Wednesday, 22 January 2014

Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana disekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu burung gagak, Ayah!” Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah,
“Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan????
Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan.
Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,
“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab,
“Burung gagak.”
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
“Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
“Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah.”
Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.

Friday, 10 January 2014

Kisah Ibnu Hajar dengan Seorang Yahudi

Ibnu Hajar rahimahullah dulu adalah seorang hakim besar Mesir di masanya. Beliau jika pergi ke tempat kerjanya berangkat dengan naik kereta yang ditarik oleh kuda-kuda atau keledai-keledai dalam sebuah arak-arakan.

Pada suatu hari beliau dengan keretanya melewati seorang yahudi Mesir. Si yahudi itu adalah seorang penjual minyak. Sebagaimana kebiasaan tukang minyak, si yahudi itu pakaiannya kotor. Melihat arak-arakan itu, si yahudi itu menghadang dan menghentikannya. Si yahudi itu berkata kepada Ibnu Hajar:

“Sesungguhnya Nabi kalian berkata:

” Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir. ” (HR. Muslim)

Namun kenapa engkau sebagai seorang beriman menjadi seorang hakim besar di Mesir, dalam arak-arakan yang mewah, dan dalam kenikmatan seperti ini. Sedang aku -yang kafir- dalam penderitaan dan kesengsaran seperti ini.”

Maka Ibnu Hajar menjawab:

 “Aku dengan keadaanku yang penuh dengan kemewahan dan kenikmatan dunia ini bila dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. Sedang penderitaan yang kau alami di dunia ini dibandingkan dengan yang adzab neraka itu seperti sebuah surga.”

Maka si yahudi itupun kemudian langsung mengucapkan syahadat: “Asyhadu anla ilaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammad rasulullah,” tanpa berpikir panjang langsung masuk Islam.

Subhanallah, sangat menakjubkan hadits Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah ini…

Bahan Renungan :

Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini :

“Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir.”

“Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat. Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.”(Syarah Shohih Muslim No. 5256)

Maka sepantasnya seorang mukmin bersabar atas hukum Allah dan ridha dengan yang ditetapkan dan ditaqdirkan oleh Allah. Semoga kita diberi taufik, kemudahan, dan al-afiat untuk menjalani kehidupan dunia ini. Amiin

Wednesday, 11 December 2013

Allah sudah menyiapkan rezeki kita

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala
penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah
kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. Al Mulk:15)

Ternyata, Allah telah memudahkan kita untuk mendapatka rezekinya. Allah telah
memberikan tuntunan dan motivasi kepada kita bahwa mencari rezeki itu tidak
sulit. Salah satu tuntunannya ialah kita harus ingat bahwa hanya kepada Allah
kita kembali setelah dibangkitkan. Artinya apa? Janganlah mencari harta menjadi
tujuan hidup yang utama bagi kita.

Jika kita menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kita, insya Allah kita akan
mudah mendapatkan rezeki, seperti yang difirman dalam ayat berikut:

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya
jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu. (QS Ath Thalaq:2-3)

Dengan ayat-ayat tersebut, diri kita akan terbebas dari kegelisahan akan rezeki.
Kita akan tetap berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperolehnya. Jika
Allah yang menjamin rezeki kita, kita tidak lagi perlu memohon dan meminta
kepada manusia atau makhluq lainnya. Kita hanya memohon kepada Allah yang
telah menjamin rezeki kita dan berusaha untuk menjemput rezeki tersebut.

Dunia ini sudah berlimpah dengan rezeki, kita tinggal menyebar dimuka bumi
untuk mengambil kelimpahan tersebut dan Allah telah memudahkannya. Lalu
mengapa terasa sulit? Bukan ayat ini yang salah, karena Al Quran tidak mungkin
salah, yang salah ada pada diri kita, mungkin kita kurang giat mencarinya atau
mungkin cara kita mencarinya masih salah. Atau jika kita sudah giat dan cara
sudah benar, Allah sengaja menangguhkannya untuk menguji kita. Tetapi kita
tidak pernah tahu, yang kita tahu adalah berdoa dan berusaha. Jika usaha kita
kurang giat, maka tambahkan. Jika usaha kita masih salah, belajarlah baik dari
pengalaman pribadi maupun pengalaman seseorang.

Monday, 9 December 2013

Kamu adalah umat yang terbaik

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara
mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang
fasik. (QS. Ali 'Imraan:110)

Allah SWT melalui Al Quran, menyatakan bahwa kita adalah umat yang terbaik.
Oleh karena itu kita tidak perlu merasa minder dari umat-umat lain, meskipun
saat ini umat lain cendrung lebih maju dari pada kita. Kita sebenarnya umat
terbaik, memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain, jika saat
ini umat yang lain relatif lebih maju, artinya kita belum mengoptimalkan segenap
potensi yang kita miliki.

Karena kita adalah umat yang terbaik, konsekuensinya kita harus menjadi
pemimpin yang mengarahkan kepada kebaikan, kita harus meminpin dalam
teknologi agar teknologi diarahkan untuk kebaikan. Kita harus memimpin
dibidang informasi, agar informasi digunakan untuk kebaikan. Kita harus
memimpin di bidang politik agar politik dimanfaatkan untuk kebaikan, dan kita
harus memimpin di berbagai bidang lainnya agar bisa digunakan untuk kebaikan.
Kebaikan bukan hanya hasil bicara, kebaikan akan lebih nyata jika merupakan
hasil kerja. Apa lagi hanya bicara kritik sana kritik sini seperti seorang calo,
banyak ngomong tetapi dia sendiri hanya diam saja. Kita harus bergerak,
bertindak, dan berbuat.

Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw.
bersabda, ‘Barang siapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah
ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaklah dengan
lisannya. Dan jika tidak mampu, maka hendaklah dengan hatinya. Ini merupakan
amalan iman paling lemah.’” (HR Imam dan Muslim)

Wednesday, 4 December 2013

Bagimu apa yang kamu usahakan

Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu
apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan
jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al Baqarah:134)

Mungkin orang tua kita hebat, mungkin pendahulu kita hebat, tetapi yeng lebih
penting ialah sehebat apa diri kita. Mungkin kita bisa menikmati apa yang sudah
diperoleh oleh para pendahulu kita, tetapi jika kita hanya menikmati dan
membangga-banggakan hasil pendahulu kita, itu tidak ada artinya, karena yang
hebat bukan diri kita, tetapi pendahulu kita.

Kita tidak akan mendapatkan apa-apa atas yang dilakukan oleh pendahulu kita.
Pahala mereka bagi mereka, kita tidak akan kebagian kecuali kita memanfaatkan
apa yang telah diperoleh oleh pendahulu kita untuk tujuan yang baik. Kita boleh
memanfaatkan yang sudah ada sebagai pijakan perjuangan selanjutnya. Islam
menginginkan perbaikan secara terus menerus. Kita tidak bisa mengandalkan
pada apa yang sudah dicapai oleh pendahulu kita.

Atau, jika pun pendahulu kita tidak baik. Itu bukan alasan kita untuk mengikuti
jejak mereka. Apa yang mereka lakukan untuk mereka. Sekarang tinggal apa
yang akan kita lakukan dan untuk diri kita sendiri. Kita tidak akan diminta
pertanggung jawaban atas apa yang diperlakukan oleh mereka. Jadi apapun
yang dilakukan oleh pendahulu kita, baik atau buruk, kita harus tetap bertindak
untuk diri kita.

Janganlah kamu berhati lemah

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu
menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan
(pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada
Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana. (QS. An Nisaa':104)

Meski ayat ini dalam konteks berperang, saya yakin, juga ditujukan untuk jihad-jihad
yang lainnya, termasuk saat kita harus bersaing dalam mencari nafkah buat
anak dan istri karena hal ini juga sebagian dari jihad. Kita tidak boleh berhati
lemah dalam bersaing, jika kita memiliki kelemahan pesaing juga sama, malah
kita memiliki kelebihan, yaitu “harap” atau raja’. Kita masih bisa berharap kepada
Allah, sementara orang-orang yang tidak beriman tidak. Mengapa harus takut?
Suatu hal yang ironis bukan, jutru dunia ini dikuasai oleh orang-orang yang tidak
beriman. Seharus kita umat Islam bisa menjadi umat yang memimpin, karena
kita punya Pelindung dan Penolong yang tempat kita berharap. Bukankah sudah
hafal Surat Al Ikhlas ayat ke 2?

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. Al
Ikhlas:2)

Thursday, 28 November 2013

Hikmah Kisah Nabi Yunus as

Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari,
ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orangorang
yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan
tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak
mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari
berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia
dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis
labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka
beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga
waktu yang tertentu. (QS Ash Shaafaat:139-148)

Ayat-ayat ini mengisahkan saat Nabi Yunus a.s. meninggalkan umatnya.
Kemudian beliau naik ke sebuah kapal yang penuh dengan muatan. Karena
sesuatu hal yang mengancam keselamatan kapal, maka diputuskan untuk
mengurangi penumpang dengan cara melempar sebagian penumpang ke laut.
Untuk menentukan siapa yang akan dilempar ke laut, maka diadakan undian dan
Nabi Yunus a.s. kalah dan harus dilempar ke laut. Kemalangan tidak sampai di
sana, di laut beliau ditelan oleh seekor ikan yang besar. Beliau berdoa di dalam
perut ikan sampai pertolongan Allah datang. Beliau dilemparkan ke suatu daerah
yang tandus dan dalam keadaan sakit.

Setelah mengalami berbagai kemalangan dan kesulitan tersebut, akhirnya
pertolongan Allah SWT datang. Mulai ditumbuhkannya pohon labu dan diterima
oleh umat yang beriman. Suatu kenikmatan yang diberikan Allah SWT kepada
orang-orang yang bershabar atas segala ujian yang dihadapinya.
Oleh karena itu hendaknya kita semua selalu berpikir positif. Selalu yakin bahwa
ada hikmah dari setiap kejadian atau kondisi yang kita alami saat ini. Suatu
kesulitan bukan berati kita akan sulit selamanya. Ada kebaikan dan kemudahan
setelahnya, insya Allah.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS.Alam Nasyrah:5-6)

Dan belum tentu pula kesulitan yang kita hadapi merupakan gambaran dan
kehinaan kita,

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata:
"Tuhanku menghinakanku" Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak
memuliakan anak yatim. (QS. Al fajr:16-17)

Kesempitan rezeki bukan indikasi yang menunjukan kehinaan dan kesia-siaan.
Apapun kejadian yang menimpa kita, apabila hati kita penuh dengan iman, maka
kita insya Allah akan selalu berhubungan dengan Allah SWT dan mengerti apa
yang ada di sana. Harga diri seseorang dalam timbangan Allah SWT bukan
ditentukan oleh nilai-nilai lahiriah.

Kesulitan dan kegagalan bukanlah diri kita. “kesalahan kita” dan “kita” adalah
berbeda. Kesalahan adalah kesalahan, diri kita adalah diri kita. Maksudnya jika
kita melakukan kesalahan, bukan berarti diri kita orang yang selalu salah, kita
hanya membuat kesalahan saja, yang masih bisa kita perbaiki. Jangan putus
asa, jangan berhenti, teruslah maju.