KEPADA PUTRA-PUTRA ISLAM YANG PENUH SEMANGAT
Kepada kelompok ini, yang berkepribadian mulia, yang berhati jernih, yang bercita-cita tinggi, yang berjiwa terhormat, yang cinta bekerja, dan menjadi tumpuan harapan, dimana seorang penyair telah putus asa mendapatkan orang semacamnya:
Telah sekian lama ‘ku bergaul dengan banyak orang
pengalaman demi pengalaman menempaku
tiada hari datang kepadaku
kecuali menyenangkan di jumpa-jumpa pertama
namun menyakitkan jua di akhirnya
kami katakan, “Kalian kini berada di hadapan seruan dakwah yang baru. Kaum muda menyeru kalian untuk bekerja bersama mereka dan bergaul dengannya untuk menuju suatu tujuan, yang ia adalah cita-cita setiap muslim dan harapan setiap mukmin. Adalah hakmu bertanya tentang sejauh mana persediaan sarana operasional jamaah. Dan kewajibanmu pula untuk mengetahui lebih dalam apa-apa yang diserukannya
kepadamu.
Saya merasa kagum akan kejujuran dan ketulusan mereka untuk bergabung dengan jamaah kita. mereka minta penjelasan terhadap setiap kata dan setiap ungkapan kepada saya. Mereka mengkonsultasikan setiap sarana yang dipergunakan, hingga jika sudah merasa puas, mereka segera menyampaikan pesan-pesannya dengan keyakinan yang bulat, jelas maksudnya, dan riil pula dampaknya. Mereka senantiasa bekerja
dengan kesungguhan yang penuh hingga saat ini, dan saya berharap akan terus begitu dengan izin Allah swt. Namun demikian, saya mempunyai beberapa catatan untuk mereka, antara lain:
Daripada mereka membuang waktu untuk berbagai pertanyaan ini, bukankah lebih baik jika bergabung saja dengan jamaah dan bekerja didalamnya? Jika mereka melihat kebaikan disana, itulah yang semestinya. Namun jika selain itu yang dilihat, maka jalan untuk keluar dan melepaskan diri darinya demikian jelas membentang, apalagi pintunya ada di dua tempat: tempat masuk dan tempat keluar.
Aktivitas jamaah begitu jelas, tidak ada yang tersembunyi dan tidak ada pula misterius. Dahulu ada cerita bahwa para ahli nahwu berselisih pendapat tentang jumlah bait Alfiyah (pelajaran nahwu yang dipuitisasikan ) Ibnu Malik. Perselisihan ini telah memancing perdebatan serius yang justru tidak mendatangkan manfaat apa pun, hingga akhirnya datanglah salah seorang tokoh mereka dengan membawa bukunya dan berkata, “Inilah dia, hitunglah dan sepakatlah.” maka dengan itulah perselisihan bisa diselesaikan. Inilah Jam’iyah Ikhwanul Muslimin, wahai sahabatku. Di setiap tempat, ia menyeru orang dan membuka pintunya lebar-lebar sembari berkata, “Marilah, jika anda lihat sesuatu yang menyenangkan hati, maka bergabunglah bersama dengan berkah Allah. Jika tidak melihat yang demikian, maka berkatalah sebagaimana yang dikatakan Basyar:
Jika suatu negeri mengingkari
Atau aku mengingkarinya
Aku pun segera keluar bersama burung-burung
Dan penduduknya
Tidakkah mereka tahu bahwa jamaah itu tiada lain adalah sekumpulan individu yang terikat? Jika setiap individu bertanya dengan pertanyaan “Maka di manakah jamaah itu sebenarnya?” ini adalah tipuan logika belaka yang-sayangnya-banyak diikuti orang. Jika anda ingin mengenalkan kursi misalnya, anda akan mengatakan bahwa ia adalah benda yang terdiri dari tiga unsur tempat duduk, sandaran dan empat buah kaku. Akan tetapi, tahukah bahwa definisi seperti ini sesungguhnya tidak benar dan menipu belaka? Kenapa demikian, karena apakah benda itu sesuatu yang ada di luar ketiga unsur tersebut? Jika anda pisahkan kursi itu dari kaki-kakinya, tempat duduk, dan sandarannya, apakah masih ada sebuah benda yang bisa diidentifikasi sebagai berwujud?
Demikian juga, orang banyak tertipu dalam memahami hakekat jamaah dan individu. Mereka mengira bahwa jamaah itu sesuatu sedangkan individu adalah sesuatu yang lain. Padahal jamaah itu tidak lain kecuali kumpulan dari individu-individu, dan individu-individu itu adalah komponen bangunan jamaah itu sendiri. Apabila komponen bercerai-berai dan setiap mereka bertanya dengan pertanyaa “Lalu di mana jamaah itu?”
siapa yang bertanya dan siapa yang ditanya? Kita sering memahami secara keliru seperti demikian ini disebabkan oleh kebiasaan kita bersikap kurang bertanggung jawab; kita menimpakan beban tanggung jawab hanya pada pundak seseorang. Berikutnya lahirlah sikap masa bodoh, tidak tahan uji menghadapi keadaan, dan tidak kunjungan melangkah lebih maju.
Kami serukan kepada para putra Islam yang memiliki semangat bahwa seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani. Maka haramlah hukumnya bagi orang semacam ini untuk tertinggal dari kafilah, meskipun sesaat. Dan tidakkah mereka memahami-semoga Allah memberinya dukungan-bahwa hendaknya mereka segera
bergabung dengan jamah ini. Jika mereka menjumpai bahwa jamaah ini adalah jamaah yang aktif sebagaimana mestinya, maka berbahagialah. Namun jika merka tidak menjumpai yang demikian itu, tunjukkan kepribadian dan kekuatan pengaruhnya untuk membangun apa-apa yang seharusnya ada. Kalau ternyata apa yang mereka upayakan tidak bisa diterima, mereka telah mendapatkan pemakluman dari tuhan dan dirinya. Apalagi jika orang-orang yang menyeru dakwah ini adalah kaum yang mengetahui bahwa diatas orang yang memiliki pengetahuan dan Dzat yang Mahatahu, dan bahwa setiap orang yang memiliki pendapat berhak menyampaikan pendapatnya. Lihatlah Rasulullah saw. Jika dibanding dengan manusia seluruhnya, pendapatnya adalah sebenar-benar pendapat dan pemikirannya adalah sematang-matang pemikiran, namun
ia mengambil juga pendapat Hubaib ra. Di perang Badar dan pendapat Salam di perang khandaq. Mereka tentu saja sangat bahagia, karena ada yang mengambil pendapatnya untuk suatu pekerjaan yang benar.
Tidakkah mereka mengetahui bahwa jika mereka telah mencoba sekali, dua kali, atau lebih dari itu, namun belum juga berhasil, janganlah putus asa. Mereka harus ‘memainkan bola’ terus-menerus sehingga menciptakan ‘gol’ pada saatnya. Jika mereka tergesa-gesa dan cepat putus asa, hilanglah kesempatannya untuk memperoleh keberuntungan itu.
Hal ini persis sebagaimana kisah seorang pemburu ikan. Suatu saat ia mendapat ikan yang besar. Lalu ia melihat di dasar air itu ada rumah karang yang disangkanya mutiara. Demi melihat itu, ditinggalkanlah ikan yang sudah di tangan untuk mengambil rumah karang. Ketika ia melihat dari dekat, menyesallah hatinya. Kemudian ia melihat ikan kecil membawa mutiara, namun ia tidak mengacuhkannya karena disangka rumah
karang. Akhirnya ia hanya mendapatkan ikan kecil, serta kehilangan ikan besar dan mutiara, sesuatu yang berlipat-lipat lebih berharga, atau seperti seekor itik di suatu danau. Ia melihat bayangan di dasar air yang disangkanya ikan. Ia berusaha menjulurkan paruhnya untuk mendapatkannya. Ia mematuknya berkali-kali hingga kecapaian lalu ditinggalkan dengan perasaan marah. Sejenak kemudian berlalulah ikan dihadapannya. Ia acuh tak acuh karena menganggapnya bayangan. Lalu ia pun meninggalkannya. Dengan begitu ia merugi dan kehilangan kesempatan berharga dan sirnalah pula harapannya.
Inilah beberapa catatan, yang perlu saya sampaikan kepada orang-orang yang ingin beraktivitas dalam Islam dari kalangan putra-putranya. Saya pikir ini patut direnungkan dalam-dalam. Kami serukan dakwah Ikhwanul Muslimin ini kepada mereka. Hendaklah mereka mencoba bergabung dengannya. Jika mereka mendapati kebaikan, dukunglah dan jika mendapati kebengkokan, luruskanlah. Jangan sampai percobaan mereka menjadi penghalang bagi kemajuan bersama. Saya berharap mereka menyaksikan pada diri Ikhwan pemandangan yang menentramkan hati-hati, insya Allah. Saya akan menyampaikan lagi sebagian keterangan pada kesempatan mendatang.
Wednesday, 20 August 2014
APAKAH KITA PARA AKTIVIS (2)
Monday, 18 August 2014
APAKAH KITA PARA AKTIVIS (1)
Kami telah menjawab pertanyaan “Kepada Apa Kita Menyeru Manusia?” yang dilontarkan oleh banyak orang berkali-kali, pada risalah yang lalu. Mereka senantiasa bertanya setiap diseru untuk mendukung jam’iyyah Ikhwanul Muslimin dengan pertanyaan: “Kepada apa jam’iyyah Ikhwanul Muslimin menyeru?” saya terpaksa menjawab dan menjelaskan dasar-dasar dakwah ini-pada risalah yang lalu-dengan jawaban yang kiranya dapat memenuhi hajat orang-orang yang bertanya tersebut, tanpa ada yang rancu lagi. Kalau tidak salah, saya telah memberi jawaban secara globaldengan membahas dasar-dasar dakwah ini-pada tulisan yang pertama, kemudian saya merincinya pada uraian selanjutnya. Dengan demikian, rasanya tidak ada lagi alasan bagi orang yang ingin mengenal hakekat dakwah Ikhwanul Muslimin, baik secara global maupun rinci, untuk mengatakan: tidak tahu!
Ada lagi pertanyaan yang tersisa, yang banyak dilontarkan orang ketika diajak memberikan dukungan kepada jamaah ini; yang beraktivitas siang dan malam tanpa mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari siapapun, kecuali dari Allah saw. Semata. Mereka tidak pula menyandarkan langkah-langkahnya kecuali kepada dukungan dan pertolongan-Nya, karena ‘tidak ada kemenangan kecuali dari sisi-Nya’. Pertanyaan tersebut, yang sering dilontarkan dengan nada sinis, adalah: Apakah jamaah ini merupakan jamaah aktif, dan anggotanya para aktivis? Orang yang bertanya ini adalah salah satu dari orang-orang dengan tipe berikut:
- Mungkin ia adalah sosok pengumbar hawa nafsu yang perangainya destruktif, yang ketika melontarkan pertanyaan ini tidak memiliki kepentingan kecuali untuk membuat kekacauan ditubuh jamaah dan prinsip pemikirannya, serta para pendukungnya yang tulus. Ia tidak menganut agama jika dengan itu tidak mendapatkan keuntungan pribadi. Ia tidak peduli dengan urusan orang lain, kecuali jika urusan itu memberikan kemanfaatan bagi dirinya.
- Mungkin ia pribadi yang lalai akan dirinya sendiri dan-begitu juga-terhadap orang lain. Ia tidak memiliki tujuan hidup, tidak memiliki prinsip pemikiran, dan tidak pula aqidah.
- Mungkin ia adalah sisik yang hobinya bersilat lidah dan melontarkan pertanyaan- pertanyaan yang indah indah agar dianggap oleh para pendengarnya sebagai orang ‘berisi’, meski kenyataannya ‘tong kosong berbunyi nyaring’ dengan perilakunya, ia ingin membersitkan kesan dibenak kalian bahwa dirinya adalah sosok pencinta amal. Ia senantiasa berusaha membersitkan kesan itu, namun tidak pernah menemukan jalan. Ia menyadari betul kebohongan dirinya dengan lontaran katakatanya itu, dan itu semua ia lakukan sekedar untuk menutupi kelemahan dirinya.
- Mungkin ia seorang yang tengah berupaya untuk melemahkan semangat orangorang yang menyeru dakwah, agar-dengan lemahnya semangat itu-ia punya alasan untuk menapik seruanya, untuk merespon secara dingin, dan akhirnya berpaling dari amal jama’i.
Golongan yang manapun dari mereka itu, jika anda menemuinya dijalan lalu anda jelaskan padanya manhaj amal yang produktif, anda tuntun mata-telinga, akal pikiran, dan tangannya menuju jalan yang benar, niscaya mereka akan berpaling juga dalam keadaan bingung, jiwanya guncang, bibirnya gemetar untuk mengucapkan kata-katanya, geraknya meragukan, dan diamnya pun tampak salah tingkah. Ia lalu menyampaikan
kata-kata ‘maafnya’ dan meminta kesempatan di waktu yang lain saja. Akhirnya, ia pun menghindar darimu dengan seribu satu alasan. Itu semua dilakukan setelah ia-dengan gigihnya-berdiskusi denganmu berlama-lama, dan setelah itu-engkau lihat, ia bahkan merintangi jalan dengan congkaknya.
Perumpamaan mereka itu seperti sepotong cerita bahwa ada seseorang yang dengan semangatnya menghunus pedang, tombak, dan senjata lainnya. Setiap malam ia pandangi senjata-senjata itu dengan gerakan geram karena tidak kunjung menemui musuhnya untuk bias menunjukkan keberanian dan kepahlawanannya. Suatu saat, istrinya ingin menguji kesungguhannya. Dibangunkanlah ia pada tengah malam sembari memanggilnya dengan nada meminta bantuan, “Bangunlah pak, kuda-kuda perang telah mendobrak pintu rumah kita.” Seketika ia terbangun dalam keadaan gemetaran dan wajahnya pucat pasi sambil bergumam ketakutan, “Kuda perang, kuda perang …” Hanya itu yang ia ucapkan, tidak lebih. Ia bahkan tuidak berusaha untuk membela diri. Tatkala waktu pagi tiba, hilanglah akal sehatnya karena ketakutan yang amat sangat dan terbanglah pula nyalinya, padahal ia belum terjun ke medan perang secara nyata dan
belum menjumpai seorang musuh pun. Seorang penyair bertutur:
Kalaupun seorang pengecut tinggal sendiri di bumi
Ia ‘kan menantang tombak dan peperangan
Allah swt. Berfirman :
“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang mereka mencaci kamu dengn lidah yang tajam., sedangkan mereka bakhil untuk berbuat kebaikan . mereka itu tidak beriman, maka
Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
(Al-Ahzab: 18-19)
Untuk orang-orang seperti ini kita tidak perlu memberi komentar. Kita tidak perlu menjawab mereka, kecuali dengan kata-kata, “Semoga keselamatan atas kalian dan kami tidak membutuhkan orang-orang jahil.” Bukan untuk mereka kita menulis dan bukan kepada mereka dan kita berbicara. Kita telah lama berharap kebaikan untuk mereka dan kita telah tertipu oleh mulut manisnya suatu waktu, lalu terbukalah kedok mereka dan terangkurlah apa yang ada di balik kata-katanya itu. Kita melihat beragam sosok dan kelompok mereka yang membuat hati ini semakin tidak cenderung kepadanya dan tidak sekali-kali akan menyerahkan urusan kepada mereka, meskipun sepele.
Ada lagi kelompok lain: sedikit jumlahnya, tetapi besar kesungguhannya; langka bilangannya, tetapi diberkati dan dilindungi oleh Allah. Mereka bertanya kepadamu dengan pertanyaan serupa ketika diajak untuk mendukung dan bergabung dengan jamaah ini, namun dengan hati yang tulus. Mereka adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi dengan kerinduan untuk berbuat, sehingga kalau saja mengetahui jalan untuk itu, mereka pasti terjun seketika. Mereka adalah para mujahid, namun tidak kunjung menjumpai medan jihad yang dapat membuktikan kepahlawananya. Mereka telah banyak berinteraksi dengan berbagai kelompok dan telah pula mengkaji berbagai lembaga dan organisasi dakwah, namun itdak menjumpai sesuatu yang memuaskan hatinya. Jika saja mereka menjumpai apa yang mereka inginkan di sana, mereka pasti
menempati posisi di barisan pertama dan menjadi bagian dari para aktivis yang tekun.
Kelompok ini telah hilang dan sedang dinanti kedatangannya. Saya yakin sepenuhnya, jika saja seruan ini terdengar olehnya dan sampai di hatinya, mereka pasti akan menjadi salah satu dari dua golongan: golongan aktivis atau-paling tidak-golongan simpatisan; dan tidak mungkin menjadi yang ketiga. Mereka, kalaupun tidak mendukung fikrah ini, tidak akan pernah sekali-kali menjadi musuhnya. Untuk kelompok inilah kita menulis, kepada merekalah kita berbicara, dan bersama merekalah kita saling memahami. Allah swt. Sendirilah yang memilih tentara-tentara-nya dan menyeleksi para aktivis dakwah-Nya.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Al-Qashash:56)
Mudah-mudahan kita sepakat akan apa-apa yang kita inginkan Allah swt. Berfirman dengan kebenaran dan hanya Dialah petunjuk jalan.
Ada lagi pertanyaan yang tersisa, yang banyak dilontarkan orang ketika diajak memberikan dukungan kepada jamaah ini; yang beraktivitas siang dan malam tanpa mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari siapapun, kecuali dari Allah saw. Semata. Mereka tidak pula menyandarkan langkah-langkahnya kecuali kepada dukungan dan pertolongan-Nya, karena ‘tidak ada kemenangan kecuali dari sisi-Nya’. Pertanyaan tersebut, yang sering dilontarkan dengan nada sinis, adalah: Apakah jamaah ini merupakan jamaah aktif, dan anggotanya para aktivis? Orang yang bertanya ini adalah salah satu dari orang-orang dengan tipe berikut:
- Mungkin ia adalah sosok pengumbar hawa nafsu yang perangainya destruktif, yang ketika melontarkan pertanyaan ini tidak memiliki kepentingan kecuali untuk membuat kekacauan ditubuh jamaah dan prinsip pemikirannya, serta para pendukungnya yang tulus. Ia tidak menganut agama jika dengan itu tidak mendapatkan keuntungan pribadi. Ia tidak peduli dengan urusan orang lain, kecuali jika urusan itu memberikan kemanfaatan bagi dirinya.
- Mungkin ia pribadi yang lalai akan dirinya sendiri dan-begitu juga-terhadap orang lain. Ia tidak memiliki tujuan hidup, tidak memiliki prinsip pemikiran, dan tidak pula aqidah.
- Mungkin ia adalah sisik yang hobinya bersilat lidah dan melontarkan pertanyaan- pertanyaan yang indah indah agar dianggap oleh para pendengarnya sebagai orang ‘berisi’, meski kenyataannya ‘tong kosong berbunyi nyaring’ dengan perilakunya, ia ingin membersitkan kesan dibenak kalian bahwa dirinya adalah sosok pencinta amal. Ia senantiasa berusaha membersitkan kesan itu, namun tidak pernah menemukan jalan. Ia menyadari betul kebohongan dirinya dengan lontaran katakatanya itu, dan itu semua ia lakukan sekedar untuk menutupi kelemahan dirinya.
- Mungkin ia seorang yang tengah berupaya untuk melemahkan semangat orangorang yang menyeru dakwah, agar-dengan lemahnya semangat itu-ia punya alasan untuk menapik seruanya, untuk merespon secara dingin, dan akhirnya berpaling dari amal jama’i.
Golongan yang manapun dari mereka itu, jika anda menemuinya dijalan lalu anda jelaskan padanya manhaj amal yang produktif, anda tuntun mata-telinga, akal pikiran, dan tangannya menuju jalan yang benar, niscaya mereka akan berpaling juga dalam keadaan bingung, jiwanya guncang, bibirnya gemetar untuk mengucapkan kata-katanya, geraknya meragukan, dan diamnya pun tampak salah tingkah. Ia lalu menyampaikan
kata-kata ‘maafnya’ dan meminta kesempatan di waktu yang lain saja. Akhirnya, ia pun menghindar darimu dengan seribu satu alasan. Itu semua dilakukan setelah ia-dengan gigihnya-berdiskusi denganmu berlama-lama, dan setelah itu-engkau lihat, ia bahkan merintangi jalan dengan congkaknya.
Perumpamaan mereka itu seperti sepotong cerita bahwa ada seseorang yang dengan semangatnya menghunus pedang, tombak, dan senjata lainnya. Setiap malam ia pandangi senjata-senjata itu dengan gerakan geram karena tidak kunjung menemui musuhnya untuk bias menunjukkan keberanian dan kepahlawanannya. Suatu saat, istrinya ingin menguji kesungguhannya. Dibangunkanlah ia pada tengah malam sembari memanggilnya dengan nada meminta bantuan, “Bangunlah pak, kuda-kuda perang telah mendobrak pintu rumah kita.” Seketika ia terbangun dalam keadaan gemetaran dan wajahnya pucat pasi sambil bergumam ketakutan, “Kuda perang, kuda perang …” Hanya itu yang ia ucapkan, tidak lebih. Ia bahkan tuidak berusaha untuk membela diri. Tatkala waktu pagi tiba, hilanglah akal sehatnya karena ketakutan yang amat sangat dan terbanglah pula nyalinya, padahal ia belum terjun ke medan perang secara nyata dan
belum menjumpai seorang musuh pun. Seorang penyair bertutur:
Kalaupun seorang pengecut tinggal sendiri di bumi
Ia ‘kan menantang tombak dan peperangan
Allah swt. Berfirman :
“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang mereka mencaci kamu dengn lidah yang tajam., sedangkan mereka bakhil untuk berbuat kebaikan . mereka itu tidak beriman, maka
Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
(Al-Ahzab: 18-19)
Untuk orang-orang seperti ini kita tidak perlu memberi komentar. Kita tidak perlu menjawab mereka, kecuali dengan kata-kata, “Semoga keselamatan atas kalian dan kami tidak membutuhkan orang-orang jahil.” Bukan untuk mereka kita menulis dan bukan kepada mereka dan kita berbicara. Kita telah lama berharap kebaikan untuk mereka dan kita telah tertipu oleh mulut manisnya suatu waktu, lalu terbukalah kedok mereka dan terangkurlah apa yang ada di balik kata-katanya itu. Kita melihat beragam sosok dan kelompok mereka yang membuat hati ini semakin tidak cenderung kepadanya dan tidak sekali-kali akan menyerahkan urusan kepada mereka, meskipun sepele.
Ada lagi kelompok lain: sedikit jumlahnya, tetapi besar kesungguhannya; langka bilangannya, tetapi diberkati dan dilindungi oleh Allah. Mereka bertanya kepadamu dengan pertanyaan serupa ketika diajak untuk mendukung dan bergabung dengan jamaah ini, namun dengan hati yang tulus. Mereka adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi dengan kerinduan untuk berbuat, sehingga kalau saja mengetahui jalan untuk itu, mereka pasti terjun seketika. Mereka adalah para mujahid, namun tidak kunjung menjumpai medan jihad yang dapat membuktikan kepahlawananya. Mereka telah banyak berinteraksi dengan berbagai kelompok dan telah pula mengkaji berbagai lembaga dan organisasi dakwah, namun itdak menjumpai sesuatu yang memuaskan hatinya. Jika saja mereka menjumpai apa yang mereka inginkan di sana, mereka pasti
menempati posisi di barisan pertama dan menjadi bagian dari para aktivis yang tekun.
Kelompok ini telah hilang dan sedang dinanti kedatangannya. Saya yakin sepenuhnya, jika saja seruan ini terdengar olehnya dan sampai di hatinya, mereka pasti akan menjadi salah satu dari dua golongan: golongan aktivis atau-paling tidak-golongan simpatisan; dan tidak mungkin menjadi yang ketiga. Mereka, kalaupun tidak mendukung fikrah ini, tidak akan pernah sekali-kali menjadi musuhnya. Untuk kelompok inilah kita menulis, kepada merekalah kita berbicara, dan bersama merekalah kita saling memahami. Allah swt. Sendirilah yang memilih tentara-tentara-nya dan menyeleksi para aktivis dakwah-Nya.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Al-Qashash:56)
Mudah-mudahan kita sepakat akan apa-apa yang kita inginkan Allah swt. Berfirman dengan kebenaran dan hanya Dialah petunjuk jalan.
Sunday, 17 August 2014
KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA (9)
JALAN PANJANG
Saya berharap bahwa kalimat-kalimat ini telah cukup menjelaskan tujuan dakwah Ikhwanul Muslimin,
dan sedikit banyak menerangkan jalan yang akan ditempuh oleh mereka dalam mencapai tujuan itu. Sebenarnya saya telah menjelaskan masalah ini kepada mereka yang masih menyimpan cinta dan ghirah terhadap Islam, dan bercita-cita untuk mengembalikan kejayaannya. Saya menerangkannya dalam sebuah tulisan yang berjudul, "Kepada Apa Kami Menyeru Manusia".
Mereka pun telah mendengarkannya dengan seksama, memahami makna dari kata demi kata, hingga akhirnya kami sama-sama sepakat dengan tujuan besar berikut metodenya yang efektif itu. Dan betapa dahsyat keterkejutan saya ketika saya melihat ada semacam kesepakatan umum di kalangan mereka bahwa "jalan ini amatlah panjang." Aliran-aliran pemikiran destruktif yang begitu kuat mencengkram negeri ini telah
melahirkan keputusasaan dalam jiwa umat. Agar para pembaca tidak perlu menemukan perasaan yang sama seperti yang dirasakan sebelumnya oleh mereka yang pernah berbicara tentang masalah ini, saya ingin
mengemukakan kalimat-kalimat sarat dengan harapan, penuh dengan keyakinan akan datangnya keberhasilan, insya Allah. Dan semua urusan itu ada di tangan Allah swt. Untuk itulah saya ingin membatasi tema ini dengan dua sudut pandang positif.
PERSPEKTIF FILSAFAT SOSIAL
Para pakar ilmu sosial menyatakan bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari. Pandangan itu dibenarkan oleh realitas dan dikuatkan dengan banyak alasan, Bahkan sesungguhnya kemajuan kemanusiaan dan perjalanannya menuju puncak kejayaan tersimpan dalam pandangan ini. Siapa yang dapat menyangka sebelumnya kalau para ilmuwan akan sampai pada penemuan-penemuan dahsyat seperti yang kita lihat sekarang? Para ilmuwan itu sendiri pada Mulanya bahkan tidak percaya, sampai akhirnya kenyataan membuat mereka yakin. Sebenarnya banyak contoh bisa dikemukakan untuk membuktikan itu. Namun pandangan ini telah menjadi aksioma dan karenanya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut.
PERSPEKTIF SEJARAH
Kebangunan semua bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan; sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan yang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi di balik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan, dan ketenangan dalam melangkah, telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan.
Siapakah yang bisa percaya sebelumnya, bahwa di tengah gurun pasir jazirah Arab yang gersang dan kering kerontang itu akan memancar seberkas cahaya kearifan, di mana dengan kekuatan spiritual dan kemampuan berpolitik putera-puteranya dapat menguasai semua kekuatan adidaya dunia? Siapakah yang percaya sebelumnya, bahwa lelaki lembut semacam Abu Bakar yang sering membingungkan rakyatnya karena sifat lembutnya itu, tiba-tiba saja mengirim pasukan untuk memerangi para pembangkang, pemberontak dan
kaum murtad, hingga akhirnya ia berhasil menyelamatkan Daulah Islamiyah dari ancaman perpecahan dan mengembalikan hak Allah dalam kewajiban zakat? Siapakah yang percaya sebelumnya, bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi yang berjuang dalam waktu yang lama, akhirnya dapat mengalahkan dan mengusir raja-raja Eropa, sekalipun jumlah mereka jauh lebih banyak. Bahkan sekalipun duapuluhlima raja dari duapuluhlima kerajaan bersatu menyerangnya?
Itu semua terjadi dalam sejarah lama. Dalam sejarah modern pun ada banyak fakta. Siapakah yang bisa percaya sebelumnya, bahwa raja Abdul Aziz Alu Su'ud dapat mengembalikan kerajaannya dan menjadi tumpuan harapan dunia Islam untuk mengembalikan persatuan dan kejayaannya, setelah sebelumnya keluarga dan kerajaan terampas? Siapakah yang dapat percaya sebelumnya, bahwa buruh Jerman yang bernama Hitler itu, suatu ketika dapat memiliki kekuatan dahsyat yang menggentarkan dunia?
ADAKAH JALAN LAIN?
Ada dua pandangan negatif yang juga melahirkan hasil seperti ini, serta menuntun hati mereka yang memiliki ghirah dengan kuat dan benar.
Pertama, bahwa sekalipun jalan ini sangat panjang dan berliku, tapi tak ada pilihan lain selain ini. Tidak ada jalan selain itu yang dapat ditempuh untuk membangun kejayaan umat dengan benar. Pengalaman telah membuktikan kebenaran anggapan ini..
Kedua, bahwa seorang pekerja pertama kali harus bekerja menunaikan kewajibannya, baru kemudian boleh mengharap hasil kerjanya. Jika ia telah bekerja, berarti ia telah menunaikan kewajiban, dan pasti kelak akan mendapat balasan dari Allah swt. Tak ada keraguan dalam hal ini, selagi syarat-syaratnya terpenuhi. Sedang masalah hasil, itu terserah kepada Allah swt. Boleh jadi peluang kemenangan itu datang tanpa terduga, sehingga ia memperoleh hasil yang sangat memuaskan dan penuh berkah. Sementara bila ia tidak bekerja, ia akan mendapat dosa karena tidak berbuat, ia juga akan kehilangan pahala jihad, dan tentu saja dia sama sekali tidak akan mendapatkan hasil di dunia. jadi, manakah di antara kedua golongan itu yang terbaik?
Al-Qur'an Suci telah menandaskan itu dengan jelas,
"Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa?". Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpalkan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik."
(Al-A'raf: 164-165)
Saya berharap bahwa kalimat-kalimat ini telah cukup menjelaskan tujuan dakwah Ikhwanul Muslimin,
dan sedikit banyak menerangkan jalan yang akan ditempuh oleh mereka dalam mencapai tujuan itu. Sebenarnya saya telah menjelaskan masalah ini kepada mereka yang masih menyimpan cinta dan ghirah terhadap Islam, dan bercita-cita untuk mengembalikan kejayaannya. Saya menerangkannya dalam sebuah tulisan yang berjudul, "Kepada Apa Kami Menyeru Manusia".
Mereka pun telah mendengarkannya dengan seksama, memahami makna dari kata demi kata, hingga akhirnya kami sama-sama sepakat dengan tujuan besar berikut metodenya yang efektif itu. Dan betapa dahsyat keterkejutan saya ketika saya melihat ada semacam kesepakatan umum di kalangan mereka bahwa "jalan ini amatlah panjang." Aliran-aliran pemikiran destruktif yang begitu kuat mencengkram negeri ini telah
melahirkan keputusasaan dalam jiwa umat. Agar para pembaca tidak perlu menemukan perasaan yang sama seperti yang dirasakan sebelumnya oleh mereka yang pernah berbicara tentang masalah ini, saya ingin
mengemukakan kalimat-kalimat sarat dengan harapan, penuh dengan keyakinan akan datangnya keberhasilan, insya Allah. Dan semua urusan itu ada di tangan Allah swt. Untuk itulah saya ingin membatasi tema ini dengan dua sudut pandang positif.
PERSPEKTIF FILSAFAT SOSIAL
Para pakar ilmu sosial menyatakan bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari. Pandangan itu dibenarkan oleh realitas dan dikuatkan dengan banyak alasan, Bahkan sesungguhnya kemajuan kemanusiaan dan perjalanannya menuju puncak kejayaan tersimpan dalam pandangan ini. Siapa yang dapat menyangka sebelumnya kalau para ilmuwan akan sampai pada penemuan-penemuan dahsyat seperti yang kita lihat sekarang? Para ilmuwan itu sendiri pada Mulanya bahkan tidak percaya, sampai akhirnya kenyataan membuat mereka yakin. Sebenarnya banyak contoh bisa dikemukakan untuk membuktikan itu. Namun pandangan ini telah menjadi aksioma dan karenanya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut.
PERSPEKTIF SEJARAH
Kebangunan semua bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan; sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan yang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi di balik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan, dan ketenangan dalam melangkah, telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan.
Siapakah yang bisa percaya sebelumnya, bahwa di tengah gurun pasir jazirah Arab yang gersang dan kering kerontang itu akan memancar seberkas cahaya kearifan, di mana dengan kekuatan spiritual dan kemampuan berpolitik putera-puteranya dapat menguasai semua kekuatan adidaya dunia? Siapakah yang percaya sebelumnya, bahwa lelaki lembut semacam Abu Bakar yang sering membingungkan rakyatnya karena sifat lembutnya itu, tiba-tiba saja mengirim pasukan untuk memerangi para pembangkang, pemberontak dan
kaum murtad, hingga akhirnya ia berhasil menyelamatkan Daulah Islamiyah dari ancaman perpecahan dan mengembalikan hak Allah dalam kewajiban zakat? Siapakah yang percaya sebelumnya, bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi yang berjuang dalam waktu yang lama, akhirnya dapat mengalahkan dan mengusir raja-raja Eropa, sekalipun jumlah mereka jauh lebih banyak. Bahkan sekalipun duapuluhlima raja dari duapuluhlima kerajaan bersatu menyerangnya?
Itu semua terjadi dalam sejarah lama. Dalam sejarah modern pun ada banyak fakta. Siapakah yang bisa percaya sebelumnya, bahwa raja Abdul Aziz Alu Su'ud dapat mengembalikan kerajaannya dan menjadi tumpuan harapan dunia Islam untuk mengembalikan persatuan dan kejayaannya, setelah sebelumnya keluarga dan kerajaan terampas? Siapakah yang dapat percaya sebelumnya, bahwa buruh Jerman yang bernama Hitler itu, suatu ketika dapat memiliki kekuatan dahsyat yang menggentarkan dunia?
ADAKAH JALAN LAIN?
Ada dua pandangan negatif yang juga melahirkan hasil seperti ini, serta menuntun hati mereka yang memiliki ghirah dengan kuat dan benar.
Pertama, bahwa sekalipun jalan ini sangat panjang dan berliku, tapi tak ada pilihan lain selain ini. Tidak ada jalan selain itu yang dapat ditempuh untuk membangun kejayaan umat dengan benar. Pengalaman telah membuktikan kebenaran anggapan ini..
Kedua, bahwa seorang pekerja pertama kali harus bekerja menunaikan kewajibannya, baru kemudian boleh mengharap hasil kerjanya. Jika ia telah bekerja, berarti ia telah menunaikan kewajiban, dan pasti kelak akan mendapat balasan dari Allah swt. Tak ada keraguan dalam hal ini, selagi syarat-syaratnya terpenuhi. Sedang masalah hasil, itu terserah kepada Allah swt. Boleh jadi peluang kemenangan itu datang tanpa terduga, sehingga ia memperoleh hasil yang sangat memuaskan dan penuh berkah. Sementara bila ia tidak bekerja, ia akan mendapat dosa karena tidak berbuat, ia juga akan kehilangan pahala jihad, dan tentu saja dia sama sekali tidak akan mendapatkan hasil di dunia. jadi, manakah di antara kedua golongan itu yang terbaik?
Al-Qur'an Suci telah menandaskan itu dengan jelas,
"Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa?". Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpalkan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik."
(Al-A'raf: 164-165)
Friday, 15 August 2014
KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA (8)
PERSAUDARAAN ITU MEMAKLUMKAN KEMANUSIAAN
Aqidah Islamiyah telah membuahkan dua hal yang pasti akan kita petik, dan karenanya harus aku jelaskan pada kalian tentang kelezatan dan kebaikan yang dibawanya.
Pertama, aqidah ini membuahkan gerakan pembebasan Islam yang tiada taranya sepanjang sejarah baik dalam hal tujuan, cara, manajemen gerakan, maupun hasil-hasilnya. Seorang pembebas Muslim bergerak membebaskan suatu negeri, tidak ada motivasi lain kecuali demi menegakkan kebenaran dan menerangi segenap sudut negeri itu dengan cahaya Al-Qur'an. Ketika jiwa-jiwa penduduk negeri itu telah diterangi oleh cahaya petunjuk Ilahi, maka lenyaplah segenap perbedaan dan lenyap pula segala kezaliman. yang tinggal
hanyalah keadilan, cinta kasih, dan persaudaraan. Tak ada lagi istilah "pembebas yang menang" dan "musuh yang kalah". Mereka semua telah menjadi saudara, saling mengasihi dan saling mencintai. Dalam pada itu, ide kebangsaan tak lagi relevan, lebur meleleh bagai salju tertimpa teriknya sinar mentari. Sebelum ia menyerang siapa pun yang hendak diserang, mengalahkan siapa pun yang hendak dikalahkan, sesungguhnya sang Pembebas Muslim telah menjual diri dan keluarganya kepada Allah, melepas semua bentuk fanatisme kebangsaan dengan segenap atributnya. Mereka tak lagi berperang dan menang demi kebangsaan dan nasionalisme. Mereka melakukan itu setulusnya untuk Allah semata. Allah, Dzat yang tidak ada sekutu
bagi-Nya. Sebuah riwayat tentang puncak keikhlasan dan kebersihan diri dari hawa nafsu tertera dengan indah dalam sebuah sabda Rasulullah saw. berikut ini,
Seorang lelaki datang dan berkata kepada Rasulullah saw., "wahai Rasul Allah, sesungguhnya aku suka berjihad di jalan Allah dan aku senang bila orang lain melihat sepak terjangku," Rasulullah saw terdiam dan tidak menjawab, hingga turunlah firman Allah swt.,
"Barangsiapaa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (AlKahfi: 110)
Lihatlah, bagaimana Islam menempatkan obsesi seseorang kepada pujian dan sanjungan - yang sebenarnya merupakan tabiat jiwa manusia- sebagai syirik kecil yang harus ia bersihkan, untuk kemudian menggantinya dengan cita-cita luhur nan agung? Adakah keikhlasan yang melebihi saat di mana seseorang melupakan segala kepentingan dirinya demi tercapainya cita-cita perjuangan? Apakah anda mengira bahwa seseorang -
yang oleh agamanya diwajibkan untuk membersihkan dirinya dari segenap hawa nafsu, menekan semua emosi dan kecendrungannya, agar jihadnya sepenuhnya hanya untuk Allah- masih akan berpikir untuk berjihad demi kebangsaan dan nasionalisme? Demi Allah, tidak. Tidak akan pernah.
Orang-orang dikalahkan oleh mereka (para pembebas muslim), yang telah ditakdirkan untuk berbahagia dengan Islam dan selamat dengan tuntunannya, sama sekali tidak membiarkan sang pembebas menguasai negerinya dan merampas semua kekayaannya. Tapi ia membiarkan apa yang ia biarkan karena ia telah membaurkan jiwanya dengan jiwa Sang Pembebas, sembari sama-sama berseru, "Hakku adalah hakmu, kewajibanku adalah kewajibanmu. Hanya Kitab Allah yang berhak menjadi hakim di antara kita." Maka mereka melebur bersama untuk menggapai cita-cita yang sama, dan berkorban demi memperjuangkan agama yang sama. Mereka membiarkan apa yang mereka biarkan agar cahaya Allah menerangi segenap kemanusiaan, agar mentari AlQur'an Suci memenuhi segenap ruang kehidupan ini. Hanya dengan cara ini, Manusia dapat menemukan semua kebahagiaan, kesempurnaan, dan kemajuan, kalau saja mereka mau mengetahui.
TAPAL BATAS NEGERI ISLAM
Adapun buah kedua adalah, bahwa persaudaraan Islam telah menjadikan setiap muslim percaya bahwa setiap jengkal tanah di mana di situ ada manusia yang memeluk agama Al-Qur'an Suci, maka jengkal tanah itu adalah bagian dari tanah air Islam. Karenanya Islam mewajibkan setiap mereka bekerja untuk melindunginya dan berupaya membahagiakan warganya. itulah tapal batas negeri Islam, Tapal batas yang terlepas dari sekat-sekat geografis dari apa yang disebut tanah tumpah darah. Negeri Islam itu adalah sebentuk kedaulatan ideologi agung dan agama suci; ia merupakan sekumpulan hakikat yang dijadikan Allah sebagai petunjuk dan cahaya bagi dunia ini. Dan ketika Islam menanamkan makna dalam diri putera-puteranya, ia segera. pula menurunkan sebuah kewajiban menjaga dan melindungi setiap jengkal tanah Islam dari berbagai bentuk agresi, membebaskannya dari cengkraman penjajah, dan menjaganya dari ambisi keserakahan para imperialis.
Aqidah Islamiyah telah membuahkan dua hal yang pasti akan kita petik, dan karenanya harus aku jelaskan pada kalian tentang kelezatan dan kebaikan yang dibawanya.
Pertama, aqidah ini membuahkan gerakan pembebasan Islam yang tiada taranya sepanjang sejarah baik dalam hal tujuan, cara, manajemen gerakan, maupun hasil-hasilnya. Seorang pembebas Muslim bergerak membebaskan suatu negeri, tidak ada motivasi lain kecuali demi menegakkan kebenaran dan menerangi segenap sudut negeri itu dengan cahaya Al-Qur'an. Ketika jiwa-jiwa penduduk negeri itu telah diterangi oleh cahaya petunjuk Ilahi, maka lenyaplah segenap perbedaan dan lenyap pula segala kezaliman. yang tinggal
hanyalah keadilan, cinta kasih, dan persaudaraan. Tak ada lagi istilah "pembebas yang menang" dan "musuh yang kalah". Mereka semua telah menjadi saudara, saling mengasihi dan saling mencintai. Dalam pada itu, ide kebangsaan tak lagi relevan, lebur meleleh bagai salju tertimpa teriknya sinar mentari. Sebelum ia menyerang siapa pun yang hendak diserang, mengalahkan siapa pun yang hendak dikalahkan, sesungguhnya sang Pembebas Muslim telah menjual diri dan keluarganya kepada Allah, melepas semua bentuk fanatisme kebangsaan dengan segenap atributnya. Mereka tak lagi berperang dan menang demi kebangsaan dan nasionalisme. Mereka melakukan itu setulusnya untuk Allah semata. Allah, Dzat yang tidak ada sekutu
bagi-Nya. Sebuah riwayat tentang puncak keikhlasan dan kebersihan diri dari hawa nafsu tertera dengan indah dalam sebuah sabda Rasulullah saw. berikut ini,
Seorang lelaki datang dan berkata kepada Rasulullah saw., "wahai Rasul Allah, sesungguhnya aku suka berjihad di jalan Allah dan aku senang bila orang lain melihat sepak terjangku," Rasulullah saw terdiam dan tidak menjawab, hingga turunlah firman Allah swt.,
"Barangsiapaa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (AlKahfi: 110)
Lihatlah, bagaimana Islam menempatkan obsesi seseorang kepada pujian dan sanjungan - yang sebenarnya merupakan tabiat jiwa manusia- sebagai syirik kecil yang harus ia bersihkan, untuk kemudian menggantinya dengan cita-cita luhur nan agung? Adakah keikhlasan yang melebihi saat di mana seseorang melupakan segala kepentingan dirinya demi tercapainya cita-cita perjuangan? Apakah anda mengira bahwa seseorang -
yang oleh agamanya diwajibkan untuk membersihkan dirinya dari segenap hawa nafsu, menekan semua emosi dan kecendrungannya, agar jihadnya sepenuhnya hanya untuk Allah- masih akan berpikir untuk berjihad demi kebangsaan dan nasionalisme? Demi Allah, tidak. Tidak akan pernah.
Orang-orang dikalahkan oleh mereka (para pembebas muslim), yang telah ditakdirkan untuk berbahagia dengan Islam dan selamat dengan tuntunannya, sama sekali tidak membiarkan sang pembebas menguasai negerinya dan merampas semua kekayaannya. Tapi ia membiarkan apa yang ia biarkan karena ia telah membaurkan jiwanya dengan jiwa Sang Pembebas, sembari sama-sama berseru, "Hakku adalah hakmu, kewajibanku adalah kewajibanmu. Hanya Kitab Allah yang berhak menjadi hakim di antara kita." Maka mereka melebur bersama untuk menggapai cita-cita yang sama, dan berkorban demi memperjuangkan agama yang sama. Mereka membiarkan apa yang mereka biarkan agar cahaya Allah menerangi segenap kemanusiaan, agar mentari AlQur'an Suci memenuhi segenap ruang kehidupan ini. Hanya dengan cara ini, Manusia dapat menemukan semua kebahagiaan, kesempurnaan, dan kemajuan, kalau saja mereka mau mengetahui.
TAPAL BATAS NEGERI ISLAM
Adapun buah kedua adalah, bahwa persaudaraan Islam telah menjadikan setiap muslim percaya bahwa setiap jengkal tanah di mana di situ ada manusia yang memeluk agama Al-Qur'an Suci, maka jengkal tanah itu adalah bagian dari tanah air Islam. Karenanya Islam mewajibkan setiap mereka bekerja untuk melindunginya dan berupaya membahagiakan warganya. itulah tapal batas negeri Islam, Tapal batas yang terlepas dari sekat-sekat geografis dari apa yang disebut tanah tumpah darah. Negeri Islam itu adalah sebentuk kedaulatan ideologi agung dan agama suci; ia merupakan sekumpulan hakikat yang dijadikan Allah sebagai petunjuk dan cahaya bagi dunia ini. Dan ketika Islam menanamkan makna dalam diri putera-puteranya, ia segera. pula menurunkan sebuah kewajiban menjaga dan melindungi setiap jengkal tanah Islam dari berbagai bentuk agresi, membebaskannya dari cengkraman penjajah, dan menjaganya dari ambisi keserakahan para imperialis.
Thursday, 10 July 2014
KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA (7)
DAYAGUNAKANLAH PERSAUDARAAN KALIAN
Islam menyeru para pemeluknya dengan suatu seruan :
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah keadaanmu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (Ali Imran: 103)
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara." (A]-Hujurat: 10)
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain." (At-Taubah: 71)
Rasul yang mulia, Muhammad saw. juga bersabda :
"Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara." Begitulah generasi Islam pertama -semoga keridhaan Allah atas mereka- dalam memahami makna persaudaraan dalam Islam yang agung ini. Iman dalam dada telah menumbuhkan rasa cinta, kedekatan, dan persaudaraan yang paling luhur dan abadi di antara mereka. Mereka ibarat satu tubuh, satu hati, dan satu tangan. Dan inilah karunia Allah yang selalu diingat-ingatkan kepada mereka oleh-Nya.
"Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupu kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka."
(Al-Anfal: 63)
APLIKASI
Sang Muhajir yang telah pergi meninggalkan keluarga dan tanah tumpah darahnya (Mekkah) untuk menyelamatkan agamanya, akhirnya mendapati para pemuda Yatsrib menanti kedatangan mereka dengan penuh rindu dan kehangatan cinta. Mereka semua bergembira menyambutnya, walaupun mereka tidak mengenalnya sebelum itu, tak ada hubungan kekeluargaan yang mengikat mereka, dan tak ada ambisi atau kepentingan tertentu yang mereka harapkan.
Tapi begitulah, aqidah Islam membuat mereka (kaum Anshar) merindukan dan menyatu dengan kehidupan kaum Muhajirin. Orang-orang Anshar menganggap kaum Muhajirin sebagai belahan jiwanya yang tak terpisahkan, Maka sesaat setelah tiba di masjid, orangorang Aus dan Khazraj segera menghambur mengelilingi mereka. Masing-masing orang dari mereka mengajak kaum muhajirin untuk tinggal di rumahnya, dan untuk itu mereka bersedia mengorbankan harta, jiwa, serta kepentingan keluarganya, Situasinya semakin
mengharukan ketika mereka berkeras dengan permintaan mereka, hingga akhirnya rumah kediaman kaum Muhajirin ditetapkan berdasarkan undian. Imam Bukhari meriwayatkan,
"Tak seorang pun Muhajir yang menetap di rumah seorang Anshar melainkan dengan undian."
Begitulah, sehingga Allah berkenan mengabadikan keluhuran budi kaum Anshar itu dalam Al-Qur'an agar dikenang oleh manusia sepanjang zaman. Hingga kini keluhuran itu masih tampak bersinar terang di permukaan wajah zaman. Tentang kaum Anshar Allah berfirman,
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan mereka (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-Hasyr: 9)
Begitulah putera-putera Islam selanjutnya menapaki tangga keluhuran khususnya generasi pertama yang jiwa-jiwa mereka dipenuhi oleh rasa persaudaraan imani. Pada mereka tak ada perbedaan antara Muhajir dan Anshar, tak ada jarak antara orang Mekkah dengan orang Yaman. Bahkan dalam salah satu sabdanya, Rasulullah saw. pernah memuji kabilah Asy'ariyah dari Yaman.
"Sebaik-baik kaum adalah kaum Asy'ariyah, bila mereka kesusahan dalam perjalanan atau dalam keadaan menetap, maka mereka mengumpulkan semua yang mereka miliki, lalu mereka simpan di tempat perbekalan mereka, kemudian membaginya secara merata,"
Bila anda membaca Al-Qur'an, Sunah Rasul yang agung, dan sejarah para leluhur dari putera-putera terbaik agama ini, niscaya akan anda temukan semua yang dapat menyejukkan mata dan menenteramkan telinga dan hati anda.
Islam menyeru para pemeluknya dengan suatu seruan :
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah keadaanmu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (Ali Imran: 103)
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara." (A]-Hujurat: 10)
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain." (At-Taubah: 71)
Rasul yang mulia, Muhammad saw. juga bersabda :
"Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara." Begitulah generasi Islam pertama -semoga keridhaan Allah atas mereka- dalam memahami makna persaudaraan dalam Islam yang agung ini. Iman dalam dada telah menumbuhkan rasa cinta, kedekatan, dan persaudaraan yang paling luhur dan abadi di antara mereka. Mereka ibarat satu tubuh, satu hati, dan satu tangan. Dan inilah karunia Allah yang selalu diingat-ingatkan kepada mereka oleh-Nya.
"Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupu kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka."
(Al-Anfal: 63)
APLIKASI
Sang Muhajir yang telah pergi meninggalkan keluarga dan tanah tumpah darahnya (Mekkah) untuk menyelamatkan agamanya, akhirnya mendapati para pemuda Yatsrib menanti kedatangan mereka dengan penuh rindu dan kehangatan cinta. Mereka semua bergembira menyambutnya, walaupun mereka tidak mengenalnya sebelum itu, tak ada hubungan kekeluargaan yang mengikat mereka, dan tak ada ambisi atau kepentingan tertentu yang mereka harapkan.
Tapi begitulah, aqidah Islam membuat mereka (kaum Anshar) merindukan dan menyatu dengan kehidupan kaum Muhajirin. Orang-orang Anshar menganggap kaum Muhajirin sebagai belahan jiwanya yang tak terpisahkan, Maka sesaat setelah tiba di masjid, orangorang Aus dan Khazraj segera menghambur mengelilingi mereka. Masing-masing orang dari mereka mengajak kaum muhajirin untuk tinggal di rumahnya, dan untuk itu mereka bersedia mengorbankan harta, jiwa, serta kepentingan keluarganya, Situasinya semakin
mengharukan ketika mereka berkeras dengan permintaan mereka, hingga akhirnya rumah kediaman kaum Muhajirin ditetapkan berdasarkan undian. Imam Bukhari meriwayatkan,
"Tak seorang pun Muhajir yang menetap di rumah seorang Anshar melainkan dengan undian."
Begitulah, sehingga Allah berkenan mengabadikan keluhuran budi kaum Anshar itu dalam Al-Qur'an agar dikenang oleh manusia sepanjang zaman. Hingga kini keluhuran itu masih tampak bersinar terang di permukaan wajah zaman. Tentang kaum Anshar Allah berfirman,
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan mereka (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-Hasyr: 9)
Begitulah putera-putera Islam selanjutnya menapaki tangga keluhuran khususnya generasi pertama yang jiwa-jiwa mereka dipenuhi oleh rasa persaudaraan imani. Pada mereka tak ada perbedaan antara Muhajir dan Anshar, tak ada jarak antara orang Mekkah dengan orang Yaman. Bahkan dalam salah satu sabdanya, Rasulullah saw. pernah memuji kabilah Asy'ariyah dari Yaman.
"Sebaik-baik kaum adalah kaum Asy'ariyah, bila mereka kesusahan dalam perjalanan atau dalam keadaan menetap, maka mereka mengumpulkan semua yang mereka miliki, lalu mereka simpan di tempat perbekalan mereka, kemudian membaginya secara merata,"
Bila anda membaca Al-Qur'an, Sunah Rasul yang agung, dan sejarah para leluhur dari putera-putera terbaik agama ini, niscaya akan anda temukan semua yang dapat menyejukkan mata dan menenteramkan telinga dan hati anda.
Monday, 16 June 2014
KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA (6)
ANTARA DUA KEKUATAN
Banyak kalangan yang menganggap, bahwa bangsa-bangsa Timur tidak dapat bangkit dan berpacu dengan bangsa-bangsa Barat -yang telah merampas hak dan menghancurkan hidupnya- karena mereka tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai; seperti dana, sarana. tempur dan yang lainnya. Tentu saja itu tidak terlalu salah dan keberadaannya memang penting. Tapi yang sesungguhnya jauh lebih penting dari itu adalah kekuatan spiritual; akhlak yang luhur, jiwa yang mulia, pengetahuan dan keyakinan terhadap hak-hak
diri sendiri, tekad yang kuat membaja, semangat pengorbanan dalam menunaikan kewajiban, kesatuan, dan kesetiaan yang merupakan dasar bagi terbangunnya rasa saling percaya. Dari kesemuanya itulah kekuatan bersumber. Andaikan orang Timur menyadari akan haknya, kemudian berusaha merubah diri sendiri, membangun kekuatan spritual yang dahsyat dan membina keluhuran budi pekerti, niscaya sarana-sarana kekuatan fisik itu dengan sendirinya akan datang kepada mereka dari berbagai arah. Sungguh terlalu banyak lembaran sejarah yang membuktikan akan hal itu.
Ikhwanul Muslimin meyakini ini sepenuhnya. Keyakinan itulah yang mendorong mereka untuk terus mensucikan hati, menguatkan jiwa dan meluhurkan budi pekerti. Keyakinan itu pulalah yang mendorong mereka untuk terus berjuang menyebarkan dakwah, memahamkan umat manusia akan hakekat misi dan ideologi yang mereka dakwahkan, kemudian menyeru umat untuk turut membersihkan jiwa dan meluruskan kehidupan mereka.
Misi itu bukan sesuatu yang baru yang mereka ada-adakan. Dan begitulah tabiat mereka dalam semua ucapan mereka. Keyakinan itu bersumber dari kamus Sang Maha Agung, lautan yang tak bertepi, undang-undang yang bijak dan teramat detail, dan referensi yang tertinggi. itulah dia Kitab Allah swt. Belum pernahkah anda mendengar perihal hukum yang abadi itu?
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu merubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11)
Dalam banyak ayatnya Al-Qur'an sering menyingkap rahasia ini. Ia bahkan memberikan contoh aplikatif yang jelas dan abadi melalui kisah Bani Israel; kisah indah yang melukiskan jalan kebangunan sebuah umat yang sebelumnya ditanda kekalahan dan keputusasaan.
JALAN ITU SUDAH JELAS
Ikhwanul Muslimin yakin sepenuhnya, bahwa ketika Allah swt. menurunkan Al-Qur'an, menyuruh hamba-hamba-Nya mengikuti Muhammad saw, dan meridhai Islam sebagai agama bagi mereka, sesungguhnya Ia telah meletakkan dalam agama ini seluruh dasar yang mutlak dibutuhkan bagi kehidupan, Kebangkitan dan kesejahteraan umat manusia. Pembenaran terhadap uraian tersebut dapat ditemukan dalam firman Allah swt.,
"(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dari Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." (Al-A'raf: 157)
Demikian juga kita mendapatkan pembenaran dari sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang mulia,
"Demi Allah, aku tiada membiarkan suatu keburukan. melainkan aku pasti melarang kalian dari melakukannya."
Bila anda menyelami ajaran-ajaran Islam secara lebih mendalam, pasti akan menemukan betapa agama yang agung ini telah meletakkan prinsip, sistem, dan tatanan yang paling tepat bagi kehidupan manusia, baik dalam skala individu, keluarga, maupun bangsa-bangsa. Islam juga memformulasikan kerangka konseptualnya secara detail; sesuatu yang tak sanggup dilakukan oleh para reformer dan pemimpin bangsa-bangsa didunia.
Tema-tema besar semacam universalisme, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme, komunisme, perang, distribusi kekayaan, hubungan antara produsen dan konsumen, serta berbagai masalah yang terkait dengan tema ini -yang kini memenuhi kepala para pemimpin dan pakar ilmu sosial modern- kami yakin telah diselami begitu dalam oleh Islam. Sebab Islam telah meletakkan suatu sistem bagi dunia yang membuka pintu bagi pendayagunaan dan pemanfaatan semua sumber kebaikan, sekaligus menghindarkan manusia dari semua
kemungkinan buruk yang bisa timbul dalam proses menuju ke sana.Tentu saja risalah ini bukan tempat untuk merinci masalah itu lebih jauh lagi. yang ingin kami lakukan di sini adalah menegaskan kerangka pemikiran yang kami yakini kebenarannya, sekaligus menjelaskan apa yang kepadanya kami menyeru manusia. Setelah
itu, dalam bagian lain, kami akan kembali merinci masalah itu secara lebih detail.
KITA HARUS MENGIKUTI
Karena Ikhwanul Muslimin meyakini kerangka dasar pemikiran ini, maka mereka menyeru umat untuk berupaya menjadikan prinsip-prinsip Islam sebagai dasar kebangkitan bagi bangsa-bangsa Timur modern dalam semua dimensi kehidupannya. Ikhwanul Muslimin percaya, bahwa setiap fenomena kebangkitan yang bertentangan dengan prinsipprinsip Islam dan hukum-hukum Al-Qur'an, pasti akan menjumpai kegagalan. Kebangkitan seperti itu hanya akan membawa pada jatuhnya korban yang lebih banyak untuk sebuah kesia-siaan. Maka akan lebih baik tentunya -bagi umat yang ingin bangkit- untuk menempuh jalan paling lurus sekaligus paling pintas dengan mengikuti Islam.
Ikhwanul Muslimin sama sekali tidak mengkhususkan seruan dakwah ini kepada satu negeri Islam saja. Dakwah ini adalah seruan yang kami gaungkan -terutama- kepada segenap pemimpin negara yang mayoritas rakyatnya memeluk agama Islam. Betapa Ikhwanul Muslimin menanti-nantikan saat di mana negeri-negeri Islam akan bersatu membangun masa depannya di atas pilar-pilar yang pasti dan teguh, yang akan mengantar
mereka menuju kemajuan, kemakmuran, dan kejayaan.
WASPADAILAH PENYIMPANGAN
Yang paling dikhawatirkan oleh Ikhwanul Muslimin adalah saat di mana bangsa-bangsa Islam di Timur terjerumus ke dalam lembah taklid, di mana mereka menambal-sulam kebangkitannya dengan sistem-sistem yang lapuk dan usang, yang telah menjadi puing reruntuhan, sebagaimana pengalaman sejarah telah membuktikan hal itu; yakni kerusakan dan ketidakrelevanannya.
Ada hukum-hukum umum yang berlaku bagi setiap komunitas masyarakat Islam. oleh karena itu hukum-hukum yang kita terapkan haruslah bersumber dari Al-Qur'anul Karim. Setiap negeri Islam yang secara resmi menyatakan Islam sebagai agamanya harus mendasarkan semua materi perundang-undangannya pada kaidah-kaidah pokok yang digariskan oleh Al-Qur'an. Sehingga setiap materi hukum yang tidak dibenarkan oleh Islam harus segera dihapus untuk menghilangkan kontradiksi dalam undang-undang dasar
negara.
PERBAIKILAH HUKUM
Setiap umat tentu memiliki hukum kepada mana mereka bertahkim. Bagi kaum muslimin hukum itu haruslah bersumber dari syariat Islam, berakar dari AI-Qur'an dan sesuai dengan dasar-dasar yang terdapat dalam fiqih Islam. Sebab sesungguhnya dalam syariat Islam dan dalam hukum yang kemudian lahir daripadanya -ijtihad para ahli hukum Islam- terkandung semua dimensi yang dibutuhkan oleh umat. oleh karenanya, hanya
dengan hukum itu mereka akan mencapai hasil yang paling baik dan sempurna. Materi-materi hukum pidana Islam sesungguhnya sangat ampuh untuk membasmi semua bentuk kejahatan dan kriminalitas, betapapun dalamnya naluri kejahatan terpendam dalam diripara pelaku kejahatan tersebut.
Dengan menerapkan hukum Allah, sesungguhnya Negara-negara itu justru melepaskan diri dari semua pengalaman pahit yang mungkin timbul sebagai akibat kegagalan hukum buatan manusia. Pengalaman sejarah telah membuktikan itu, dan pemikiran-pemikiran hukum modern juga telah menyerukan hal yang sama. Benarlah Allah yang telah berfirman,
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Maidah: 44)
PERBAIKILAH WAJAH SOSIAL
Setiap umat memiliki wajah kehidupan sosial yang dengan sadar diayomi oleh pemerintah, diatur oleh sistem hukum, dan dilindungi oleh penguasa. maka bangsa-bangsa Islam di Timur harus menjadikan seluruh rangkaian fenomena kehidupan sosial itu sejalan dengan etika dan ajaran Islam. Jika prostitusi resmi itu merupakan aib besar bagi semua bangsa yang menghargai keluhuran budi, maka bagaimana pula dengan umat Islam yang ajaran agamanya mengharuskan mereka memerangi setiap bentuk prostitusi dan
menghukum keras setiap pelaku zina?
"Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, Jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman."(An-Nuur, 2)
Toko-toko penjual minuman keras yang bertebaran di sepanjang jalan-jalan raya, papan-papan iklan minuman keras dan pelacuran yang terpampang jelas di setiap sudut jalan; adalah serangkaian wajah sosial yang ditentang dan diharamkan oleh Islam.
PERANGILAH HEDONISME
Hedonisme (orientasi hidup yang memburu kesenangan) kini menjadi paham yang begitu laris dianut oleh masyarakat. Tiap hari mereka hanya bersenang-senang, hura-hura di jalan-jalan, di kelab-kelab malam, tempat-tempat wisata. musim panas; yang semua itu bertentangan dengan wasiat Islam agar kita selalu memiliki sikap iffah, luhur, suci, senantiasa sungguh-sungguh dalam semua urusan, dan meninggalkan semua bentuk keterlenaan.
"Sesungguhnya Allah mencintai (mereka yang selalu berusaha melakukan dan menyelesaikan) urusan-urusan yang besar, dan membenci (mereka yang selalu berusaha melakukan dan menyelesaikan) urusan-urusan yang remeh (rendah nilainya)."
Umat Islam harus berusaha sekuat tenaga -dengan power dan hukum untuk membasmi semua gejala kerusakan sosial. Mereka tidak boleh lemah dan berhenti dari melakukan itu.
ATURLAH PENDIDIKAN
Setiap umat dan bangsa Islam tentu memiliki strategi pendidikan guna membangun pemuda dan generasi masa depan yang tangguh yang merupakan tumpuan hidup umat baru itu. Oleh karenanya sistem pendidikan harus dibangun di atas kerangka dasar yang kuat yang memungkinkan generasi muda memiliki immunitas keislaman, kesempurnaan akhlak, pengetahuan yang memadai tentang ajaran-ajaran agama mereka, dan
kebanggaan terhadap kejayaan peradabannya yang luas.
Inilah sebagian kecil prinsip yang diperjuangkan Ikhwanul Muslimin. Mereka menyeru umat Islam, baik penguasa maupun rakyat, pemerintah maupun bangsa, agar membangun proses kebangkitannya di atas dasar prinsip-prinsip itu. Dalam rangka mencapai tujuan Islam yang agung itu mereka menempuh satu cara; yakni menjelaskan keistimewaan ajaran-ajaran Islam. Sehingga bila suatu saat umat telah menerima dan meyakininya, maka dengan sendirinya mereka akan merealisasikannya dalam kehidupan nyata.
"Katakanlah,'Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik."' (Yusuf: 108)
Banyak kalangan yang menganggap, bahwa bangsa-bangsa Timur tidak dapat bangkit dan berpacu dengan bangsa-bangsa Barat -yang telah merampas hak dan menghancurkan hidupnya- karena mereka tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai; seperti dana, sarana. tempur dan yang lainnya. Tentu saja itu tidak terlalu salah dan keberadaannya memang penting. Tapi yang sesungguhnya jauh lebih penting dari itu adalah kekuatan spiritual; akhlak yang luhur, jiwa yang mulia, pengetahuan dan keyakinan terhadap hak-hak
diri sendiri, tekad yang kuat membaja, semangat pengorbanan dalam menunaikan kewajiban, kesatuan, dan kesetiaan yang merupakan dasar bagi terbangunnya rasa saling percaya. Dari kesemuanya itulah kekuatan bersumber. Andaikan orang Timur menyadari akan haknya, kemudian berusaha merubah diri sendiri, membangun kekuatan spritual yang dahsyat dan membina keluhuran budi pekerti, niscaya sarana-sarana kekuatan fisik itu dengan sendirinya akan datang kepada mereka dari berbagai arah. Sungguh terlalu banyak lembaran sejarah yang membuktikan akan hal itu.
Ikhwanul Muslimin meyakini ini sepenuhnya. Keyakinan itulah yang mendorong mereka untuk terus mensucikan hati, menguatkan jiwa dan meluhurkan budi pekerti. Keyakinan itu pulalah yang mendorong mereka untuk terus berjuang menyebarkan dakwah, memahamkan umat manusia akan hakekat misi dan ideologi yang mereka dakwahkan, kemudian menyeru umat untuk turut membersihkan jiwa dan meluruskan kehidupan mereka.
Misi itu bukan sesuatu yang baru yang mereka ada-adakan. Dan begitulah tabiat mereka dalam semua ucapan mereka. Keyakinan itu bersumber dari kamus Sang Maha Agung, lautan yang tak bertepi, undang-undang yang bijak dan teramat detail, dan referensi yang tertinggi. itulah dia Kitab Allah swt. Belum pernahkah anda mendengar perihal hukum yang abadi itu?
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu merubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11)
Dalam banyak ayatnya Al-Qur'an sering menyingkap rahasia ini. Ia bahkan memberikan contoh aplikatif yang jelas dan abadi melalui kisah Bani Israel; kisah indah yang melukiskan jalan kebangunan sebuah umat yang sebelumnya ditanda kekalahan dan keputusasaan.
JALAN ITU SUDAH JELAS
Ikhwanul Muslimin yakin sepenuhnya, bahwa ketika Allah swt. menurunkan Al-Qur'an, menyuruh hamba-hamba-Nya mengikuti Muhammad saw, dan meridhai Islam sebagai agama bagi mereka, sesungguhnya Ia telah meletakkan dalam agama ini seluruh dasar yang mutlak dibutuhkan bagi kehidupan, Kebangkitan dan kesejahteraan umat manusia. Pembenaran terhadap uraian tersebut dapat ditemukan dalam firman Allah swt.,
"(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dari Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." (Al-A'raf: 157)
Demikian juga kita mendapatkan pembenaran dari sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang mulia,
"Demi Allah, aku tiada membiarkan suatu keburukan. melainkan aku pasti melarang kalian dari melakukannya."
Bila anda menyelami ajaran-ajaran Islam secara lebih mendalam, pasti akan menemukan betapa agama yang agung ini telah meletakkan prinsip, sistem, dan tatanan yang paling tepat bagi kehidupan manusia, baik dalam skala individu, keluarga, maupun bangsa-bangsa. Islam juga memformulasikan kerangka konseptualnya secara detail; sesuatu yang tak sanggup dilakukan oleh para reformer dan pemimpin bangsa-bangsa didunia.
Tema-tema besar semacam universalisme, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme, komunisme, perang, distribusi kekayaan, hubungan antara produsen dan konsumen, serta berbagai masalah yang terkait dengan tema ini -yang kini memenuhi kepala para pemimpin dan pakar ilmu sosial modern- kami yakin telah diselami begitu dalam oleh Islam. Sebab Islam telah meletakkan suatu sistem bagi dunia yang membuka pintu bagi pendayagunaan dan pemanfaatan semua sumber kebaikan, sekaligus menghindarkan manusia dari semua
kemungkinan buruk yang bisa timbul dalam proses menuju ke sana.Tentu saja risalah ini bukan tempat untuk merinci masalah itu lebih jauh lagi. yang ingin kami lakukan di sini adalah menegaskan kerangka pemikiran yang kami yakini kebenarannya, sekaligus menjelaskan apa yang kepadanya kami menyeru manusia. Setelah
itu, dalam bagian lain, kami akan kembali merinci masalah itu secara lebih detail.
KITA HARUS MENGIKUTI
Karena Ikhwanul Muslimin meyakini kerangka dasar pemikiran ini, maka mereka menyeru umat untuk berupaya menjadikan prinsip-prinsip Islam sebagai dasar kebangkitan bagi bangsa-bangsa Timur modern dalam semua dimensi kehidupannya. Ikhwanul Muslimin percaya, bahwa setiap fenomena kebangkitan yang bertentangan dengan prinsipprinsip Islam dan hukum-hukum Al-Qur'an, pasti akan menjumpai kegagalan. Kebangkitan seperti itu hanya akan membawa pada jatuhnya korban yang lebih banyak untuk sebuah kesia-siaan. Maka akan lebih baik tentunya -bagi umat yang ingin bangkit- untuk menempuh jalan paling lurus sekaligus paling pintas dengan mengikuti Islam.
Ikhwanul Muslimin sama sekali tidak mengkhususkan seruan dakwah ini kepada satu negeri Islam saja. Dakwah ini adalah seruan yang kami gaungkan -terutama- kepada segenap pemimpin negara yang mayoritas rakyatnya memeluk agama Islam. Betapa Ikhwanul Muslimin menanti-nantikan saat di mana negeri-negeri Islam akan bersatu membangun masa depannya di atas pilar-pilar yang pasti dan teguh, yang akan mengantar
mereka menuju kemajuan, kemakmuran, dan kejayaan.
WASPADAILAH PENYIMPANGAN
Yang paling dikhawatirkan oleh Ikhwanul Muslimin adalah saat di mana bangsa-bangsa Islam di Timur terjerumus ke dalam lembah taklid, di mana mereka menambal-sulam kebangkitannya dengan sistem-sistem yang lapuk dan usang, yang telah menjadi puing reruntuhan, sebagaimana pengalaman sejarah telah membuktikan hal itu; yakni kerusakan dan ketidakrelevanannya.
Ada hukum-hukum umum yang berlaku bagi setiap komunitas masyarakat Islam. oleh karena itu hukum-hukum yang kita terapkan haruslah bersumber dari Al-Qur'anul Karim. Setiap negeri Islam yang secara resmi menyatakan Islam sebagai agamanya harus mendasarkan semua materi perundang-undangannya pada kaidah-kaidah pokok yang digariskan oleh Al-Qur'an. Sehingga setiap materi hukum yang tidak dibenarkan oleh Islam harus segera dihapus untuk menghilangkan kontradiksi dalam undang-undang dasar
negara.
PERBAIKILAH HUKUM
Setiap umat tentu memiliki hukum kepada mana mereka bertahkim. Bagi kaum muslimin hukum itu haruslah bersumber dari syariat Islam, berakar dari AI-Qur'an dan sesuai dengan dasar-dasar yang terdapat dalam fiqih Islam. Sebab sesungguhnya dalam syariat Islam dan dalam hukum yang kemudian lahir daripadanya -ijtihad para ahli hukum Islam- terkandung semua dimensi yang dibutuhkan oleh umat. oleh karenanya, hanya
dengan hukum itu mereka akan mencapai hasil yang paling baik dan sempurna. Materi-materi hukum pidana Islam sesungguhnya sangat ampuh untuk membasmi semua bentuk kejahatan dan kriminalitas, betapapun dalamnya naluri kejahatan terpendam dalam diripara pelaku kejahatan tersebut.
Dengan menerapkan hukum Allah, sesungguhnya Negara-negara itu justru melepaskan diri dari semua pengalaman pahit yang mungkin timbul sebagai akibat kegagalan hukum buatan manusia. Pengalaman sejarah telah membuktikan itu, dan pemikiran-pemikiran hukum modern juga telah menyerukan hal yang sama. Benarlah Allah yang telah berfirman,
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Maidah: 44)
PERBAIKILAH WAJAH SOSIAL
Setiap umat memiliki wajah kehidupan sosial yang dengan sadar diayomi oleh pemerintah, diatur oleh sistem hukum, dan dilindungi oleh penguasa. maka bangsa-bangsa Islam di Timur harus menjadikan seluruh rangkaian fenomena kehidupan sosial itu sejalan dengan etika dan ajaran Islam. Jika prostitusi resmi itu merupakan aib besar bagi semua bangsa yang menghargai keluhuran budi, maka bagaimana pula dengan umat Islam yang ajaran agamanya mengharuskan mereka memerangi setiap bentuk prostitusi dan
menghukum keras setiap pelaku zina?
"Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, Jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman."(An-Nuur, 2)
Toko-toko penjual minuman keras yang bertebaran di sepanjang jalan-jalan raya, papan-papan iklan minuman keras dan pelacuran yang terpampang jelas di setiap sudut jalan; adalah serangkaian wajah sosial yang ditentang dan diharamkan oleh Islam.
PERANGILAH HEDONISME
Hedonisme (orientasi hidup yang memburu kesenangan) kini menjadi paham yang begitu laris dianut oleh masyarakat. Tiap hari mereka hanya bersenang-senang, hura-hura di jalan-jalan, di kelab-kelab malam, tempat-tempat wisata. musim panas; yang semua itu bertentangan dengan wasiat Islam agar kita selalu memiliki sikap iffah, luhur, suci, senantiasa sungguh-sungguh dalam semua urusan, dan meninggalkan semua bentuk keterlenaan.
"Sesungguhnya Allah mencintai (mereka yang selalu berusaha melakukan dan menyelesaikan) urusan-urusan yang besar, dan membenci (mereka yang selalu berusaha melakukan dan menyelesaikan) urusan-urusan yang remeh (rendah nilainya)."
Umat Islam harus berusaha sekuat tenaga -dengan power dan hukum untuk membasmi semua gejala kerusakan sosial. Mereka tidak boleh lemah dan berhenti dari melakukan itu.
ATURLAH PENDIDIKAN
Setiap umat dan bangsa Islam tentu memiliki strategi pendidikan guna membangun pemuda dan generasi masa depan yang tangguh yang merupakan tumpuan hidup umat baru itu. Oleh karenanya sistem pendidikan harus dibangun di atas kerangka dasar yang kuat yang memungkinkan generasi muda memiliki immunitas keislaman, kesempurnaan akhlak, pengetahuan yang memadai tentang ajaran-ajaran agama mereka, dan
kebanggaan terhadap kejayaan peradabannya yang luas.
Inilah sebagian kecil prinsip yang diperjuangkan Ikhwanul Muslimin. Mereka menyeru umat Islam, baik penguasa maupun rakyat, pemerintah maupun bangsa, agar membangun proses kebangkitannya di atas dasar prinsip-prinsip itu. Dalam rangka mencapai tujuan Islam yang agung itu mereka menempuh satu cara; yakni menjelaskan keistimewaan ajaran-ajaran Islam. Sehingga bila suatu saat umat telah menerima dan meyakininya, maka dengan sendirinya mereka akan merealisasikannya dalam kehidupan nyata.
"Katakanlah,'Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik."' (Yusuf: 108)
Wednesday, 28 May 2014
KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA (5)
KINI SAATNYA KITA HARUS MEMAHAMI
Dulu kaum Muslimin memahami makna ini dengan baik dan mereka bersungguh-sungguh untuk merealisasikannya. Iman senantiasa menuntun mereka untuk terus berkorban di jalan ini. Tapi kini, kaum Muslimin saling berbeda pendapat dalam memahami misi yang seharusnya mereka emban ini. Mereka membuat berbagai interpretasi Untuk membenarkan kemalasan dan ketakberdayaan mereka. Sebagian mereka mengatakan bahwa waktu jihad dan amal telah berlalu. Lalu sebagian yang lain turut memberi andil
dalam mematikan semangat juang dengan mengatakan, sarana-sarana jihad tidak cukup memadai sedang umat Islam masih terbelenggu dalam kebodohan, Sementara sebagian yang lain lagi sudah merasa cukup puas dalam beragama hanya dengan ucapan-ucapan wirid yang mereka lantunkan setiap pagi dan sore hari. Ia puas dengan beberapa ibadah yang telah ia tunaikan, padahal hatinya kosong dari hakekat. Tidak. Tidak, wahai saudaraku. Al-Qur'an yang mulia ini sekarang ada di hadapan kalian, dan senantiasa menyeru kalian dengan seruannya,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta
dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (Al-Hujurat: 15)
Dengar pula bagaimana Rasulullah saw. bersabda,
"Kalau manusia mulai kikir dengan dinar dan dirham melakukan jual beli dengan cara riba, mengikuti ekor sapi (umat lain, Yahudi dan Nasrani), dan meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan memasukkan kehinaan ke dalam diri mereka, Dia tidak akan menghilangkannya kecuali jika mereka kembali kepada agama mereka," (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Kabir, Al-Baihaqi dalam kitab Syu'abul Ilam dari Abdullah bin Umar)
Kalian dapat membaca dalam banyak kitab fiqih yang lama maupun yang baru, tentang kapan jihad itu merupakan fardhu kifayah (kewajiban kolektif) dan kapan pula ia merupakan Fardhu Ain (kewajiban individual). Kalian akan tahu makna dan hakekatnya dengan sebenar-benarnya. Lalu, mengapa kelesuan ini menimpa kita? Mengapa keputusasaan memenjara hati kita hingga kita tak pernah sadar?
Wahai kaum muslimin, sekarang kita hidup dalam abad kebangunan. Maka bangunlah diri kalian, agar dengannya kalian dapat membangun umat kalian. Kewajiban ini menuntut adanya jiwa yang dipenuhi oleh iman dan hati yang luhur. Berusahalah untuk senantiasa meneguhkan komitmen kalian dan memurnikan hati kalian. Kewajiban ini menuntut dan akan selalu menuntut- kalian untuk terus berkorban dengan harta dan kesungguhan. Bersiaplah dan singsingkanlah lengan baju kalian. Sesungguhnya apa yang ada pada kalian akan pupus habis, dan apa yang ada pada Allah akan kekal selamanya. sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum mukminin jiwa dan harta benda mereka, dengan memberikan balasan berupa surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.
DARI MANA KITA HARUS MEMULAI
Sesungguhnya setiap umat yang ingin membina dan membangun dirinya, serta berjuang untuk mewujudkan cita-cita dan membela agamanya, haruslah memiliki kekuatan jiwa yang dahsyat. Kekuatan jiwa itu terekspresikan dalam beberapa hal sebagai berikut; tekad membaja yang tak pernah melemah, kesetiaan yang teguh dan tidak tersusupi oleh pengkhianatan, pengorbanan yang tidak terbatasi oleh keserakahan dan kekikiran, pengetahuan dan keyakinan, serta penghormatan yang tinggi terhadap ideologi yang diperjuangkan. Semua itu akan menghindarkannya dari kesalahan, penyimpangan, menawar-nawarnya dengan yang lain, atau tertipu oleh ideologi lain. Hanya di atas pilar-pilar dasar ini -yang sepenuhnya merupakan kekhususan jiwa- dan hanya di atas kekuatan spiritual yang dahsyat ini, sebuah ideologi akan hidup, bangsa yang muda dan sedang bangkit akan terbina, dan sungai kehidupan akan mengalir kembali dalam jiwa mereka setelah sekian lama mengalami kekeringan.
Setiap bangsa yang tidak memiliki keempat sifat tersebut -atau minimal para pemimpinnya, maka dapat dipastikan dia akan menjadi bangsa yang rapuh dan miskin. Tidak akan ada kebaikan yang dapat ia raih atau harapan yang dapat ia capai dengan kelemahannya itu. Selamanya ia akan hidup dalam mimpi dan persangkaan-persangkaan yang hampa.
"Sesungguhnya prasangka itu tidak berguna untuk mencapai kebenaran." Inilah hukum dan sunah Allah yang berlaku dalam kehidupan makhluk-Nya. Dan tidak akan pernah ada perubahan dalam hukum dan sunah Allah itu.
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11)
Ini pulalah hukum yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadits mulia yang diriwayatkan oleh Abu Daud,
"Akan datang suatu masa di mana umat-umat lain akan memperebutkan kalian sama seperti anjing-anjing yang memperebutkan nampannya." Salah seorang (sahabat) bertanya, 'Apakah karena jumlah kita sedikit ketika itu?" Rasulullah saw. menjawab, "(Tidak), bahkan jumlah kalian ketika itu sangat banyak, tapi kalian itu bagai buih yang mengapung di atas arus air, Sungguh Allah akan mencabut dari dada musuh kalian rasa takut terhadap kalian, dan sungguh Allah akan menanamkan wahn dalam hati kalian." Salah seorang bertanya, 'Apakah wahn itu wahai Rasul Allah? " Rasulullah saw. menjawab, "Cinta dunia dan takut mati, "
Tidakkah anda. melihat bahwa Rasulullah saw. telah menjelaskan sebab kelemahan dan kehinaan suatu bangsa. Yaitu karena kelemahan hati dan jiwanya, dan karena hati mereka kosong dari akhlak yang luhur dan sifat-sifat ksatria, sekalipun jumlah mereka banyak dan kekayaan mereka melimpah ruah. Sesungguhnya suatu umat yang selalu terbuai dalam kenikmatan, terlena oleh kemewahan, tenggelam dalam kemilau harta benda dan tertipu oleh pesona bunga-bunga dunia, serta lupa pada kemungkinan menghadapi tragedi dan kekerasan serta berjuang menegakkan kebenaran; kepada umat seperti itu katakanlah "Selamat jalan
kehormatan dan ketinggian."
Dulu kaum Muslimin memahami makna ini dengan baik dan mereka bersungguh-sungguh untuk merealisasikannya. Iman senantiasa menuntun mereka untuk terus berkorban di jalan ini. Tapi kini, kaum Muslimin saling berbeda pendapat dalam memahami misi yang seharusnya mereka emban ini. Mereka membuat berbagai interpretasi Untuk membenarkan kemalasan dan ketakberdayaan mereka. Sebagian mereka mengatakan bahwa waktu jihad dan amal telah berlalu. Lalu sebagian yang lain turut memberi andil
dalam mematikan semangat juang dengan mengatakan, sarana-sarana jihad tidak cukup memadai sedang umat Islam masih terbelenggu dalam kebodohan, Sementara sebagian yang lain lagi sudah merasa cukup puas dalam beragama hanya dengan ucapan-ucapan wirid yang mereka lantunkan setiap pagi dan sore hari. Ia puas dengan beberapa ibadah yang telah ia tunaikan, padahal hatinya kosong dari hakekat. Tidak. Tidak, wahai saudaraku. Al-Qur'an yang mulia ini sekarang ada di hadapan kalian, dan senantiasa menyeru kalian dengan seruannya,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta
dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (Al-Hujurat: 15)
Dengar pula bagaimana Rasulullah saw. bersabda,
"Kalau manusia mulai kikir dengan dinar dan dirham melakukan jual beli dengan cara riba, mengikuti ekor sapi (umat lain, Yahudi dan Nasrani), dan meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan memasukkan kehinaan ke dalam diri mereka, Dia tidak akan menghilangkannya kecuali jika mereka kembali kepada agama mereka," (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Kabir, Al-Baihaqi dalam kitab Syu'abul Ilam dari Abdullah bin Umar)
Kalian dapat membaca dalam banyak kitab fiqih yang lama maupun yang baru, tentang kapan jihad itu merupakan fardhu kifayah (kewajiban kolektif) dan kapan pula ia merupakan Fardhu Ain (kewajiban individual). Kalian akan tahu makna dan hakekatnya dengan sebenar-benarnya. Lalu, mengapa kelesuan ini menimpa kita? Mengapa keputusasaan memenjara hati kita hingga kita tak pernah sadar?
Wahai kaum muslimin, sekarang kita hidup dalam abad kebangunan. Maka bangunlah diri kalian, agar dengannya kalian dapat membangun umat kalian. Kewajiban ini menuntut adanya jiwa yang dipenuhi oleh iman dan hati yang luhur. Berusahalah untuk senantiasa meneguhkan komitmen kalian dan memurnikan hati kalian. Kewajiban ini menuntut dan akan selalu menuntut- kalian untuk terus berkorban dengan harta dan kesungguhan. Bersiaplah dan singsingkanlah lengan baju kalian. Sesungguhnya apa yang ada pada kalian akan pupus habis, dan apa yang ada pada Allah akan kekal selamanya. sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum mukminin jiwa dan harta benda mereka, dengan memberikan balasan berupa surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.
DARI MANA KITA HARUS MEMULAI
Sesungguhnya setiap umat yang ingin membina dan membangun dirinya, serta berjuang untuk mewujudkan cita-cita dan membela agamanya, haruslah memiliki kekuatan jiwa yang dahsyat. Kekuatan jiwa itu terekspresikan dalam beberapa hal sebagai berikut; tekad membaja yang tak pernah melemah, kesetiaan yang teguh dan tidak tersusupi oleh pengkhianatan, pengorbanan yang tidak terbatasi oleh keserakahan dan kekikiran, pengetahuan dan keyakinan, serta penghormatan yang tinggi terhadap ideologi yang diperjuangkan. Semua itu akan menghindarkannya dari kesalahan, penyimpangan, menawar-nawarnya dengan yang lain, atau tertipu oleh ideologi lain. Hanya di atas pilar-pilar dasar ini -yang sepenuhnya merupakan kekhususan jiwa- dan hanya di atas kekuatan spiritual yang dahsyat ini, sebuah ideologi akan hidup, bangsa yang muda dan sedang bangkit akan terbina, dan sungai kehidupan akan mengalir kembali dalam jiwa mereka setelah sekian lama mengalami kekeringan.
Setiap bangsa yang tidak memiliki keempat sifat tersebut -atau minimal para pemimpinnya, maka dapat dipastikan dia akan menjadi bangsa yang rapuh dan miskin. Tidak akan ada kebaikan yang dapat ia raih atau harapan yang dapat ia capai dengan kelemahannya itu. Selamanya ia akan hidup dalam mimpi dan persangkaan-persangkaan yang hampa.
"Sesungguhnya prasangka itu tidak berguna untuk mencapai kebenaran." Inilah hukum dan sunah Allah yang berlaku dalam kehidupan makhluk-Nya. Dan tidak akan pernah ada perubahan dalam hukum dan sunah Allah itu.
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11)
Ini pulalah hukum yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadits mulia yang diriwayatkan oleh Abu Daud,
"Akan datang suatu masa di mana umat-umat lain akan memperebutkan kalian sama seperti anjing-anjing yang memperebutkan nampannya." Salah seorang (sahabat) bertanya, 'Apakah karena jumlah kita sedikit ketika itu?" Rasulullah saw. menjawab, "(Tidak), bahkan jumlah kalian ketika itu sangat banyak, tapi kalian itu bagai buih yang mengapung di atas arus air, Sungguh Allah akan mencabut dari dada musuh kalian rasa takut terhadap kalian, dan sungguh Allah akan menanamkan wahn dalam hati kalian." Salah seorang bertanya, 'Apakah wahn itu wahai Rasul Allah? " Rasulullah saw. menjawab, "Cinta dunia dan takut mati, "
Tidakkah anda. melihat bahwa Rasulullah saw. telah menjelaskan sebab kelemahan dan kehinaan suatu bangsa. Yaitu karena kelemahan hati dan jiwanya, dan karena hati mereka kosong dari akhlak yang luhur dan sifat-sifat ksatria, sekalipun jumlah mereka banyak dan kekayaan mereka melimpah ruah. Sesungguhnya suatu umat yang selalu terbuai dalam kenikmatan, terlena oleh kemewahan, tenggelam dalam kemilau harta benda dan tertipu oleh pesona bunga-bunga dunia, serta lupa pada kemungkinan menghadapi tragedi dan kekerasan serta berjuang menegakkan kebenaran; kepada umat seperti itu katakanlah "Selamat jalan
kehormatan dan ketinggian."
Subscribe to:
Posts (Atom)