Wednesday, 28 May 2014

KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA (5)

KINI SAATNYA KITA HARUS MEMAHAMI

Dulu kaum Muslimin memahami makna ini dengan baik dan mereka bersungguh-sungguh untuk merealisasikannya. Iman senantiasa menuntun mereka untuk terus berkorban di jalan ini. Tapi kini, kaum Muslimin saling berbeda pendapat dalam memahami misi yang seharusnya mereka emban ini. Mereka membuat berbagai interpretasi Untuk membenarkan kemalasan dan ketakberdayaan mereka. Sebagian mereka mengatakan bahwa waktu jihad dan amal telah berlalu. Lalu sebagian yang lain turut memberi andil
dalam mematikan semangat juang dengan mengatakan, sarana-sarana jihad tidak cukup memadai sedang umat Islam masih terbelenggu dalam kebodohan, Sementara sebagian yang lain lagi sudah merasa cukup puas dalam beragama hanya dengan ucapan-ucapan wirid yang mereka lantunkan setiap pagi dan sore hari. Ia puas dengan beberapa ibadah yang telah ia tunaikan, padahal hatinya kosong dari hakekat. Tidak. Tidak, wahai saudaraku. Al-Qur'an yang mulia ini sekarang ada di hadapan kalian, dan senantiasa menyeru kalian dengan seruannya,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta
dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (Al-Hujurat: 15)

Dengar pula bagaimana Rasulullah saw. bersabda,

"Kalau manusia mulai kikir dengan dinar dan dirham melakukan jual beli dengan cara riba, mengikuti ekor sapi (umat lain, Yahudi dan Nasrani), dan meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan memasukkan kehinaan ke dalam diri mereka, Dia tidak akan menghilangkannya kecuali jika mereka kembali kepada agama mereka," (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Kabir, Al-Baihaqi dalam kitab Syu'abul Ilam dari Abdullah bin Umar)

Kalian dapat membaca dalam banyak kitab fiqih yang lama maupun yang baru, tentang kapan jihad itu merupakan fardhu kifayah (kewajiban kolektif) dan kapan pula ia merupakan Fardhu Ain (kewajiban individual). Kalian akan tahu makna dan hakekatnya dengan sebenar-benarnya. Lalu, mengapa kelesuan ini menimpa kita? Mengapa keputusasaan memenjara hati kita hingga kita tak pernah sadar?

Wahai kaum muslimin, sekarang kita hidup dalam abad kebangunan. Maka bangunlah diri kalian, agar dengannya kalian dapat membangun umat kalian. Kewajiban ini menuntut adanya jiwa yang dipenuhi oleh iman dan hati yang luhur. Berusahalah untuk senantiasa meneguhkan komitmen kalian dan memurnikan hati kalian. Kewajiban ini menuntut dan akan selalu menuntut- kalian untuk terus berkorban dengan harta dan kesungguhan. Bersiaplah dan singsingkanlah lengan baju kalian. Sesungguhnya apa yang ada pada kalian akan pupus habis, dan apa yang ada pada Allah akan kekal selamanya. sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum mukminin jiwa dan harta benda mereka, dengan memberikan balasan berupa surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.

DARI MANA KITA HARUS MEMULAI

Sesungguhnya setiap umat yang ingin membina dan membangun dirinya, serta berjuang untuk mewujudkan cita-cita dan membela agamanya, haruslah memiliki kekuatan jiwa yang dahsyat. Kekuatan jiwa itu terekspresikan dalam beberapa hal sebagai berikut; tekad membaja yang tak pernah melemah, kesetiaan yang teguh dan tidak tersusupi oleh pengkhianatan, pengorbanan yang tidak terbatasi oleh keserakahan dan kekikiran, pengetahuan dan keyakinan, serta penghormatan yang tinggi terhadap ideologi yang diperjuangkan. Semua itu akan menghindarkannya dari kesalahan, penyimpangan, menawar-nawarnya dengan yang lain, atau tertipu oleh ideologi lain. Hanya di atas pilar-pilar dasar ini -yang sepenuhnya merupakan kekhususan jiwa- dan hanya di atas kekuatan spiritual yang dahsyat ini, sebuah ideologi akan hidup, bangsa yang muda dan sedang bangkit akan terbina, dan sungai kehidupan akan mengalir kembali dalam jiwa mereka setelah sekian lama mengalami kekeringan.

Setiap bangsa yang tidak memiliki keempat sifat tersebut -atau minimal para pemimpinnya, maka dapat dipastikan dia akan menjadi bangsa yang rapuh dan miskin. Tidak akan ada kebaikan yang dapat ia raih atau harapan yang dapat ia capai dengan kelemahannya itu. Selamanya ia akan hidup dalam mimpi dan persangkaan-persangkaan yang hampa.

"Sesungguhnya prasangka itu tidak berguna untuk mencapai kebenaran." Inilah hukum dan sunah Allah yang berlaku dalam kehidupan makhluk-Nya. Dan tidak akan pernah ada perubahan dalam hukum dan sunah Allah itu.

"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11)

Ini pulalah hukum yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadits mulia yang diriwayatkan oleh Abu Daud,

"Akan datang suatu masa di mana umat-umat lain akan memperebutkan kalian sama seperti anjing-anjing yang memperebutkan nampannya." Salah seorang (sahabat) bertanya, 'Apakah karena jumlah kita sedikit ketika itu?" Rasulullah saw. menjawab, "(Tidak), bahkan jumlah kalian ketika itu sangat banyak, tapi kalian itu bagai buih yang mengapung di atas arus air, Sungguh Allah akan mencabut dari dada musuh kalian rasa takut terhadap kalian, dan sungguh Allah akan menanamkan wahn dalam hati kalian." Salah seorang bertanya, 'Apakah wahn itu wahai Rasul Allah? " Rasulullah saw. menjawab, "Cinta dunia dan takut mati, "

Tidakkah anda. melihat bahwa Rasulullah saw. telah menjelaskan sebab kelemahan dan kehinaan suatu bangsa. Yaitu karena kelemahan hati dan jiwanya, dan karena hati mereka kosong dari akhlak yang luhur dan sifat-sifat ksatria, sekalipun jumlah mereka banyak dan kekayaan mereka melimpah ruah. Sesungguhnya suatu umat yang selalu terbuai dalam kenikmatan, terlena oleh kemewahan, tenggelam dalam kemilau harta benda dan tertipu oleh pesona bunga-bunga dunia, serta lupa pada kemungkinan menghadapi tragedi dan kekerasan serta berjuang menegakkan kebenaran; kepada umat seperti itu katakanlah "Selamat jalan
kehormatan dan ketinggian."

Friday, 23 May 2014

KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA (4)

MIMPI KEMARIN ADALAH KENYATAN HARI INI

Ungkapan di atas sebenarnya sudah sering didengar oleh kaum Muslimin sejak lama. Begitu seringnya sehingga mungkin ia sudah terasa samar dan absurd. Bahkan ada yang sampai mengatakan, "Mengapa masih ada kelompok baru yang mengungkap kembali idealisme ini. Idealisme yang terbukti tak pernah bisa menjadi kenyataan? Mengapa mereka masih saja berenang di lautan mimpi-mimpi?" Tenanglah wahai saudaraku seiman. Apa yang hari ini tampak samar dan absurd bagi kalian, justru merupakan aksioma yang begitu dekat dengan realita bagi pendahulu-pendahulu kalian. Sungguh, jihad apa pun yang kalian lakukan takkan pernah membuahkan hasil selama ia belum menjadi demikian pada diri kalian. Percayalah padaku, para pendahulu itu telah memahami Al-Qur'an sejak pertama kali ia diturunkan kepada mereka, dan mereka membacanya; sesuatu yang kini kami ceritakan kepada kalian. Saya ingin menegaskan, bahwa Ikhwanul Muslimin hidup dengan aqidah mereka, mengharapkan kebaikan yang banyak dari aqidah itu, rela mati karenanya, dan hanya di sana mereka menemukan segala impian jiwa mereka akan kesenangan, kebahagiaan, kebenaran dan keindahan.

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (AI-Hadid: 16)

Saudaraku, bila kini kalian setuju dengan kami atas prinsip ini, maka ketahuilah bahwa afiliasi (penisbatan nasab) kalian kepada Allah swt. mengharuskan kalian untuk memperhitungkan misi yang dibebankan di atas pundak kalian, bekerja dengan sungguh-sungguh dan berkorban sepenuh hati demi menegakkan misi itu. Nah, maukah kalian melakukan yang demikian itu?

MISI SANG MUSLIM

Allah swt. telah menyimpulkan misi seorang Muslim yang benar dalam satu ayat Al-Qur'an. Kemudian Al-Our'an menyebutnya lagi secara berulang-ulang dalam beberapa ayat. Ayat yang mengisyaratkan tentang misi seorang Muslim dalam hidup adalah :

 "Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu dijalan Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusa, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu kepada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong."
(AI-Hajj: 77-78)

Alangkah jelas pernyataan itu, tak ada kesamaran yang tersisa padanya. Alangkah terang pernyataan itu, seterang fajar, sebenderang cahaya siang. Ia memenuhi ruang pendengaran dan menyusup ke dalam relung hati, tanpa ada yang bisa menghalangi. Demi Allah, sungguh pernyataan itu menyimpan kelezatan yang teramat manis. Belum pernahkah kaum muslimin mendengar panggilan itu, sebelumnya? Atau apakah mereka
telah mendengarnya, tapi ada kunci-kunci yang menutupi ruang hati mereka, hingga mereka tak lagi bisa merenungi, memahami dan menyadarinya? Di sini Allah memerintahkan mereka melakukan ruku' dan sujud serta mendirikan shalat; intisari ibadah, tiang Islam dan simbolnya yang paling menonjol. Allah juga memerintahkan mereka untuk menyembah-Nya dan tidak menjadikan sesuatu pun sebagai sekutu bagi-Nya. Allah juga memerintahkan mereka melakukan kebajikan sepanjang kemampuan mereka. yang dengan itu, secara. otomatis Allah sesungguhnya juga hendak melarang mereka dari melakukan kejahatan. Karena sesungguhnya kebajikan pertama itu adalah meninggalkan kejahatan. Alangkah sederhana, alangkah tepat, alangkah bersahajanya! Di atas semua itu, Allah kelak akan memberikan keselamatan dan kemenangan. Itulah misi individu bagi setiap Muslim; ia harus melaksanakannya baik secara pribadi maupun bersama kelompok.

HAK KEMANUSIAAN

Setelah itu Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad, dengan jalan menyebarkan dakwah Islam kepada segenap umat manusia. Bila mereka enggan menerima dakwah Islam dan bersikap tiran serta zalim, maka kita diperintahkan menyebarkan dakwah itu dengan pedang. Dengarlah senandung para penyair :

Kalau manusia menolak hujjah dan bersikap tiran, Perang lebih baik bagi dunia dari perdamaian

MENJAGA KEBENARAN DENGAN KEKUATAN

Alangkah bijak orang yang pernah mengatakan ini, "Kekuatan adalah jalan yang paling aman untuk memunculkan kebenaran. Sungguh suatu keindahan yang sempurna bila suatu saat kekuatan bisa berjalan beriringan dengan kebenaran." Selain menjaga warisan dan tempat-tempat suci Islam, jihad menyebarkan dakwah Islam adalah suatu kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada kaum Muslimin. Kewajiban ini bobotnya sama besar dengan shalat, puasa, zakat, haji, berbuat kebajikan dan meninggalkan kejahatan. Allah mewajibkan hal itu kepada kaum muslimin, dan tidak memaafkan seorang pun -yang memiliki kekuatan dan kemampuan- kalau dia sampai meninggalkannya. Dengarlah, betapa kuat ayat berikut ini menegur dan menasihati,

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (At-Taubah: 41)

Setelah itu Allah menjelaskan rahasia dan hikmah di balik perintah ini. Allah swt. menjelaskan bahwa Ia telah memilih mereka (orang-orang mukmin) untuk menjadi pemimpin bagi hamba-hamba-Nya, sebagai penjaga syariat-Nya, khalifah di muka bumi-Nya, dan sebagai pewaris dakwah Rasul-Nya. Untuk itulah Allah menurunkan agama, merinci syariat, memudahkan hukum dan menjadikannya senantiasa sesuai dengan setiap
zaman dan tempat, sehingga dunia dapat menerimanya dan manusia dapat menemukan segala impiannya dalam ajaran itu. Allah berfirman :

"Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu jadi saksi atas kamu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia." (Al-Hajj. 78)

Itulah misi sosial yang dibebankan kepada kaum Muslimin; yaitu hendaklah mereka menjadi satu barisan, satu kekuatan, dan menjadi pasukan pembebas yang akan menyelamatkan kemanusiaan dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.

RAHIB DI MALAM HARI, DAN PENUNGGANG KUDA DI SIANG HARI

Allah juga menjelaskan tentang hubungan antara kewajiban-kewajiban individu semacam shalat dan puasa- dengan kewajiban-kewajiban sosial; bahwa kewajiban pertama adalah sarana menuju terlaksananya kewajiban kedua, dan bahwa aqidah yang benar adalah dasar bagi keduanya. Maka seseorang tidak dibenarkan meninggalkan kewajiban-kewajiban individu dengan alasan sibuk melaksanakan kewajiban sosial. juga sebaliknya, seseorang tidak dibenarkan meninggalkan kewajiban-kewajiban sosial dengan
alasan sibuk melaksanakan kewajiban individu, sibuk beribadah dan berhubungan dengan Allah swt. Sungguh suatu formula kebijakan yang seimbang dan sempurna.

"Dan siapakah yang lebih perkataannya dari perkataan Allah." Wahai kaum muslimin, beribadah kepada Tuhan, berjihad menegakkan agama dan meninggikan-Nya adalah misi kalian dalam kehidupan ini. Jika kalian melaksanakannya dengan baik, niscaya kalian akan memperoleh kemenangan. Tapi jika kalian hanya
melaksanakan sebagiannya atau bahkan melalaikan semuanya, maka biarlah kubacakan ayat berikut ini,

"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya." (Al-Mukminun: 115-116).

Sebagai wujud kepahaman terhadap makna yang diisyaratkan oleh ayat di atas, para sahabat Rasulullah saw. sebagai generasi pilihan Allah- tampil dengan julukan, "Layaknya Rahib-rahib di malam hari, dan penunggang kuda di siang hari." Ketika malam tiba, mereka berdiri di mihrab, hingga larut dalam kekhusukan shalatnya, menggeleng-gelengkan kepala dan menangis tersedu oleh dzikir panjang, seraya bergumam, "Wahai dunia, bukan aku orang yang bisa kau tipu. "Namun, begitu fajar menyingsing dan hari beranjak siang, gaung jihad menggema menyeru para mujahidin, niscaya kau lihat mereka segera melompat ke atas punggung-punggung
kudanya sembari meneriakkan syi'ar-syi'ar kebenaran dengan lantang, sehingga menembus segenap penjuru buana.

Demi Allah, apakah gerangan di balik keserasian yang ajaib, keharmonisan yang sempurna, perpaduan yang spektakuler antara urusan dunia berikut segala pernik perniknya dengan urusan akhirat dan segenap spiritualitasnya ini? Sebagai jawabannya; itulah Islam, yang senantiasa sanggup memadukan semua yang baik dari segala sesuatu. Wahai muslimin, untuk itulah setelah Rasulullah saw. kembali keharibaan Allah, kaum muslimin segera bertebaran di segenap penjuru bumi. Al-Qur'an ada dalam dada mereka, rumah-rumah mereka ibarat pelana-pelana kuda, dan pedang-pedang mereka senantiasa terhunus dalam genggaman. Dari lisan mereka mengalir deras hujjah-hujjah yang terang, menyeru manusia kepada salah satu dari tiga pilihan; Islam, jizyah, atau perang. Siapa yang memilih Islam, maka ia akan menjadi saudara kaum muslimin dengan menyandang hak dan kewajiban yang sama. Siapa yang membayar jizyah -sementara ia tetap dalam kekafirannya, maka ia akan berada di bawah lindungan dan perjanjian dengan kaum muslimin, di mana kaum muslimin akan memenuhi janji dan melaksanakan semua kewajibannya. Tapi bila ia tetap enggan, maka kaum muslimin akan memerangi mereka sampai Allah swt. berkenan memenangkan hamba-hamba-Nya, "Dan Allah tiada menginginkan kecuali menyempurnakan cahaya (agama)-Nya."

Mereka melakukan itu bukan karena ambisi kekuasaan, bukan pula karena semangat ekspansionis. Semua orang tahu kezuhudan mereka terhadap kedudukan dan popularitas. Agama Islam telah mengenyahkan semua kecenderungan menuju ke sana, di mana sekelompok orang menikmati hidup dengan cara mengorbankan sebagian besar manusia yang lain. Dalam Islam, seorang Khalifah tidak berbeda sama sekali dengan rakyat pada umumnya. ia mendapatkan gaji dari Baitul Mal sama seperti gaji yang diberikan kepada
orang lain. Ia sama sekali tidak mendapat lebih banyak dari mereka. Tidak ada yang membedakannya dengan rakyat kecuali wibawa dan kehormatan iman yang dianugerahkan oleh Allah swt. kepadanya.

Mereka tidak melakukan itu karena harta. Mereka bahkan sudah merasa cukup dengan sekerat roti sekedar untuk mengusir lapar, dan seteguk air untuk menghilangkan dahaga. Puasa bagi mereka adalah sebentuk upaya pendekatan kepada Allah. Mereka lebih akrab dengan rasa lapar daripada kekenyangan. Pakaian yang bersih dan sekedar dapat menutup aurat sudah cukup bagi mereka. Kitab Suci di tangan mereka setiap saat senantiasa memberi ingat dari keterjerumusan sebagaimana yang dialami oleh orang-orang kafir,

"Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka." (Muhammad:12)

Sementara itu Nabi mereka juga mengingatkan hal yang sama,

"Celakalah budak dinar. Celakalah budak dirham. Celakalah budak selimut."

Jadi, mereka keluar dari rumah-rumah mereka bukan karena ambisi kekuasaan, bukan juga untuk memburu harta dan popularitas, apalagi karena nafsu imperialisme. Mereka keluar semata-mata untuk menunaikan satu misi suci sebagaimana yang telah diwasiatkan nabi mereka, Muhammad saw. Sebuah amanat yang mengharuskan mereka berjihad dijalan Allah swt.,

"Supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (Al-Anfal:39)

Tuesday, 20 May 2014

KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA? (3)

APAKAH DASAR KEBANGSAAN ?

Saudaraku, marilah kita mendengar bersama gaung keagungan llahi yang menggema pada segenap ufuk, yang memenuhi mayapada dan tujuh susun langit, yang membisikkan dalam diri setiap mukmin makna kebanggaan dan kemuliaan tertinggi, saat ia mendengar panggilan ini; gaung itu didengar oleh langit dan bumi beserta isinya sejak Al-Amin menyampaikannya di alam wujud ini, sampai suatu. saat yang tak berpenghabisan, karena ia ditakdirkan untuk menjadi abadi,

"Sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman." (Al-Baqarah: 257)

Yah, benar saudaraku. Benar. Itulah panggilan Tuhanmu pada kalian semua. Maka kami menjawab panggilan-Mu, ya Allah. Segala puji, segala syukur yang tiada terbilang hanya untuk-Mu. Engkau dan hanya Engkaulah Pelindung orang-orang beriman, Penolong orangorang yang berbuat kebajikan, Pembela orang-orang tertindas, yang diperangi dalam rumah-rumah mereka sendiri dan diusir dari negeri-negeri mereka. Sungguh terhormatlah orang yang bersandar pada-Mu, dan niscaya menanglah orang yang berlindung di bawah perlindungan-Mu.

"Sesungguhnya Allah niscaya akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya." (Al-Hajj: 40)

Benar saudaraku, Benar. Marilah kita bersama mendengar suara Al-Qur'an yang Mulia, mari kita bersenandung ria dengan membaca ayat-ayatnya yang jelas, sembari mencatat indahnya kegagahan ini, yang tertera dalam lembaran-lembaran Kitab yang disucikan itu;

"Allah adalah Pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
menuju cahaya." (Ali Imran: 257)

"Tetapi (ikutilah Allah) Allah-lah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Pelindung.'' (Ali Imran: 150)

"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)." (Al-Maidah: 55)

"Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh." (Al-A'raf: 196)

Katakanlah, "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah, orang-orang yang beriman harus bertawakkal." (At-Taubah: 51)

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Yunus: 62)

"Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung."(Muhammad: 11)

Tidakkah engkau melihat bahwa dalam ayat-ayat yang jelas itu, Allah swt. telah menisbatkanmu kepada diri-Nya, memberimu keutamaan ketika berada dalam perlindungan-Nya dan membanjirimu dengan lautan keperkasaan-Nya?

"Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui." (Al-Munafiqun: 8)

Dan dalam hadits qudsi Rasulullah saw. bersabda,

"Allah swt. berfirman pada hari kiamat, 'Wahai anak cucu Adam, aku membuat nasab dan kalian pun membuat nasab, maka kalian berkata Fulan Bin Fulan, sedang Aku berkata, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu." maka hari ini Ku-tinggikan nasabKu dan Ku-rendahkan nasab kalian."' Itulah sebabnya saudaraku, kaum Salaf yang shalih lebih suka menisbatkan nasab mereka kepada Allah swt., dan menjadikan dasar shalat sebagai pusat segala amal mereka untuk mencapai nasab yang mulia. Dengarlah ketika seorang di antara mereka berseru, Jangan panggil aku kecuali dengan seruan "Hai hamba-Nya," karena itulah semulia-mulia namaku. Sementara ada lagi orang lain, ketika ditanya apakah ia berasal dari kabilah Tamim atau Qais, dia menjawab, Islamlah ayahku, aku tak punya ayah selain itu biarlah mereka bangga dengan Qais atau Tamim

TAK ADA KEHORMATAN SELAIN ITU

Saudaraku tercinta, orang sering membanggakan nasabnya karena -selain merasa lekat dengan kehormatan dan kejayaan yang pernah diraih oleh nenek moyang mereka-mereka ingin menanamkan rasa bangga dan wibawa pada diri anak-anak mereka, Tak ada maksud lain selain kedua hal itu. Maka apakah anda tidak melihat bahwa dengan menisbatkan nasab kepada Allah, berarti anda lelah memperoleh semua makna kehormatan' dan wibawa yang diimpikan oleh setiap orang?

"Sesungguhnya kekuatan itu semua hanya bagi Allah." (AnNisa': 139)

Bukankah itu yang akan mengangkat jiwa anda menuju ketinggian, meniupkan semangat kebangkitan bersama semua orang yang senantiasa berbuat? Adakah kemuliaan yang lebih agung dan kekuatan pendorong kepada keutamaan yang lebih hebat melebihi kenyataan ketika anda melihat diri anda menjadi Rabbani, di mana hubungan anda dengan Allah terus terpaut dan selalu kepada-Nya anda menisbatkan nasab? Maka untuk suatu hal tertentu, Allah swt. berfirman,

"Akan tetapi (dia berkata), 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (Ali lmran: 79)

SUMBER KEKUATAN TERBESAR

Dengan menisbatkan nasab kepada Allah swt. akan ditemukan makna tersendiri yang hanya ditangkap oleh mereka yang melakukannya. itulah wacana iman yang senantiasa penuh, keyakinan akan keberhasilan yang selalu memadati hati dan jiwamu, hingga tak lagi ada secuil pun rasa takut dalam dirimu kepada semua orang, bahkan juga kepada segenap alam, walaupun mereka semua berdiri tegak di hadapanmu, hendak merampas aqidah dan menodai ideologimu.

"(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan,'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." 
(Ali Imran: 173)

Kelompok orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada pertolongan dan bantuan-Nya itu, seringkali berdiri dengan gagah berani menghadapi bala tentara raksasa. mereka tidak takut pada keganasan pasukan, karena mereka hanya takut kepada Allah. Maka adakah kekuatan yang lebih dahsyat dari kekuatan yang dirasakan lelaki mukmin ketika dadanya bergelora dengan firman Allah swt,

"Jika Allah menolong kamu, niscaya takkan ada yang sanggup mengalahkanmu." (Ali Imran: 160)

KEBANGSAAN KAMI ADALAH NASAB UNIVERSAL

Ada satu makna lagi -dari sekian banyak makna keluhuran sosial- yang dirasakan seseorang ketika ia menisbatkan nasabnya (berafiliasi) kepada Allah swt. Yakni persaudaraan antar suku bangsa, yang dengannya akan mematikan fanatisme kesukuan yang telah mewariskan begitu banyak malapetaka kepada manusia. Maka siapakah yang dapat menyatukan dunia di bawah bendera Allah?

Monday, 19 May 2014

KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA (2)

TUJUAN ADALAH DASAR, PERBUATAN ADALAH BUAHNYA

Tujuan adalah dasar yang mendorong kita sepanjang perjalanan. Tapi karena tujuan itu masih samar bagi umat kita, maka adalah wajib bagi kami untuk menjelaskan dan membatasinya. Saya kira kami telah menjelaskan banyak hal. Kita telah sepakat bahwa tujuan kita adalah memimpin dunia, dan membimbing manusia kepada ajaran Islam yang syamil, di mana manusia tidak mungkin menemukan kebahagian kecuali bersamanya.

SUMBER-SUMBER TUJUAN KAMI

Itulah misi yang ingin disampaikan oleh Ikhwanul Muslimin kepada segenap, manusia; dan maksud yang mereka ingin agar umat Islam memahaminya dengan benar, untuk kemudian segera merealisasikannya dengan tekad yang bulat penuh gelora. Ikhwanul Muslimin tidak mengada-adakan itu dari diri mereka sendiri. Namun ia adalah misi yang setiap saat mengemuka pada tiap-tiap ayat Al-Qur'an; menampakkan diri dalam hadits-hadits Rasulullah saw.; terasakan dalam tindakan dan perilaku generasi pertama yang
merupakan panutan tertinggi dalam hal pemahaman dan pengamalan Islam. Bila kaum Muslimin bersedia menerima misi ini, maka itulah sesungguhnya manifestasi keimanan dan keIslaman yang benar. Tapi jika mereka merasa keberatan menerimanya, maka di antara kami dengan mereka ada Kitab Allah yang menjadi penentu hukum yang adil; apakah kebenaran itu ada pada kami ataukah pada mereka? Firman-Nya,

"Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan
Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 89)

MEREKA BERTANYA

Ada banyak pertanyaan dari saudara-saudara kami yang kami cintai dengan sepenuh hati, kami wakafkan kepadanya segenap potensi kami, bahkan harta dan jiwa kami untuk kebaikan dunia dan akhirat mereka, kami melebur berikut harta dan jiwa kami dalam tujuan besar itu; semua demi membahagiakan umat dan saudara-saudara kami. Di jalan panjang itu kami lupakan segala kesenangan, bahkan terkadang untuk anak-anak kami sendiri sekalipun. Saya berharap bahwa mereka yang bertanya-tanya itu suatu saat akan mengetahui betapa kesungguhan pemuda-pemuda Ikhwanul Muslimin; mereka begadang ketika semua
orang tertidur lelap, mereka gelisah di saat semua orang lengah. Lihatlah, seorang dari mereka duduk bekerja, berijtihad, dan berpikir keras di kantornya sejak sore hingga larut malam. Dalam hari-hari di sepanjang bulan ia terus melakukan itu. Sampai ketika akhir bulan tiba, ia pun mengumpulkan pendapatannya untuk kemudian menginfakkannya bagi jamaah dan dakwahnya. Ia menjadikan hartanya sebagai sarana mencapai tujuan suci dakwah ini. Seakan-akan lisannya yang suci hendak berkata, kepada kaumnya yang tidak pernah mengetahui betapa besar pengorbanannya, "Tak ada ganjaran yang kuharap, dari kalian. Aku hanya mengharap pahala dari Allah." Dengan ini kami sama sekali tidak bermaksud mengekspos kebaikan itu kepada umat kami. Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian. Kami adalah berasal dari mereka
dan ada untuk mereka. Pengorbanan ini adalah bagian dari pendekatan yang kami lakukan agar mereka berkenan menerima dakwah dan seruan kami.

DARI MANA SUMBER DANA ?

Saudara-saudara yang kami cintai itu yang memantau perkembangan Ikhwanul Muslimin secara teliti dan berkesinambungan bertanya, "Dari mana sumber dana yang kami pakai untuk dakwah yang telah meraih sukses demikian besar ini, sementara kondisi ekonomi sedang sulit dan jiwa-jiwa manusia sedang pelit?"
Saya senang untuk mengatakan kepada mereka bahwa dakwah-dakwah agama bertumpu pada iman dan aqidah, sebelum harta dan kekayaan dunia yang fana. Di mana ada seorang Mukmin yang benar, di situ akan selalu ditemukan seluruh sarana menuju sukses. Sebenarnya dana kami tidak terlalu banyak. Setiap anggota ikhwanul Muslimin selalu menyisihkan anggaran belanja keluarga untuk dakwah, dengan mengirit sesederhana mungkin dalam pemenuhan kebutuhan pokok bagi keluarga dan anakanaknya. Mereka melakukan itu dengan senang hati dan penuh kemurahan. Bahkan seseorang di antara mereka sering berharap untuk memiliki lebih banyak lagi harta, agar ia dapat menginfakkannya. di jalan Allah dengan lebih banyak pula. Dan jika seseorang diantara mereka tidak menemukan harta untuk diinfakkan, mereka akan berbalik dengan air mata bercucuran disebabkan kesedihan yang amat dalam karena tidak menemukan
sesuatu yang dapat mereka infakkan. Namun alhamdulillah, dengan dana yang sedikit, tapi dengan kebesaran iman dia telah menjadi sarana meraih kesuksesan bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa beribadah dan bekerja dengan penuh kejujuran dan kesungguhan. Dan sesungguhnya Allah, Dzat yang memiliki segala sesuatu akan memberkahi satu Qirsy (mata uang Mesir) dari Qirsy-qirsy yang diinfakkan oleh anggota Ikhwanul Muslimin.

"Allah akan memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah." (Al-Baqarah: 276)

"Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan pahalanya." (Ar-Ruum: 39)

KAMI DAN POLITIK

Ada juga sementara kalangan yang mengatakan, "Ikhwanul Muslimin adalah dakwah politik, para pendukungnya pun terdiri dari para politikus, dan karenanya mereka tentu memiliki kepentingan lain di balik dakwahnya itu." Saya sendiri tidak tahu, sampai kapan umat kita akan saling menuduh dan berkubang dalam intrik-intrik serta meninggalkan keyakinan yang didukung oleh fakta untuk sebuah praduga yang lahir dari kecurigaan semata?

Wahai kaum kami, sungguh ketika kami menyeru kalian, ada Qur'an di tangan kanan kami dan Sunah di tangan kiri kami, serta jejak kaum salaf yang saleh dari putera-putera terbaik umat ini adalah panutan kami. Kami menyeru kalian kepada Islam, kepada ajaranajarannya dan kepada hukum-hukumnya. Jika seruan itu kalian anggap sebagai politik, maka itulah politik kami. Dan jika orang yang menyeru kalian kepada itu semua kalian katakan sebagai politikus, maka alhamdulillah kami adalah politikus yang paling ulung. Jika
kalian ingin menyebut itu sebagai politik, silakan memberi nama apa saja yang kalian suka. Sebab nama sama sekali tidak penting bagi kami, selama muatan dan tujuannya jelas.

Wahai kaum kami, janganlah hendaknya kata-kata menghalangi kalian dari melihat kebenaran, jangan pula nama menghijab kalian dari tujuan. jangan sampai kemasan (bungkus) menghijab kalian dari muatannya yang hakiki. jangan sampai itu semua terjadi. Sesungguhnya dalam Islam ada politik, namun politik yang padanya terletak kebahagiaan dunia dan akhirat. itulah politik kami. Kami tidak menginginkan pengganti apa pun selain itu, maka pimpinlah diri kalian dengan politik itu dan ajaklah orang lain melakukan yang serupa, niscaya kalian akan memperoleh kehormatan di akhirat. Dan suatu saat kalian pasti akan tahu tentang kebenaran kabar ini.

Sunday, 18 May 2014

KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA? (1)

PENDAHULUAN

Dalam banyak kesempatan anda mungkin pernah berbicara kepada orang banyak tentang berbagai masalah. Anda yakin bahwa semua cara yang mungkin digunakan untuk menjelaskan apa yang anda inginkan, telah anda lakukan. Dan anda merasa bahwa semua telah menjadi jelas, sejelas fajar subuh, atau bahkan sejelas matahari di hari siang. Tapi seketika anda mungkin terhenyak. Karena ternyata para pendengar jauh dari memahami penjelasan anda.

Saya telah menyaksikan dan merasakan hal ini di banyak kesempatan. Saya percaya bahwa rahasia yang ada di balik itu adalah tidak akan lebih dari- salah satu dari dua hal berikut ini; pertama, mungkin karena tolak ukur yang digunakan oleh masing-masing kita dalam mempersepsi apa yang ia dengar dan apa yang ia katakan saling berbeda, sehingga terjadilah perbedaan pemahaman itu. Atau mungkin juga karena ucapan itu yang samar dan tidak jelas, meskipun sang pembicara sendiri yakin bahwa ia telah menyampaikannya
dengan jelas.

TOLOK UKUR

Melalui kalimat-kalimat berikut saya ingin menjelaskan -dengan sejelas-jelasnya tentang berbagai dimensi dakwah Ikhwanul Muslimin; meliputi tujuan, sasaran, metode dan sarana-sarana yang digunakannya. Tapi sebelumnya saya ingin membatasi tolok ukur yang harus digunakan dalam mengukur tingkat kejelasan tersebut. Kemudian saya akan berusaha untuk menjelaskannya semudah mungkin, sehingga setiap pembaca yang ingin mengambil manfaat daripadanya dapat memperolehnya. Saya kira tidak seorang Muslim
pun akan berbeda dengan saya untuk mengatakan bahwa tolok ukur itu adalah Kitabullah; dialah lautan dari mana kita meraup mutiara kecemerlangan, dan referensi kepada mana kita menentukan hukum.

WAHAI KAUM

Al-Qur'an Mulia adalah Kitab sempurana yang padanya Allah swt. memadukan dasar-dasar kepercayanan, kaidah-kaidah perbaikan sosial, prinsip-prinsip umum hukum keduniaan, serta sederet perintah dan larangan. Adakah kaum Muslimin telah melaksanakan kandungan Al-Qur'an itu? Adakah mereka telah meyakini kepercayaan-kepercayaan yang seharusnya diyakini? Benarkah mereka telah memahami betul tujuan-tujuannya? Kemudian, apakah mereka telah menerapkan sistem-sistem lain yanga vital dalam kehidupan mereka? Jika dalam pembahasan ini kita sepakat bahwa mereka telah melakukannya, maka itu berarti kita telah mencapai tujuan kita. Namun jika kita dapati mereka masih jauh dari al-Quran dan masih mengabaikan ajaran serta perintah al-Quran ketahuilah tugas kita kini adalah membawa kita dan mereka yang mengikuti kita untuk sama-sama ke arah ini.

TUJUAN HIDUP DALAM AL-QURAN

Al-Qur'an telah menjelaskan tentang tujuan hidup manusia dan sikap yang semestinya mereka ambil dalam menentukan tujuannya. Al-Qur'an menjelaskan bahwa sebagian manusia menjadikan makan dan kesenangan yang lain sebagai tujuan hidupnya. Firman Allah swt.,

"Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti
makannya binatang-binatang dan nereka adalah tempat tinggal mereka." (Muhammad: 12)

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia: dan di sisi
Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."(Ali-Imran: 14)

Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa ada sebagian manusia yang menjadikan penyebaran fitnah, kejahatan, dan kerusakan sebagian tujuan hidupnya. Firman Allah swt,

"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya. Padahal ia adalah penantang yang paling keras.Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kerusakan." (Al-Baqarah: 204-205)

Itulah beberapa macam tujuan manusia dalam menjalani hidupnya menurut Al-Qur'an. Allah swt. telah membersihkan kaum mukminin dari tujuan-tujuan buruk itu dan mencanangkan untuk mereka sebuah tujuan yang lebih mulia lagi luhur. Di atas pundak mereka Allah meletakkan beban besar yang sangat luhur; yaitu tugas membawa manusia ke jalan kebenaran, membimbing mereka ke jalan kebaikan, menerangi seluruh penjuru dunia dengan matahari Islam. Dengarlah firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu,
dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu di
jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia
sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama
orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari
dahulu, dan begitu pula dalam (Al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu
dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat,
tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu kepada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu maka
Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (Al-Hajj: 77-78)

Ini berarti bahwa Al-Qur'an telah menjadikan kaum Muslimin sebagai mandataris-Nya di hadapan umat manusia; memberikan kepada mereka hak kepemimpinan dan kewenangan atas dunia untuk menunaikan mandat suci itu. Jadi kekuasaan itu adalah hak kita, bukan hak Barat atau siapa pun: keberadaannya adalah demi peradaban Islam, dan bukan peradaban materialisme.

MANDAT SUCI ITU BERARTI PENGORBANAN, BUKAN PEMANFAATAN

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa dalam mencapai tujuan suci , kaum Muslimin rela menjual jiwa dan hartanya kepada Allah swt. dengan keimanannya mereka merasa tak berhak lagi atas jiwa dan hartanya. Keduanya telah menjadi wakaf di jalan Allah demi mensukseskan dakwah dan menyampaikannya kepada segenap hati mausia. Simaklah. firman Allah,

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (At-Taubah: 111)

Itulah sebabnya setiap Muslim menjadikan dunianya seagai wakaf bagi dakwahnya agar ia bisa mendapatkan akhirat sebagai balasan dari Allah atas pengorbanannya Itu pula sebabnya seorang pejuang Muslim adalah juga seorang guru yang memiliki semua sifat yang semestinya ada juga seorang guru; cahaya, hidayah, rahmat dan kelembutan. Sehingga pembebasan Islam berarti juga pembebasan demi peradaban, kemajuan, pengajaran dan bimbingan kepada seluruh umat manusia. Samakah ini dengan dominasi Barat sekarang, yang terwujud dalam bentuk imperialisme dan penindasan?

DIMANAKAH KAUM MUSLIMIN DARI TUJUAN ITU?

Demi Tuhanmu, saudaraku tercinta, apakah kaum Muslimin telah memahami makna itu dari AL-Qur'an sehingga jiwa dan ruh mereka naik ke langit ketinggian, terbebas dari perbudakan materialisme, bersih dari syahwat dan ambisi dunia, mengarahkan wajah dengan lurus kepada Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, menegakkan kalimat Allah dan berjuang di jalan-Nya, menyebarkan agama dan membela syariat-Nya? Ataukah mereka justru telah menjadi tawanan syahwat dan budak keserakahan, di mana mereka
hanya memikirkan makanan lezat, kendaraan megah, perhiasan mewah, tidur nyenyak, isteri cantik, penampilan parlente dan gelaran-gelaran palsu? Mereka sudah cukup senang dengan mimpi-mimpi dan teruji dengan keberuntungan Mereka bilang menyelami laut perjuangan tapi mereka toh tak teruji

Sungguh benar ketika Rasulullah saw. Bersabda,

"Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba selimut."

TUJUAN ADALAH DASAR, PERBUATAN ADALAH BUAHNYA

Tujuan adalah dasar yang mendorong kita sepanjang perjalanan. Tapi karena tujuan itu masih samar bagi umat kita, maka adalah wajib bagi kami untuk menjelaskan dan membatasinya. Saya kira kami telah menjelaskan banyak hal. Kita telah sepakat bahwa tujuan kita adalah memimpin dunia, dan membimbing manusia kepada ajaran Islam yang syamil, di mana manusia tidak mungkin menemukan kebahagian kecuali bersamanya.

Setelah mengetahui hal ini, wahai pembaca yang terhormat, maka ketahuilah bahwa tujuan Al-Ikhwan Al-Muslimun adalah menyeru umat manusia untuk menggapainnya, dimana Al-Quran juga telah menyerukan hal itu.

"Maka barangsiapa yang mengikutiKu maka sesungguhya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai Aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ibrahim : 36)

Apabila umat Islam telah memahami tujuan ini dan berkonsentrasi menggapainya, maka hal itu sudah cukup untuk membuka tabir kelalaian dalam diri mereka. Hal itu sudah cukup untuk menunjukkan titik-titik kelemahan mereka, membinbing umat menuju kebahagiaan yang dapat menyejahterakan kehidupan, memperbaiki kondisi masyarakat, dan merealisasikan harapannya.

Tuesday, 25 February 2014

Menjernihkan Hati

Hati dan pikiran yang jernih akan melahirkan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Sebab, kejernihan hati dan pikiran, selalu dilandasi dengan semangat keikhlasan untuk mengabdikan dirinya semata-mata karena Allah.
Itulah salah satu ciri orang yang beriman. Perbuatan yang demikian itu akan mampu menjadikan dirinya sebagai pembersih jiwa untuk meraih kebahagiaanhidup di dunia dan akhirat.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams [91]: 9-10).
Banyak cara dan langkah yang diajarkan Islam untuk menjernihkan hati dan pikiran tersebut. Pertama, memperbanyak istighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT disertai keyakinan untuk tidak mengulangi perbuatan-perbuatan yang salah.
Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3]: 135).
Kedua, membiasakan zikir dengan lisan, hati, dan amal perbuatan. Dirinya meyakini bahwa segala sesuatunya telah ditentukan oleh Allah. “(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS Ar-Ra’du [13]: 28-29).
Ketiga, memperbanyak zakat, infak, dan sedekah. Kesadaran untuk berzakat akan mampu mengembangkan dan memberikan keberkahan pada harta yang dimiliki (QS Ar-Ruum [30]: 39), serta mampu menjernihkan hati dan pikiran.
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS At-Taubah [9]: 103).
Dalam kaitan dengan kesediaan berzakat, berinfak, dan bersedekah ini juga akan meneguhkan etos dan etika kerja. Artinya, orang yang bekerja dengan hati dan pikiran yang jernih, niscaya mereka akan senantiasa senang bekerja dan tidak malas. Mereka akan menjadi manusia produktif, serta tidak melakukan perbuatan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. (QS Al-Mu’minun [23]: 1-4). Selain itu, mereka akan senantiasa menjaga perbuatannya dari hal-hal yang negatif dan tercela. Sebab, hal itu dapat merupakan amal perbuatannya.
Karena itu, marilah kita tunaikan zakat, agar harta, jiwa, hati, dan pikiran kita semakin jernih dan bersih, sehingga akan mampu meraih kesuksesan hidup di dunia maupun di akhirat.
Sumber: Kolom Hikmah Republika

Monday, 24 February 2014

Kisah "Asep Penjual Gorengan"

Kisah "Asep Penjual Gorengan"

Senin, 24 Februari 20140 komentar

Ahmad Heryawan - Gubernur Jawa Barat
Graha Sanusi Hardjawinata berdiri dengan megah nan kokoh. Gedung itu memiliki tempat spesial dalam hati dan catatan sejarah hidup saya. Di sinilah pertama kali saya diterima secara resmi sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran. Setelah mengalami berlaksa suka duka sebagai mahasiswa, di tempat ini pulalah saya diwisuda sebagai seorang sarjana. 


Hari ini saya kembali memasuki gedung tersebut dalam konteks yang berbeda. Momentum ini menjadi sangat istimewa karena saya mendapat kehormatan diminta memberikan pengantar pembekalan kepada 1500 Tenaga Penggerak Desa (TPD) BKKBN, Jawa Barat. Selain itu, saya berkesempatan memandu acara inti
berupa talkshow, dengan pembicara di antaranya, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Netty Prasetiyani.

Hari itu bertambah istimewa karena menjelang pertemuan tersebut, Pak Ahmad Heryawan baru saja mendapatkan penghargaan Satyalencana Wira Karya bidang Kependudukan dan Keluarga Berancana dari Pemerintah Pusat. Penghargaan itu merupakan penghargaan ke sekian puluh yang diterimanya atas prestasi dan karya nyatanya dalam membangun Jawa Barat.

Hari itu benar-benar istimewa, bukan hanya karena acara yang dihadiri hampir 1500 peserta tersebut berjalan lancar, melainkan karena dalam forum itu pula terungkap sebuah rahasia yang memberikan inspirasi kepada saya dan juga para peserta yang hadir.

Mari kita kembali pada momentum inspiratif pada hari itu...

Setelah menyampaikan pengantar pembekalan berupa ice breaking dan materi singkat terkait harapan agar 1500 peserta yang datang dari berbagai pelosok Jawa Barat itu menjadi agent of change di daerahnya masing-masing, saya diminta langsung memandu acara talkshow. Saya mempersilakan pembicara pertama untuk tampil, yakni Gubernur Jawa Barat. Pak Ahmad Heryawan masuk dengan tenang. Ia tidak langsung menempati tempat duduk yang telah disediakan, melainkan menyalami beberapa peserta dekat pintu masuk. Rupanya, semua orang yang berada di baris depan berebutan bersalaman dengan Pak Gubernur. Ia pun dengan tersenyum menyalami orang-orang tersebut.

Format acaranya santai dan dialogis, miriplah seperti acara “Hitam Putih”-nya Deddy Corbuzier atau “Bukan Empat Mata”- nya Tukul Arwana yang sesekali diselingi dialog canda tawa. Setelah Gubernur menyampaikan arahan dan dialog singkat, saya pun memanggil pembicara kedua, yakni istri gubernur, Ibu Netty Prasetiyani. Beliau pun masuk dengan menyalami peserta yang berdekatan dengan jalur menuju sofa tempat talkshow.

Ini kesempatan langka, Gubernur dan Istri berada dalam satu forum dan format acara yang santai. Muncul ide untuk menggali keseharian dua orang penting di Jawa Barat itu sebagai profil mereka sebagai satu keluarga.

Saya bertanya tentang interaksi mereka dengan anak-anaknya. Bu Netty Prasetiyani menjawab, “Untuk menyampaikan nilai yang mendidik kepada anak-anak, terkadang saya menggunakan teknik bercerita. Anak-anak senang mendengarkan cerita di malam hari menjelang tidur. Salah satu cerita yang paling digemari anak-anak, bahkan sering minta diulang, adalah ‘Kisah Asep Penjual Gorengan’.”

Saya tertarik dengan kalimat terakhir dari Ibu Netty Prasetiyani. Saya pun meminta kesediaan beliau untuk menceritakan isi kisah ‘Asep Penjual Gorengan’ yang telah memikat hati anak-anak Gubernur Jawa Barat. Ibu Netty tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian, beliau melihat semua peserta yang seperti sudah tak sabar.

Bagaikan seorang ibu yang sedang mendongeng kepada anakanaknya, beliau mulai bercerita: 
“Ada seorang anak SD yang tinggal bersama neneknya. Namanya Asep. Setiap berangkat sekolah, ia berjualan gorengan. Ia tidak malu berjualan gorengan untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya. Terkadang, ia berangkat ke sekolah sambil nyeker (tanpa alas kaki) karena keterbatasan (ekonomi) keluarganya. Di luar waktu sekolah, Asep mengisi waktu luangnya dengan belajar. Ia terkenal kutu buku. Sering sekali ia membaca buku dengan semangat di atas pohon, padahal di bawah dekat pohon itu ada kuburan. Saat suasana mulai gelap, barulah ia turun dari pohon tersebut. Ia juga sering mengaji Al-Qur’an di masjid.
Ahmad Heryawan saat SMP

Selain ilmu umum di sekolah, ia pun senang belajar ilmu-ilmu agama Islam. Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, Asep bisa melanjutkan sekolah sampai SMA. Pada saat SMA, minat dan semangatnya terkait agama menyebabkan Asep aktif di rohis (kerohanian Islam). Keilmuan Asep di bidang agama pun mulai diakui oleh masyarakat. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah sering menjadi ustadz muda yang diminta berceramah dari satu kampung ke kampong lainnya.

Suatu ketika, Asep sedang menyampaikan ceramahnya dengan bahasa yang sistematis dan jelas. Para hadirin terpesona dengan penjelasan Asep yang sederhana dan mudah dipahami. Ada seorang wanita yang matanya sembap, air mata pun mengalir. Ia bersyukur kepada Allah karena Asep diberi karunia ilmu agama dan dipercaya oleh masyarakat. Ternyata, wanita tersebut adalah ibunda Asep yang ikut hadir. Setelah SMA, Asep diterima kuliah di IPB. Namun, dengan berat hati ia tidak melanjutkan kuliah karena memprioritaskan adikadiknya yang masih sekolah dan perlu biaya yang banyak. Ia pun sempat diterima di IAIN Sunan Gunung Djati (sekarang UIN Sunang Gunung Djati). Dengan keterbatasan ekonomi keluarganya, Asep berusaha mencari beasiswa.

Alhamdulillah, pada saat itu ada pengumuman penerimaan mahasiswa baru Universitas Muhammad Ibnu Sa‘ud Saudi Arabia cabang Asia Tenggara. Asep mendaftar dan lulus dengan beasiswa penuh untuk belajar bahasa Arab dan ilmu syariah di universitas tersebut. Asep belajar dengan tekun sehingga berhasil lulus kuliah. Setelah lulus, Asep terus aktif dalam dunia dakwah. Ia pun dikenal oleh masyarakat sebagai salah seorang da‘I yang juga aktif dalam bidang pendidikan dan politik.

Nah, Asep yang dulu penjual gorengan itu sekarang ada di rumah kita,” pungkas Bu Netty Prasetiyani sambil tersenyum mengakhiri cerita kepada anak-anaknya. “Oh, jadi Asep penjual gorengan itu Bapak, ya?’ Itulah ungkapan yang muncul dari anak-anak saat pertama kali mendengar cerita ‘Asep Penjual Gorengan’,” tambah Bu Netty.

Akhir cerita itu membuat saya terpana. Sepertinya, para peserta pun demikian. Kami tidak menyangka bahwa ternyata kisah “Asep Penjual Gorengan” itu adalah kisah nyata Gubernur Jawa Barat saat masih kecil, di daerah Sukabumi. Ternyata, Asep itu adalah panggilan Pak Ahmad Heryawan waktu kecil. Saya baru ingat bahwa Universitas Muhammad Ibnu Sa‘ud cabang Asia Tenggara itu bernama LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) yang bertempat di Jakarta dan merupakan kampus tempat Pak Ahmad Heryawan dahulu berkuliah dan menimba ilmu bahasa Arab dan keislaman.

Saya menatap wajah Pak Ahmad Heryawan yang tampak ikut terharu teringat pengalaman masa kecilnya. Ada anggukan kecil disertai senyuman seolah membenarkan apa yang baru saja dijelaskan oleh istri tercinta. Tiba-tiba, saya seolah tersedot ke masa lalu dan seolah menyaksikan seorang anak SD berjualan gorengan dan terkadang berangkat ke sekolah dengan nyeker karena keterbatasannya. Kini, anak itu menjadi Gubernur Jawa Barat yang sedang duduk berdekatan dengan saya pula. Subhanallah....

Kisah “Asep Penjual Gorengan” itu sungguh menginspirasi. Bukan hanya bagi saya, bagi 1500 peserta yang hadir pun demikian. Dalam lembar evaluasi yang dibagikan panitia di akhir acara, ada salah seorang yang menyatakan, “Saya terkesan dengan kisah ‘Asep Penjual Gorengan’. Saya akan menceritakannya kembali kepada anak-anak saya.”