Showing posts with label Dari buku dasar-dasar islam karangan Abul 'Ala Al-Maududi.. Show all posts
Showing posts with label Dari buku dasar-dasar islam karangan Abul 'Ala Al-Maududi.. Show all posts

Monday, 6 May 2013

JALAN MENUJU KEREDHAAN ALLAH

LG Nexus 4 E960
Saudara-saudara!

Dalam al-Qur’an Allah berfirman :

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu
nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahui” (Al-Qur’an, Ali ‘Imran,3:92).

Ayat ini adalah keperluan dari Islam dan iman. Kebesaran Islam yang sebenarya terletak
pada prinsip bahwa segala apa pun yang kita cintai mestilah kita korbankan untuk
Allah. Kita tentu tahu bahwa dalam semua urusan hidup kita, Allah mengajak kita
kepada suatu arah, sedangkan kita sendiri mengajak ke arah lain. Allah menyuruh kita
mengerjakan suatu perbuatan, tetapi nafs (diri) sendiri membujuk kita agar tidak
mengerjakannya dengan menyatakan bahwa pekerjaan itu akan mendatangkan kesulitan
dan kerugian. Allah melarang kita mengerjakan sesuatu, tetapi nafs membujuk kita untuk
melakukannya dengan mengatakan bahwa pekerjaan itu sangat menyenangkan dan
menguntungkan. Di satu pihak terdapat keredhaan Allah, sedangkan di pihak yang lain
adalah kesenangan dan kepuasan diri. Ringkasnya, dalam setiap langkah kehidupannya,
manusia sentiasa dihadapkan kepada suatu persimpangan jalan. Jalan yang pertama
adalah jalan Islam, dan jalan yang satu lagi adalah jalan kufur dan kemunafikan.
Seseorang yang mengabaikan semua bujukan dunia serta tunduk patuh pada perintah-
perintah Allah adalah orang yang telah memilih jalan Islam. Sebaliknya, seseorang yang
mengetepikan perintah-perintah Allah, dan menuruti segala kemauannya sendiri serta
godaan-godaan dunia, adalah orang yang memilih jalan kufur dan kemunafikan.

Saturday, 4 May 2013

BEBERAPA CONTOH KEPATUHAN KEPADA ALLAH


SAMSUNG Galaxy Tab 2 7.0 Espresso 8GB Wi-Fi - White
SAMSUNG Galaxy S4 [i9500] - White SAMSUNG Galaxy Grand [HSMI9082MEB] - White
1. Meninggalkan Minuman Keras

Tentu kita semua telah mendengar betapa meluasnya kebiasaan meminum minuman
keras (khamar) di negeri Arab sebelum kedatangan Islam. Lelaki, perempuan, tua dan
muda, semuanya gemar meminum khamar. Mereka memang sudah terbiasa dengan
minuman tersebut. Mereka mengarang dan menyanyikan lagu-lagu untuk memuji
khamar, dan mereka begitu tergila-gila kepada khamar tersebut. Dan kita semua tahu
juga bahwa sukar sekali berhenti dari meminum minuman keras bila telah ketagih
kepadanya. Seorang pemabuk lebih suka mati daripada berhenti minum. Bila ia tidak
memperoleh khamar, ia merasa lebih sakit dari orang sakit. Tetapi sudahkah kita
mendengar apa yang terjadi ketika larangan minum minuman keras diturunkan oleh
Allah? Ketika mendengar larangan itu, orang Arab yang bersedia mati demi minuman
keras itu, dengan tangan mereka sendiri memecahkan bekas-bekas yang berisi minuman
keras itu. Dan minuman itu mengalir di jalan-jalan dan di lorong-lorong, di kota
Madinah, waktu itu, seperti air hujan. Dalam suatu pertemuan, sekumpulan orang sedang
asyik meminum minuman keras. Ketika mereka mendengar utusan Nabi saw mengatakan
bahwa minuman keras telah dilarang, tangan-tangan mereka berhenti bergerak seketika.
Mereka yang sudah memegang mangkuk minuman itu di bibir, seketika itu juga
menyingkirkannya dari mulut mereka, dan tidak membiarkan setetes pun arak menyentuh
bibir mereka. Inilah kebesaran iman. Inilah yang dinamakan patuh kepada Allah dan
RasulNya.

2. Pengakuan Dosa

Kita tahu juga betapa kerasnya hukuman yang diberikan Islam bagi orang yang berzina -
seratus kali pukulan rotan di punggung yang telanjang; yang membuat orang menggeletar
hanya dengan membayangkannya saja. Dan bila yang berzina adalah orang yang sudah
pernah kawin, maka hukumannya lebih mengerikan: dirajam sampai mati. Mendengar
kata rajam saja orang sudah gementar. Tetapi sudahkah kita mendengar,bagaimana
perilaku orang yang mempunyai iman dalam hatinya? Pada zaman Nabi saw ada seorang
beriman yang telah berzina. Tidak ada saksi, tidak ada seorang pun yang menyeretnya
ke muka pengadilan. Tidak pula ada seorang pun yang melaporkannya kepada polisi.
Hanya ada iman, yang bertakhta dalam hatinya. Dan iman itulah yang mengatakan
kepadanya: “Pergilah kamu menjalani hukuman yang telah disediakan Allah atas
perbuatanmu itu”. Maka pergilah orang itu dengan kemauannya sendiri kepada
Rasulullah saw dan berkata: "Wahai Rasulullah saya telah berzina. Hukumlah saya”.
Mendengar itu, Nabi, memalingkan wajahnya dari orang itu. Tetapi orang itu terus
saja menghadap wajah Rasulullah saw dan mengulangi permintaannya. Rasulullah
kembali memalingkan wajahnya dari orang itu, dan orang itu juga kembali bergerak ke
tempat menghadapi wajah Rasulullah dan kembali mengulangi permintaannya untuk-
ketiga kalinya. Inilah iman. Memang, bagi seseorang yang memiliki iman dalam hatinya,
adalah mudah untuk menjalani hukuman seratus kali libasan pada punggungnya yang
telanjang. Bahkan hukuman rajam pun. Ia segan untuk kembali kehadirat Tuhannya
dengan sifat seorang hamba yang tidak patuh.

3. Pemutusan Hubungan

Kita juga tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih dicintai seseorang selain
daripada sanak saudaranya. Terutama sekali, ayah, saudara dan anak adalah terlalu
dicintai sehingga orang bersedia untuk mati karena mereka. Tetapi lihatlah dalam sejarah
Islam, sewaktu terjadi Perang Badar dan Uhud, dan lihatlah siapa yang berperang
melawan siapa? Si ayah berada di barisan tentara Islam dan si anak di dalam barisan
tentara kafir, dan sebaliknya. Seseorang berada di satu pihak dan saudaranya ada di pihak
lainnya. Sanak saudara dan kerabat-kerabat yang dekat saling berhadapan dan bertempur
seakan-akan satu sama lain adalah orang-orang asing. Dan semangat permusuhan ini
menyala bukan karena membela tanah air atau merebut harta benda, bukan pula karena
dendam pribadi. Tetapi perang melawan keluarga dan sanak saudara itu terjadi karena
orang-orang yang beriman berani dan rela membunuh atau terbunuh oleh ayah, anak,
saudara dan keluarga mereka sendiri, demi membela ajaran Allah dan RasulNya.

4. Taobat dari Adat Kebiasaan Lama

Kita juga tahu bahwa Islam telah meruntuhkan dengan saksama semua adat kebiasaan
lama yang berlaku di negeri Arab sebelum kedatangannya. Dosa terbesar yang muncul
dari adat kebiasaan lama ini adalah penyembahan berhala yang telah menjadi amalan
selama ratusan tahun. Islam melarang perbuatan dosa ini bersama-sama dengan minuman
keras, perzinaan, perjudian, pencurian dan perampasan, yang biasa dilakukan sebelum
Islam. Sebelum Islam, kaum wanita biasa bepergian ke luar rumah dengan pakaian
terbuka. Islam menyuruh mereka mengenakan Jilbab. Sebelum Islam datang, kaum
wanita tidak berhak untuk memperoleh harta warisan, kemudian Islam memerintahkan
agar mereka juga diberi bagian. Sebelum Islam, anak-anak angkat diberi kedudukan
yang sama dengan anak-anak kandung, tetapi Islam membatalkan persamaan kedudukan
ini serta mengesahkan perkawinan dengan anak angkat. Pendeknya, tidak ada satu
pun adat lama yang dibiarkan tetap tegak oleh Islam. Tetapi tahukah kita bagaimana
sikap orang-orang yang telah menyatakan iman kepada Allah dan RasulNya? Orang-
orang yang beriman ini menghancurkan berhala-berhala, yang selama ini disembah oleh
mereka dan nenek-moyang mereka, dengan tangan-tangan mereka sendiri. Mereka
mempersembahkan korban-korban tersebut di atas altar-altar pemujaan mereka. Mereka
menghapuskan semua adat kebiasaan keluarga yang telah mereka warisi turun-temurun
selama berabad-abad lamanya. Dengan perintah Allah, mereka menghancurkan benda-
benda yang sebelum itu mereka pkitang suci. Sebaliknya, mereka mengesahkan hal-hal
yang sebelum itu mereka pkitang menjijikkan. Perkara-perkara yang selama berabad-
abad lamanya dipkitang suci, tiba-tiba saja menjadi kotor, dan juga sebaliknya.
Semua amalan-amalan yang pada masa jahiliyyah merupakan sumber keuntungan atau
kesenangan akan dihapuskan setalah datangnya larangan dari Allah. Sebaliknya, semua
perintah-perintah Islam yang membawa kesulitan-kesulitan dan keberatan-keberatan
diterima dengan gembira. Inilah yang disebut iman dan inilah yang dinamakan Islam.
Sekitainya orang-orang Arab pada masa itu berkata: “Kami tidak mau menerima hal itu
karena itu merugikan kami. Kami tidak dapat menghentikan perbuatan ini karena ia
menguntungkan kami. Kami juga akan tetap, mengerjakan perbuatan yang lainnya itu
karena ia adalah warisan budaya nenek-moyang nenek-moyang kami. Juga, kami
menyukai perkara-perkara tertentu yang dilakukan oleh bangsa Romawi dan amalam-
amalan bangsa Iran yang menyenangkan kami”. Pendeknya, sekitainya mereka semua
menolak setiap perkara yang datang dari Islam, kita boleh membayangkan bahwa pasti
tidak ada seorang Muslim pun di dunia sekarang ini.

Saturday, 2 June 2012

MAKNA KALIMAH THAYIBAH

MENGAPA TIMBUL PERBEDAAN YANG BESAR?

       Marilah kita fikirkan sejenak, mengapa terjadi perbedaan yang demikian besar antara
seorang manusia dan manusia yang lain? Ada apa dalam kalimat tersebut? Sekilas,
kalimat syahadat itu tampaknya hanyalah sebuah kalimat yang terdiri dari huruf-huruf
seperti K, A, L, I, dan beberapa huruf yang lain lagi. Bila huruf-huruf itu digabungkan
bersama-sama dan diucapkan dengan mulut, dapatkah terjadi suatu keajaiban yang dapat
menimbulkan perubahan yang demikian radikal dalam diri seseorang ? Dapatkah hal
yang demikian kecil menimbulkan perbedaan, seperti langit dan bumi, antara seorang
manusia dengan manusia yang lain? Saudara saudara! Dengan sedikit pengartian saja,
anda akan dapat mengatakan sendiri bahwa cuma sekadar membuka mulut dan
mengucapkan beberapa suku-kata saja, tidak mungkin dapat menimbulkan akibat yang
demikian besar. Tidak syak lagi, orang-orang kafir, penyembah berhala, memang
percaya bahwa dengan mengucapkan suatu mantera saja sebuah gunung akan mampu
digerakkan, bumi dapat terbelah dan air boleh memancar keluar, meski tidak seorang pun
yang memahami arti mantera tersebut. Hal ini disebabakan mereka percaya bahwa
kekuatan mantera tersebut terletak dalam bunyi kata-katanya saja, hingga begitu
mantera diucapkan, terjadilah keajaiban. Namun tidaklah demikian halnya dalam Islam.
Dalam Islam hal yang utama dalam sebuah kalimat yang diucapkan adalah maknanya.
Pengaruh kata-kata terletak dalam artinya. Bila kata-kata tidak punya arti dan tidak
meresap dalam hati, dan tidak menimbulkan pengaruh yang kuat yang boleh
menimbulkan perubahan dalam fikiran, akhlak dan perbuatan orang yang
mengucapkannya, maka sekedar mengucapkannya saja sama-sekali tidak akan ada
faedahnya.
        Saya akan menerangkan masalah ini dengan sebuah contoh yang sederhana.
Seandainya anda sedang menggigil karena udara yang dingin dan anda lalu meneriakkan
kata-kata,"Kain! Selimut! Kain! Selimut! " maka kedinginan udara yang anda rasakan
tidak akan berkurang meskipun anda meneriakkan kata-.kata itu sejuta kali dengan
menghitung tasbih. Tetapi bila anda lalu mencari selembar selimut dan menyelimuti
tubuh anda dengannya, tentulah pengaruh udara yang dingin itu akan hilang. Atau
seandainya anda merasa haus dan anda berteriak sepanjang-hari, “Air, air!", maka anda
akan tetap saja merasa haus. Tetapi bila anda mengambil segelas air dan meminumnya,
tentu rasa haus itu akan hilang. Atau, contoh yang lain lagi, seandainya anda menderita
sakit demam dan untuk mengubatinya anda hanya menyebut-nyebut nama bermacam-
macam tumbuh-tumbuhan yang biasanya direbus dan airnya diminum untuk
menyembuhkan sakit demam;dengan cara ini jelas anda tidak akan boleh sembuh. Tetapi
bila anda benar-benar merebus tumbuh-tumbuhan tersebut dan meminum airnya, tentulah
demam anda akan hilang, Nah, seperti inilah kedudukan kalimat syahadat itu.
Mengucapkan kalimat itu dimulut saja, tidak akan dapat menimbulkan perubahan yang
demikian besar, yang mampu mengubah seorang kafir menjadi seorang Muslim, atau
seorang yang kotor menjadi seorang yang suci, atau seorang yang terkutuk menjadi
seorang yang tercinta, atau calon penghuni neraka menjadi calon penghuni syurga.
Perubahan seperti itu hanya mungkin terjadi bila anda lebih dahulu memahami makna
kata-kata dalam kalimat tersebut dan melekatkannya dalam fikiran anda. Lalu bila anda
mengucapkan kalimat tersebut dan telah memahami artinya, anda juga harus menyadari
benar-benar bahwa dengan mengucapkannya anda telah membuat komitmen yang
sangat besar di hadapan Allah dan seluruh dunia, dan memikul tanggungjawab yang
besar di atas bahu anda. Dan setelah memahami pengartian pemyataan anda itu, maka
pemahaman itu harus menguasai seluruh hidup anda. Dengan demikian, anda tidak akan
membiarkin satu ide pun yang bertentangan dengan kalimat ini memasuki fikiran anda.
Lalu anda harus memutuskan untuk seterusnya bahwa, apa pun yang bertentangan
dengan kalimat ini adalah bathil, dan hanya yang sesuai dengan kalimat ini sajalah
yang benar. Selanjutnya, kalimat ini harus menguasai seluruh persoalan hidup anda.
Setelah mengucapkan kalimat ini anda tidak boleh lagi bebas untuk melakukan apa saja
yang anda sukai, seperti orang-orang kafir. Setelah diikat oleh kalimat ini, anda harus
menuruti apa saja yang diperintahkannya dan menjauhi apa saja yang dilarangnya.
Bila seseorang mengucapkan dan mempercayai kalimat ini, dengan cara yang seperti di
atas, maka orang tersebut menjadi seorang Muslim yang sejati. Hanya dengan melalui
proses yang demikian itulah boleh terjadi perbedaan besar antara manusia yang. satu
dengan manusia yang lain, seperti yang tadi saya ceritakan kepada anda.