat jahat kita dengan mengingatii Allah dan
mengabaikan keuntungan apa pun yang mungkin kita perolehi dengan risiko kita akan
dibenci Allah.

Sebaliknya, apabila dengan mengikuti kebenaran dan kejujuran, kita melihat bahaya
kerugian yang besar, maka kita juga tidak boleh ragu-ragu dan takut menanggungnya,
karena dengan demikian Allah akan senang kepada kita. Jadi, mengasingkan diri dari
dunia ramai dan duduk di tempat yang sepi sambil menghitung-hitung tasbih sama sekali
bukanlah 'ibadat. Sebaliknya, bila kita melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan duniawi
dengan tetap mengikuti hukum-hukum dan aturan-aturan Allah, maka itu adalah 'ibadat.
Zikir atau mengingati Allah tidaklah berarti bahwa kita harus menyebut "Allah, Allah"
terus menerus, Tetapi mengingati Allah yang sebenarnya adalah ingat kepada Allah
dalam fikiran walaupun kita sedang terlibat dalam urusan-urusan yang sangat penting dan
mudah melalaikan kita dari ingat kepada Allah. Dalam kehidupan di dunia ini di mana
banyak kesempatan terbuka untuk melanggar hukum dan aturan Allah, di mana godaan-
godaan untuk memperolehi keuntungan yang besar datang bertubi-tubi dan ancaman
kehancuran dan kerugian berat mengepung dari segenap penjuru, kita harus selalu ingat
kepada Allah dan bertabah hati dalam mengikuti hukum dan aturanNya. Inilah zikir atau
mengingati Allah yang sebenamya. Al-Qur'an menyebutkan tentang zikir yang seperti ini
sebagai berikut:

"Apabila telah ditunaikan solat, maka bertebaranlah kamu, di muka bumi; dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung".
(Al-Qur'an, al-Jumu'ah, 62:10)

MANFAAT SOLAT

Ingat-ingatlah arti 'ibadat tersebut di atas dan fikirkanlah sifat-sifat bagaimana yang
diperlukan untuk melakukan 'ibadat yang begitu besar itu dan bagaimana solat dapat
menghasilkan sifat-sifat itu dalam diri manusia.

KESADARAN AKAN KEDUDUKAN SEBAGAI BUDAK

Yang pertama-tama diperlukan adalah membuat kita bena-benar merasa bahwa kita
adalah budak Allah, dan bahwa kita harus selalu melayani kehendakNya di setiap saat
dalam hidup kita dan dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Peringatan seperti ini
terus-menerus diperlukan, karena dalam diri manusia bersembunyi satu iblis yang selalu
mempengaruhinya dengan kata-kata: "Kamu adalah budakku". Dan di seluruh dunia ini
terdapat berjuta-juta iblis yang masing-masing mengatakan kepada setiap manusia:
"Kamu adalah budakku". Pengaruh iblis-iblis ini tidak dapat dihancurkan, kecuali bila
manusia setiap hari mengingatkan dirinya bahwa ia bukanlah budak iblis melainkan
budak Allah. Pekerjaan untuk mengingatkan manusia ini dilakukan oleh solat. Setiap
hari, begitu kita bangun di pagi hari, solat mengingatkan kita akan hal itu sebelum kita
mulai mengerjakan pekerjaan kita sehari-hari. Ketika kita sibuk mengerjakan pekerjaan
kita di siang hari, maka tiga kali kita diingatkan oleh solat. Dan ketika kita akan pergi
tidur, peringatan itu diulangi lagi untuk yang terakhir kalinya. Inilah faedah pertama dari
solat, dan berdasarkan hal ini, maka dalam al-Qur'an solat disebut sebagai "pengingat"
yakni pengingatan kepada Tuhan.

RASA BERKEWAJIBAN

Karena dalam setiap langkah dalam hidup kita, kita harus melaksanakan perintah Allah,
maka perlu dikembangkan di dalam diri kita kemampuan untuk mengenali apa yang
wajib(fardh), dan bersamaan dengan itu juga penanaman kebiasaan untuk melaksanakan
kewajiban dengan penuh gairah. Seseorang yang tidak tahu apa yang dinamakan wajib,
sama sekali tidak akan boleh diharapkan untuk mematuhi perintah. Demikian pula halnya
dengan orang yang tahu artinya Tetapi tidak berlatih untuk melaksanakannya, hingga
bahkan setelah tahu apa yang wajib dikerjakannya, ia tidak mempedulikan kewajiban itu.
Orang yang begini jelas tidak boleh diharapkan untuk melaksanakan tugas yang banyak
yang diberikan kepadanya selama dua puluh empat jam siang dan malam.

LATIHAN KEPATUHAN

Orang-orang yang pernah bertugas dalam ketenteraan atau kepolisian pasti tahu,
bagaimana di dalam kedua-dua tugasan ini mereka diajar untuk memahami dan berlatih
menjalankan kewajiban. Selama siang dan malam hari mereka mendengarkan suara
trompet. Perajurit-perajurit diperintahkan berkumpul di suatu tempat di mana mereka
disuruh melakukan perbarisan. Semua ini dilakukan untuk membiasakan mereka untuk
melaksanakan perintah-perintah. Mereka disaring sejak permulaan latihan dan dipecat
apabila terbukti bahwa mereka tidak sesuai untuk suatu tugas, karena malas atau tidak
berdisiplin. Sama halnya, trompet solat juga dibunyikan lima kali dalam sehari, dengan
tujuan agar perajurit-perajurit Allah dengan cepat berkumpul dari segenap penjuru, dan
membuktikan bahwa mereka siap mematuhi perintah-perintah Allah. Seorang Muslim
yang tidak bergerak dari tempatnya ketika mendengar suara adzan, sebenarnya
membuktikan bahwa ia tidak mengerti arti kewajiban, atau kalaupun ia mengerti, ia
adalah seorang yang betul-betul tolol dan tidak berguna, hingga tidak layak untuk
menjadi perajurit dalam tentera Allah.
Karena alasan tersebut di atas itulah, Rasulullah saw berkata. "Sungguh aku ingin sekali
pergi membakar rumah orang-orang yang tetap tinggal di rumah mereka setelah
mendengar suaraan adzan". Dan itu pula sebabnya, dalam sebuah hadis, solat telah
dijadikan garis pemisah antara kufr dan Islam. Pada masa hidup Rasulullah saw dan
Khulafa Ar-rashidin, seseorang tidak dianggap Muslim kecuali bila ia ikut serta solat
berjema’ah dengan penuh semangat, sehingga mereka yang bermalas-malas dicela
sebagai orang-orang munafik:

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah membalas tipuan
mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk mengerjakan solat mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya (dengan solat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka
menyebut Allah kecuali sedikit sekali".
(A\-Qura.n, an-Nisa', 4:142)

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa dalam Islam tidak ada tempat bagi seseorang
yang tidak mengerjakan solat. Karena Islam bukanlah semata-mata kepercayaan,
melainkan juga merupakan ajaran-ajaran yang praktikal. Dengan demikian seorang
Muslim harus mempraktikkan Islam dan memerangi kekufuran dan kejahatan setiap saat
dalam hidupnya. Untuk menjalankan kehidupan praktikal yang ketat seperti ini, seorang
Muslim harus selalu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.
Mereka yang tidak memiliki kesungguhan ini adalah sama sekali tidak berguna bagi
Islam. Itulah sebabnya solat telah diwajibkan lima kali dalam sehari, hingga mereka yang
mengaku Islam dapat diuji terus-menerus untuk mengetahui apakah mereka betul-betul
Islam dan gairah dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dalam kehidupan praktikal
mereka sehari-hari. Apabila mereka tidak beranjak dari tempatnya ketika mendengar
suara adzan, jelaslah bahwa mereka tidak siap untuk menjalankan kehidupan praktikal
secara Islam. Dengan demikian, iman mereka kepada Allah dan RasulNya tidaklah ada
gunanya. Inilah sebabnya maka dalam Qur'an dikatakan:

"Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu
sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk". (Al-Qur'an, al-Baqarah, 2:45)

artinya, solat itu hanya berat bagi mereka yang tidak bersedia untuk menjalankan
kepatuhan kepada Allah, dan seseorang yang merasa bahwa solat itu berat, ia telah
membuktikan bahwa dirinya tidak sesuai untuk menjadi hamba Allah.

MENIMBULKAN RASA TAKUT KEPADA ALLAH

Faktor ketiga adalah rasa takut yang harus dihidupkan terus menerus dalam hati.
Seseorang tidak akan dapat melaksanakan Islam, kecuali bila ia percaya bahwa Allah
selalu melihatnya setiap saat dan di setiap tempat, bahwa Allah selalu mengetahui per-
buatannya, bahwa Allah selalu melihatnya bahkan dalam kegelapan sekalipun, dan
bahwa Allah selalu menyertainya ketika ia bersendirian sekalipun. Adalah mungkin bagi
seseorang untuk bersembunyi dari seluruh manusia di dunia, Tetapi tidak mungkin untuk
menyembunyikan diri dari Allah. Orang boleh melepaskan diri dari hukuman manusia di
dunia ini, tetapi tidak mungkin ia boleh lepas dari hukuman Allah. Kepercayaan inilah
yang mencegah manusia dari melanggar larangan-larangan Allah. Dengan kekuatan
kepercayaan inilah ia dipaksa untuk menjaga diri agar tidak melanggar batas-batas halal
dan haram yang telah ditetapkan Allah bagi masalah-masalah kehidupan. Apabila
kepercayaan ini melemah, maka seorang Muslim tidak akan boleh menjalankan
kehidupan sebagai seorang Muslim dalam arti yang sebenarnya. Oleh karena itu, Allah
telah mewajibkan solat lima kali sehari-semalam untuk terus memperkuatkan
kepercayaan ini dalam hati orang yang beriman. Allah melukiskan faedah solat, dalam
KitabNya;

"...Sesungguhnya solat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar..."
(Al-Qur'an, al-Ankabut, 29:45)

Dengan sedikit pengartian saja kita sendiri akan boleh memahami alasan di belakang
proses ini, Sebagai contoh, solat dilakukan dalam keadaan bersih dan telah melakukan
wudhu'. Tetapi bila tubuh kita kotor dan kita belum membersihkan diri, atau bila
pakaian kita kotor dan kita belum menggantikan pakaian, atau bila kita belum
berwudhu', tetapi kita mengatakan bahwa kita sudah melakukannya, lalu kita
melaksanakan solat, siapakah yang akan tahu? Tetapi kita tidak pernah melakukan hal
itu. Mengapa? Karena kita yakin bahwa dosa kita itu tidak dapat disembunyikan dari
Allah. Demikian juga apabila bacaan-bacaan yang perlahan-lahan dalam solat tidak kita
baca sama sekali, tidak seorang pun yang akan tahu. Tetapi kita tidak pemah melakukan
hal itu. Mengapa? Karena kita percaya bahwa Allah Maha Mendengar dan lebih dekat
kepada kita aripada urat darah di leher kita sendiri. Sama halnya, kita melakukan solat
di mana pun kita berada, baik ketika kita berada di hutan sendirian ataupun di rumah,
walaupun tidak ada orang yang melihat kita bersolat, dan tidak pula ada orang yang tahu
bahwa kita belum solat. Tetapi kita melakukannya juga. Mengapa? Karena kita takut
melanggari perintah Allah walaupun secara rahsia, dan karena kita yakin bahwa kita
tidak mungkin boleh bersembunyi dari penglihatan Allah. Dari hal ini boleh difahami
bagaimana solat menanamkan dan menghidupkan dalam hati manusia rasa takut kepada
Allah dan kesadaran bahwa Ia ada di mana-mana, Maha Melihat dan Maha Tahu.
Bagaimana kita boleh melaksanakan 'ibadat dan menghambakan diri kepada Allah
selama dua puluh empat jam siang dan malam, bila rasa takut kepada Allah dan
kepercayaan bahwa Ia selalu melihat kita, tidak dihidupkan terus-menerus dalam hati
kita? Apabila dalam hati kita tidak ada perasaan takut kepada Allah dalam urusan hidup
kita setiap hari di dunia ini, bagaimana mungkin bagi kita untuk mengabdikan diri
kepada kebaikan dan menghindari kejahatan?

KESADARAN AKAN HUKUM ALLAH

Faktor keempat yang sangat perlu dalam beribadat adalah kita harus sadar akan Hukum
Allah sebab bila kita sama sekali tidak tahu tentang hukum, bagaimana kita akan boleh
mengikutinya?Faktor ini juga dipenuhi oleh solat. Ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca dalam
solat, dimaksudkan untuk membuat kita tetap mengetahui perintah-perintah dan Hukum
Allah. Khutbah Juma'at juga ditujukan agar kita semua mengetahui ajaran-ajaran Islam.
Salah satu keuntungan solat berjema’ah dan solat Juma'at adalah bahwa orang-orang
yang berilmu dan orang-oranng awam selalu berkumpul di satu tempat, dan dengan
demikian memberikan kesempatan kepada para jema’ah untuk mengetahui perintah-
perintah Allah. Malangnya, kita tidak berusaha untuk mengetahui arti bacaan-bacaan
yang kita baca dalam solat, Demikian pula terhadap khutbah-khutbah yang dibaca di
mimbar-mimbar Juma’at, sehingga kita langsung tidak memperolehi pengetahuan
tentang Islam daripadanya. Dan bila kita berkumpul untuk melakukan solat, orang-orang
yang berilmu di antara kita tidak mengajar apa-apa kepada orang-orang yang bodoh.
Sebaliknya, tidak pula orang-orang yang bodoh di antara kita meminta pengajaran
daripada mereka yang mengetahui. Solat menyediakan kesempatan bagi kita untuk
memperolehi semua keuntungan-keuntungan ini. Apabila kita tidak memperolehi
manfaat daripadanya, bukanlah solat yang harus disalahkan.

PRAKTIK KEBERSAMAAN

Yang kelima adalah seorang Muslim tidak boleh dibiarkan bersendirian saja dalam
kemelut hidup ini. Seluruh kaum Muslimin hams bersatu-padu dan berkumpul, bersama-
sama membentuk suatu masyarakat yang padat dan kuat, dan bekerja-sama saling tolong-
menolong dalam menegakkan sistem 'ibadat kepada Allah yakni dalam melaksanakan
perintah-perintahNya, dalam mengikuti hukum-hukumNya dan menyebarkannya ke
seluruh dunia. Kita tahu bahwa dalam kehidupan di dunia ini, di satu pihak ada orang-
orang Muslim, yakni hamba Allah yang patuh; dan di pihak yang lain terdapat orang-
orang kafir, iaitu orang-orang yang memberontak terhadap Allah. Antara kepatuhan dan
pemberontakan terhadap Allah terjadi pertentangan dan pertarungan yang terus-menerus.
Kaum pemberontak menghancurkan hukum-hukum Allah dan menggantikannya dengan
hukum-hukum syaitan, Apabila masing-masing orang Islam berdiri sendiri-sendiri, ia
tidak akan pernah menang dalam memerangi musuhMusuh Allah itu. Karena itu, perlulah
hamba-hamba Allah yang patuh bersatu-padu menghancurkan musuhMusuh Allah ini
dengan kekuatan persekutuan mereka, dan memastikan tertegaknya hukum Allah. Solat
adalah sarana yang paling ampuh untuk membina kekuatan.kolektif mereka ini. Solat
berjema’ah lima kali sehari, lalu jema’ah Juma'at seminggu sekali, kemudian solat
jema’ah raksasa pada dua hari raya, Aidil Fitri dan Aidil Adha, — semuanya ini bersama-
sama menjadikan ummat Islam bagaikan sebuah tembok yang kuat, dan menanamkan
dalam diri mereka persamaan tujuan, dan persatuan praktikal yang diperlukan untuk
menjadikan mereka tolong-menolong dalam kehidupan praktikal sehari-harian.

Monday, 27 May 2013

IBADAT

Saudara-saudara sesama Muslim.


Allah berfirman dalam Kitab SuciNya:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu".
(Al-Qur'an, adz-Dzariyat, 51:56).

Dari ayat ini jelas bahwa tujuan kita lahir dan hidup di dunia ini tiada lain hanya
beribadat kepada Allah. Nah, sekarang kita bisa menyadari betapa pentingnya bagi
kita untuk mengetahui arti 'ibadat apabila kita ingin memenuhi tujuan, untuk apa kita
diciptakan. Sesuatu yang tidak dapat mencapai tujuannya berarti gagal. Apabila seorang
doktor tidak bisa menyembuhkan penyakit pesakitnya, ia dikatakan gagal dalam
pekerjaannya. Apabila seorang petani tidak bisa menanam tanaman yang baik, ia
dikatakan gagal sebagai petani. Sama halnya, apabila kita tidak berhasil mencapai tujuan
hidup kita yang sebenarnya, yakni beribadat kepada Allah, maka berarti seluruh hidup
kita telah gagal. Oleh kerena itu saya mengharapkan kita semua mendengarkan dengan
penuh perhatian dan memahami arti kata 'ibadat dan menyimpannya baik-baik dalam
fikiran kita, karena keberhasilan atau kegagalan kita dalam hidup ini bergantung
padanya.

ARTI 'IBADAT

‘Ibadat berasal dari kata 'abd; artinya adalah "pelayan" dan 'budak". Jadi, 'ibadat berarti
"penghambaan" dan "perbudakan".

Apabila seseorang yang menjadi budak kepada orang lain, melayani tuannya
sebagaimana halnya seorang budak, dan bersikap terhadap orang itu sebagaimana
terhadap seorang tuan atau majikan, maka perbuatan seperti itu disebut penghambaan dan
'ibadat. Berlawanan dengan ini, apabila seseorang yang menjadi budak kepada orang lain
dan juga memperoleh gaji daripadanya, tetapi tidak mau melayaninya sebagaimana
seorang budak terhadap tuannya, maka ia dikatakan tidak patuh dan membangkang, atau
lebih tepat lagi, hal itu dapat dikatakan sebagai pengkhianatan.

Sekarang fikirkanlah bagaimana seharusnya tingkah laku seorang budak terhadap
tuannya.

Kewajiban pertama dari seorang budak adalah memandang tuannya sebagai penguasa
(lord), dan merasa berkewajiban untuk setia kepada orang yang menjadi tuannya,
penunjang hidupnya, pelindung dan penjaganya, dan meyakini sepenuhnya bahwa tidak
seorang pun selain tuannya itu yang layak mendapatkan kesetiaannya.

Kewajiban kedua dari seorang budak ialah selalu patuh pada tuannya, melaksanakan
perintah-perintahnya dengan cermat, jangan sekali-kali enggan melayaninya, dan tidak
mengatakan sesuatu pun atau mendengarkan perkataan dari siapa pun yang bertentangan
dengan kehendak tuannya. Seorang budak dalam setiap saat, situasi dan keadaan, adalah
tetap seorang budak. Ia sama sekali tidak mempunyai hak untuk mengatakan bahwa ia
akan mematuhi perintah tertentu dari tuannya dan membangkang perintah lainnya, atau
bahwa ia menjadi budak tuannya untuk waktu-waktu tertentu dan bebas dalam waktu-
waktu yang lain.

Kewajiban ketiga dari seorang budak adalah menghormati dan menghargai tuannya. Dia
harus mengikuti cara yang ditentukan oleh tuannya sebagai sikap hormat kepada tuannya.
Dia mestilah selalu hadir untuk memberi hormat pada waktu yang ditentukan oleh
tuannya sebagai bukti bahwa dia benar-benar setia dan patuh kepada tuannya.

Inilah hal-hal yang mutlak yang harus dipenuhi dalam 'ibadat,yaitu pertama, kesetiaan
terhadap tuan dan majikan; kedua, kepatuhan kepadanya; dan ketiga, penghormatan dan
penghargaan terhadapnya. Apa yang dikatakan Allah dalam ayat:
"Tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu".
Ini berarti bahwa tujuan Allah menciptakan kedua-dua jenis makhluk itu, adalah agar
mereka hanya setia kepada Allah saja dan tidak kepada yang lain, agar mereka hanya
mengikuti perintah-perintah Allah saja dan tidak mendengarkan perintah siapa pun
yang bertentangan dengan perintahNya dan menundukkan kepala dengan hormat dan
penghargaan hanya kepadaNya saja dan tidak kepada yang lain. Ketiga-tiga hal ini
telah dirumuskan Allah dalam satu istilah yang komprehensif, yaitu 'ibadat. Inilah yang
dimaksudkan dalam semua ayat di mana Allah memerintahkan agar manusia beribadat
kepadaNya. Intisari ajaran Rasul saw dan ajaran rasul-rasul lain yang diutus Allah
sebelumnya, adalah:

"...Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. (Al-Qur'an,Yusuf,
12:40)

Yang berarti bahwa hanya ada satu Penguasa yang berdaulat dan kita semua harus
setia, bahwa Penguasa itu adalah Allah; bahwa hanya ada satu hukum yang harus kita
patuhi, yaitu hukum Allah; dan bahwa hanya ada satu Zat yang harus disembah, yaitu
Allah.

AKIBAT PENGARTIAN YANG KELIRU TENTANG 'IBADAT

Jagalah makna 'ibadat tersebut di atas dalam fikiran kita dan jawablah pertanyaan-
pertanyaan saya yang berikut ini.

Apakah yang akan kita katakan mengenai seorang pelayan yang melaksanakan tugas-
tugas yang diberikan oleh tuannya, apabila ia hanya berdiri saja di sepanjang waktu di
hadapan tuannya dengan tangan memeluk tubuh dan terus-menerus menyebut nama
tuannya? Tuannya menyuruh agar ia pergi untuk mengambil suatu barang yang dirampas
oleh si Anu dan si Anu, tetapi ia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, malah
membongkok-bongkok di hadapan tuannya itu dan memberi hormat kepadanya sepuluh
kali, kemudian berdiri lagi dengan tangan memeluk tubuh. Tuannya menyuruh
membetulkan masalah-masalah dan memberantas kejahatan-kejahatan, tetapi ia sama
sekali tidak bergerak sejengkal pun dari tempatnya, malah bersujud di hadapannya.
Tuannya menyuruh: "Potonglah tangan pencuri-pencuri". Mendengar perintah ini, dengan
masih tetap berdiri di tempatnya, pelayan itu mengulangi perintah tuannya beberapa kali
dengan suara yang sangat merdu: "Potonglah tangan pencuri-pencuri, potonglah tangan
pencuri-pencuri", tetapi tidak sekalipun ia berusaha untuk mendirikan suatu sistem
pemerintahan di mana orang-orang yang mencuri dihukum dengan hukuman potong-
tangan. Dapatkah kita mengatakan bahwa pelayan yang seperti ini benar-benar
menjalankan tugasnya sebagai pelayan? Apabila pelayan-pelayan kita bersikap seperti
ini, saya tidak tahu apa yang kita katakan. Tetapi saya betul-betul merasa heran
bahwa, pelayan-pelayan Allah yang bersikap seperti ini, kita anggap sebagai hamba
Allah yang soleh! Orang yang tidak mempunyai perasaan seperti ini, membaca perintah-
perintah Allah dalam al-Qur'an entah beberapa kali sejak pagi hingga petang, tetapi tidak
pernah beranjak untuk melaksanakan perintah-perintah tersebut. Sebaliknya ia terus-
menerus melakukan 'ibadat sunat demi 'ibadat sunat, menyebut-nyebut nama Allah
dengan menghitung-hitung tasbih dan membaca al-Qur'an dengan suara yang merdu.
Apabila kita melihat orang seperti ini, kita berkata: "Alangkah solehnya orang itu!"
Kebodohan seperti ini timbul karena kita tidak tahu arti yang sebenarnya dari 'ibadat.

Ada lagi seorang pelayan yang lain, yang siang malamnya sibuk melaksanakan tugas-
tugas yang diperintahkan oleh orang-orang lain kepadanya. Ia mentaati perintah-perintah
mereka, dan melaksanakan hukum yang mereka buat, sementara itu ia terus-menerus
mengabaikan perintah-perintah dari tuan yang sebenarnya, dan hanya hadir di
hadapannya pada waktu penghormatan saja dan hanya suka menggoyang-goyangkan
lidah menyebut-nyebut nama tuannya saja. Apabila pelayan kita berbuat seperti ini,
apa yang akan kita lakukan terhadapnya? Tidakkah kita akan melemparkan kembali
penghormatan yang diberikannya kepada kita ke mukanya sendiri? Apabila ia menyebut
kita sebagai tuan dan paduka, tidakkah kita mengejek dan mencaci makinya dengan
kata-kata: "Kamu bohong dan penipu; kamu makan gaji dari saya tetapi perintah orang
lain yang kamu kerjakan. Di mulut, kamu mengakui saya sebagai tuanmu, tetapi
kenyataannya kamu mengerjakan perintah orang lain dan tidak pemah mengerjakan
perintah saya". Ini adalah suatu hal yang jelas dan terang, yang kita semua biasa
memahaminya. Akan tetapi alangkah mengherankan bahwa kita menganggap sebagai
'ibadat perbuatan-perbuatan seperti solat, puasa, zikir, membaca al-Qur'an, haji dan zakat
yang dilakukan oleh orang-orang yang siang malamnya melanggar aturan dan hukum
Allah, yang mengerjakan perintah-perintah orang-orang kafir dan musyrik, dan tidak
pernah mempedulikan perintah-perintah Allah dalam urusan-urusan hidup mereka.
Kebodohan ini juga terjadi karena kita tidak mengerti arti yang sebenarnya dari 'ibadat.

Ambillah contoh seorang pelayan yang lain. Pelayan ini memakai pakaian seragam yang
diberikan oleh tuannya dengan sangat rapi sekali. Ia datang menghadap tuannya dengan
sikap yang paling hormat. Ketika mendengar perintah tuannya, ia membongkok hormat
dan berkata: "Dengan sepenuh hati, saya akan mematuhi perintah tuan", dan memberikan
gambaran seolah-olah ia adalah pelayan yang paling setia. Pada waktu penghormatan, ia
berdiri paling depan dan melebihi orang-orang lain dalam menyebutkan nama tuannya.
Tetapi di lain pihak, pelayan ini mengabdi kepada pemberontak-pemberontak dan
musuhMusuh tuannya sendiri, ikut serta dalam permufakatan yang mereka adakan untuk
menentang tuannya dan bekerjasama dengan mereka dalam usaha untuk menghapuskan
nama tuannya dari muka bumi. Dalam kegelapan malam, ia melakukan pencurian di
rumah tuannya dan di pagi hari menghadap kepadanya seperti seorang pelayan yang
sangat setia. Apa yang akan kita katakan tentang pelayan-pelayan seperti ini? Munafik,
penghianat, dan pembcronak, demikianlah kira-kiranya. Tetapi sebutan apa yang kita
berikan kepada pelayan-pelayan Allah yang berbuat seperti ini? Kita sebut mereka,
ulama, pemimpin-pemimpin agama, kiyai-kiyai, haji, orang-orang soleh dan hamba-
hamba Allah yang taat? Ini disebabkan kita memandang mereka sebagai orang-orang
yang sangat soleh dan taqwa dengan hanya melihat janggut-janggut, serban dan kopiah
mereka, sarung yang mereka pakai dua inci di atas mata-kaki, bekas-bekas sujud pada
dahi mereka, solat mereka yang tidak putus-putus serta untaian biji-biji tasbih mereka
yang besar. Kebodohan ini juga timbul karena kita semua tidak memahami arti ibadat
dan kesolehan.

Kita mengira bahwa berdiri menghadap Qiblat dengan tangan yang diam,
membongkokkan badan dengan tangan diletakkan pada lutut, bersujud dengan tangan
diletakkan di tanah dan membaca beberapa kata-kata yang khusus dan tetap, hanya
beberapa gerakan dan ucapan saja sudah merupakan 'ibadah. Kita mengira bahwa
dengan lapar dan haus dari pagi sampai petang setiap hari dalam Bulan Ramadhan adalah
'ibadat. Kita mengira bahwa membaca beberapa bagian dari surah-surah al-Qur'an
tanpa memahami artinya adalah 'ibadat. Kita mengira bahwa kunjungan ke Makkah
dan berjalan mengelilingi Ka'bah adalah 'ibadat. Pendeknya, yang kita namakan 'ibadat
hanyalah segi-segi lahiriyah dari beberapa perbuatan, dan apabila kita lihat seseorang
mengerjakan perbuatan-perbuatan tersebut dalam bentuk lahirnya, lalu kita mengira
bahwa ia telah melaksanakan 'ibadat kepada Allah dan memenuhi tujuan ayat:

"Dan Aku tidak akan menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembahKu". (Al-Qur'an, adz-Dzariyat, 51:56).

Dan karenanya setelah itu ia bebas melakukan apa saja yang disukainya selama
hidupnya.

'IBADAT ADALAH  PENGHAMBAAN SEUMUR-HIDUP

Akan tetapi kenyataan yang sebenarnya ialah bahwa 'ibadat adalah untuk tujuan apa
kita semua diciptakan, dan yang telah diperintahkanNya kepada kita agar
dilaksanakan, adalah sama sekali berbeda. 'Ibadat yang sebenarnya ialah bahwa kita
mengikuti aturan dan hukum Tuhan dalam hidup kita, dalam setiap langkah dan setiap
keadaan, dan melepaskan diri kita dari ikatan setiap hukum yang bertentangan dengan
hukum Allah. Setiap gerakan yang kita lakukan haruslah selaras dengan garis-garis
yang telah ditentukan Allah bagi kita. Setiap tindakan kita harus sesuai dengan cara
yang telah ditentukan Allah. Dengan demikian, maka hidup kita yang kita tempuhi
dengan cara demikian inilah yang disebut 'ibadat. Dalam hidup yang demikian, maka
tidur kita, bangun kita, makan dan minum kita, bahkan berjalan dan berbicara kita,
semuanya adalah 'ibadat.
Demikian luasnya ruang lingkup 'ibadat ini hingga hubungan seks kita dengan isteri
kita dan ciuman kita kepada anak-anak kita juga adalah 'ibadat. Pekerjaan-pekerjaan-
kita yang umumnya kita sebut sebagai pekerjaan yang bersifat duniawi, sesungguhnya
semuanya adalah pekerjaan-pekerjaan keagamaan dan 'ibadat, asalkan dalam
mengerjakannya kita menjaga diri pada batas-batas yang telah ditentukan Allah, dan
dalam setiap langkah selalu memperhatikan apa yang diperbolehkan Allah dan apa yang
dilarangNya, apa yang halal dan apa yang haram, apa yang diwajibkan dan apa yang
dilarang, perbuatan dan tindakan apa yang membuat Allah suka kepada kita dan
perbuatan serta tindakan mana yang membuatNya tidak senang terhadap kita. Misalnya,
kita bekerja mencari nafkah. Dalam usaha kita ini, kita akan bertemu banyak
kesempatan untuk memperolehi wang haram dengan jalan yang mudah. Oleh karena
karena takut kepada Allah, kita tidak mau mengambil wang yang demikian dan hanya
mencari rezeki yang halal saja, maka waktu yang kita pergunakan untuk mencari
rezeki secara halal itu seluruhnya adalah terhitung sebagai 'ibadat. Dan hasil yang kita
bawa pulang ke rumah, kita makan bersama anak isteri serta mereka yang berhak untuk
memakannya seperti yang telah ditentukan Allah, maka untuk seluruh pekerjaan yang
kita lakukan itu, kita berhak memperolehi pahala dan rahmat Allah. Apabila di tengah
jalan kita menyangkirkan sebuah batu atau paku agar tidak mengenai orang-orang yang
lewat, maka ini juga termasuk 'ibadat. Apabila kita merawat orang sakit atau menuntun
seorang buta atau menolong orang yang sedang kesusahan, maka ini juga termasuk
'ibadat. Apabila ketika bercakap-cakap dengan seseorang, kita menghindar dari dusta,
mengata orang lain, memfitnah dan berbicara kasar serta menyanggung perasaan dan
karena takut kepada Allah, kita hanya mengatakan hal-hal yang benar saja, maka
seluruh waktu yang kita habiskan dengan berbicara secara jujur dan bersih itu akan
terhitung sebagai 'ibadat.

Jadi, 'ibadat yang sebenarnya kepada Allah ialah mengikuti hukum dan aturan-aturan
Allah dan menjalankan hidup yang sesuai dengan perintah-perintahNya sejak dari usia
aqil-baligh sehingga meninggal. 'Ibadat tidak mempunyai waktu-waktu tertentu. Ia harus
dilaksanakan sepanjang waktu. 'Ibadat juga tidak mempunyai satu bentuk yang khas.
Dalam setiap perbuatan dan setiap bentuk pekerjaan, 'ibadat kepada Allah harus
dilaksanakan. Karena kita tidak boleh mengatakan: "Saya hanya menjadi hamba Allah
pada waktu-waktu tertentu, dan tidak menjadi hambaNya pada waktu-waktu yang lain",
maka kita juga tidak boleh mengatakan bahwa pelayanan dan 'ibadat kepada Allah
hanya ditentukan pada waktu-waktu yang tertentu pula dan waktu-waktu yang lain tidak
diperuntukkan untuk itu.

Kita sekarang telah memahami arti 'ibadat dan kenyataan bahwa mengabdi kepada
Allah dan patuh kepadaNya sepanjang hayat dan dalam segala situasi dan keadaan adalah
'ibadat. Sekarang mungkin kita akan bertanya: "Kalau begitu, apakah hal-hal
seperti solat, puasa, haji dan sebagainya itu bukan 'ibadat? Jawabannya ialah: memang,
itu semua juga termasuk 'ibadat. Tetapi tujuan dari ibadat-ibadat seperti ini sebenarnya
adalah untuk mempersiapkan kita untuk melaksanakan 'ibadat besar yang harus kita
laksanakan selama hidup kita dalam segala situasi dan keadaan itu.

Solat mengingatkan kita, lima kali sehari, bahwa kita adalah seorang budak Allah dan
hanya kepadaNya kita harus mengabdi. Zakat menyadarkan kita setiap waktu akan
kenyataan bahwa uang yang kita peroleh adalah pemberian Allah. Janganlah kita
habiskan uang itu hanya untuk keperluan-keperluan jasmani kita saja, tetapi haruslah
kita berikan juga hak Allah. Haji membangkitkan kesan yang sedemikian rupa akan
cinta dan kebesaran Allah dalam hati orang yang melakukannya hingga sekali kesan ini
tertanam dalam hati, maka pengaruhnya tidak akan hilang seumur hidup. Apabila setelah
menjalankan semua 'ibadat ini seluruh hidup kita menjadi pencerminan 'ibadat kepada
Allah, maka tidak syak lagi solat kita adalah solat yang benar, puasa kita adalah puasa
yang benar, zakat kita adalah zakat yang benar, dan haji kita adalah haji yang benar.
Tetapi bila tujuan ini tidak tercapai, maka tidak ada gunanya melakukan ruku', sujud,
puasa, haji, dan zakat itu semua. Pekerjaan-pekerjaan lahiriah ini dapat diumpamakan
sebagai jasad, yang apabila mempunyai ruh dan bergerak serta melakukan pekerjaan, ia
merupakan manusia yang betul-betul hidup. Tetapi bila ia mati, maka ia tidak lebih
hanyalah seperti mayat. Mayat memang mempunyai segala sesuatu seperti kaki
dan tangan, hidung dan mata, tetapi tidak punya ruh. Oleh karena itu kita
menguburkannya dalam tanah. Demikian pula apabila peraturan-peraturan dalam solat
dijalankan, Tetapi rasa takut dan cinta kepada Allah tidak ada, maka ia juga akan menjadi
suatu pekerjaan yang tidak berjiwa dan sia-sia.

Dalam khutbah-khutbah saya yang akan datang saya akan menerangkan kepada kita
secara memdalam bagaimana semua 'ibadat wajib itu menjadi persiapan bagi manusia
untuk melaksanakan 'ibadat yang besar tadi. Saya juga akan menerangkan bahwa bila
kita melakukan 'ibadat-'ibadat itu semua dengan penuh pengartian dan coba untuk
memenuhi tujuan utamanya, maka 'ibadat-'ibadat itu akan membuahkan hasil dan
pengaruh yang besar dalam hidup kita.