Sunday, 15 March 2015

APAKAH KITA PARA AKTIFIS (5)


MENENTUKAN SARANA DAN MENYANDARKAN PADA PRINSIP

Engkau telah mengetahui wahai pembaca yang budiman, bahwa Ikhwanul Muslimin mengemban misi utama pembinaan jiwa, pembaharuan mental, pengokohan akhlak, dan penumbuhan sikap ksatria yang lurus. Inilah pondasi yang di atasnya bakal ditegakkan kebangkitan umat. Mereka mencari tahu apa saja sarana untuk itu dan bagaimana cara yang harus digunakan untuk sampai ke sana.

Mereka tidak mendapatkan kata jawaban yang lebih tepat daripada kata “agama”. Agama itulah yang akan menghidupkan nurani, membangkitkan perasaan, mengetuk hati, menjadi pengawas dan penjaga jiwa yang tak pernah lalai, menjadi saksi yang tak pernah pura-pura, tak pernah menyesatkan, dan tak pernah melupakam pemiliknya di waktu pagi maupun perang, di tengah keramaian maupun ketika
sendirian. Dia pula yang memberi ilham yang mendorong seseorang berbuat kebajikan, yang menghardiknya dari perbuatan dosa, yang menjauhkannya dari jalan yang menyesatkan, dan yang memberi rambu-rambu untuk memahami jalan kebajikan dan jalan kejahatan.

"Apakah mereka mengira bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikanbisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka." (Az-Zukhruf: 80)

Ia pula yang menghimpun berbagai nilai keutamaan dan kemuhaan yang menyediakan untuk setiap keutamaan pahalanya dan setiap kemuliaan balasannya, dan dia pulalah yang menyerukan aktivitas pembersihan hati serta penyucian ruhani.

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (AsySyams: 9-10)

Agama pula yang menyeru manusia kepada pengorbanan di jalan kebenaran dan pembinaan akhlak. Yang menjamin siapa saja yang melakukannya dengan pahala yang sebesar-besarnya, yang memperhitungkan kebajikan betapa pun kecilnya, dan memperhitungkan kejahatan betapa pun remehnya. Ia yang mengganti kehancuran dalam membela kebenaran dengan keabadian dan menghidupkan kembali kematian di medan jihad.

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka," (Ali Imran: 169-170)

"Kami akan memasang timbangan yang tepat Pada hari Kiamat maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika amalan itu hanya sebesar biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya, Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan," (Al-Anbiya’: 47)

Ia pula yang sanggup menebus segala kemegahan duniawi ini dari setiap orang dengan harga berupa kebahagiaan yang menuhi jiwanya dan menenteramkan hatinya. Ialah anugerah rahmat, kasih sayang, dan ridha Allah swt. "Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal."(An-Nahl: 96)

Ia menghimpun semua keutamaan tersebut, lalu mengiringi fitrah hati, dan jiwa. setelah itu meleburlah masing-masing keutamaan kepada yang lainnya, menyusup ke sela-sela molekul ruhani, memandu akal pikiran, dan akhirnya bersatu-padu tanpa berpisah lagi. Perpaduan inilah yang membangkitkan rasa suka cita para petani di ladangnya dan para buruh di tempat kerjanya. Ia menjadikan si kecil mengerti dan menikmati ilmu pengetahuan di meja perpustakaannya; ia menjadikan si cendekia merasa lezat dengan studi dan telaahnya dan ia pula yang menerbangkan benak si filosof dengan perenungannya. Apakah anda melihat sesuatu yang dapat menguasai jiwa
manusia lebih kuat daripada agama? Apakah anda membaca dalam sejarah umat manusia suatu faktor yang paling dahsyat pengaruhnya pada kehidupan masyarakat daripada agama? Dan apakah anda menyaksikan suatu dampak dari kehidupan para filosof dan cendekiawan sehebat apa yang dimiliki para nabi dan rasul? Sekali-kali tidak! Karena agama adalah seberkas cahaya Allah yang menembus jiwa, yang menerangi kegelapannya, dan mencerahkan cakrawalanya. Jika ia telah tertanam kuat di dalam jiwa, semuanya bakal disiapkan untuk menjadi tebusannya.

"Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk Kepada orang-orang fasik." (At-Taubah: 24)

Dia pulalah yang melambung tinggi bersama kesakralan dan keagungannya melampaui segala sesuatu; ia berada di atas segenap makhluk dan jauh dari arus taklid buta. Dengan begitulah ia menyatukan hati, menghimpun kata dan memutus setiap bentuk perselisihan dan pertikaian dari akar-akarnya, sehingga terciptalah kekuatan dan ketegaran untuk membimbing kalbu menuju haribaan Allah swt, semata seiring dengan itu, ia memalingkan jiwa dari pengaruh daya tarik duniawi dan kenikmatan syahwati dengan hasrat dan amalnya- untuk menuju martabat para mukhlisin yang setia, yang segenap aktivitasnya hanya diperuntukkan bagi Allah swt.

"Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya." (Asy-Syura: 13)

Dia pula yang mengantarkan kesetiaan hati menuju syahadah (mati syahid) dan menjadikannya sebagai kewajiban yang akan dimintai tanggung jawabnya di hadapan Allah. Dia menjadikan syahadah itu sebagai kendaraan yang membawanya ke naungan ilahi, serta menjadikannya bukti kepahlawanan yang total dan kejujuran yang sejati.

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya." (Al-Ahzab: 23-24)

Dia tempat terhimpunnya pemikiran yang sehat dan tempat berseminya cita-cita yang luhur. Ia adalah simbol harapan bagi pribadi, masyarakat, bangsa, dan dunia seluruhnya.

"Kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya." (Al-Munafiqun: 8)

Sebagian orang berpikir untuk memperbarui masyarakat dengan perangkat ilmu pengetahuan, sebagian lainnya berpendapat dengan perangkat seni dan tradisi, dan sebagian lainnya menganggap cukup dengan pembinaan olah raga. Semua itu bisa jadi benar dan bisa jadi salah, dalam konteks makna yang terbatas. Saat ini bukanlah saatnya untuk memberi tanggapan, kritik, dan penilaian atasnya. Akan tetapi satu hal yang ingin saya katakan, lkhwanul Muslimin melihat bahwa sarana yang paling tepat untuk memperbaiki kepribadian umat adalah agama Di samping itu ia melihat pula bahwa agama Islam telah menghimpun kebaikan seluruh perangkat di atas.

Sedangkan menyangkut perangkat operasional pertama untuk menyucikan jiwa dan memperbarui ruhani, ia adalah "Pembatasan sarana dan pemilihan pondasi". Di atas landasan inilah aqidah Ikhwanul Muslimin dibangun, dengan merujuk kepada Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya, tanpa keluar darinya sedikit pun. Dan Ikhwan mewajibkan dirinya untuk menjaga, mewujudkan, dan loyal kepadanya. Saya berkeyakinan bahwa inilah sarana operasional untuk pembinaan jiwa dan pelurusan akhlak. Dalam kaitan ini, saya mengingatkan kepada setiap akh muslim bahwa adalah kewajibannya untuk menjaga aqidah dan bekerja untuk mewujudkan kandungannya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (At-Taubah: 119)

Thursday, 25 September 2014

APAKAH KITA PARA AKTIFIS (4)

MEMPERSIAPKAN GENERASI

(Dimuat oleh harian Ikhwanul Muslimin, Edisi XVII, 20 Jumadil Ula 1353 H.)

Pada tulisan yang lalu anda melihat bahwa Jam'iyah lkhwanul Muslimin adalah pelopor dakwah yang produktif di bidang proyek-proyek sosialnya, seperti: pembangunan masjid, sekolah, yayasan, majelis ta'lim, seminar-seminar, ceramah umum, dan forum diskusi. Pendeknya, proyek Ikhwan memadukan antara ucapan dan tindakan.

Namun demikian, masyarakat mujahid, yang menghadapi tantangan persoalan kontemporer dan berada di titik peralihan peradaban, yang ingin membangun masa depannya di atas pondasi yang kokoh, yang berusaha menjamin generasi mudanya dengan kesejahteraan dan kedamaian hidup, yang tengah menuntut kembalinya kebenaran yang terampas dan harga diri yang tercabik, membutuhkan bangunan yang lain dari sekedar bangunan sosial ini. Ia sangat membutuhkan tegaknya bangunan jiwa, bangunan akhlak, dan bangunan pribadi generasi muda dengan mentalitas kepeloporan yang benar untuk dapat mengatasi berbagai tantangan hidup di masa depan.

Generasi muda adalah rahasia kehidupan umat dan sumber mata air kebangkitannya. Sesungguhnya sejarah umat adalah sejarah para tokoh yang dilahirkannya, yang memiliki mentalitas kuat dan hasrat nan membara. Kuat lemahnya umat sesungguhnya diukur dari sejauhmana kemampuan 'rahim' umat itu untuk melahirkan tokoh-tokoh yang memenuhi syarat sebagai pelopor. Saya berkeyakinan dan sejarah membuktikannya, bahwa satu orang pelopor (saja) dapat membangun umat jika ia memiliki karakter kepeloporan yang benar. Sebaliknya, ia mampu menghancurkan umat jika keadaan menuntut ia harus melakukannya.

Sesungguhnya kehidupan umat itu bergerak melalui berbagai tahapan, persis sebagaimana tahapan-tahapan kehidupan yang dilalui oleh seseorang. Ada seseorang yang tumbuh berkembang dalam asuhan orang tua yang bergelimang kemewahan, sehingga ia tidak pernah disibukkan oleh berbagai persoalan hidup. Sementara yang lain tumbuh dalam situasi yang sulit; kedua orang tuanya miskin dan lemah, sehingga ia tidak memiliki harapan akan munculnya benderang fajar kehidupan di masa depan. Ia banyak berhadapan dengan tuntutan hidup yang pelik yang datang dari segala penjuru.
Mahasuci Allah yang telah membagi-bagi nasib dan menciptakan ragam nuansa hidup, kepada umat manusia.

Boleh jadi ada situasi di mana kita hidup di tengah generasi yang tumbuh di tengah berbagai bangsa yang saling bertikai dan menimpakan bencana pada sesamanya, dimana muncul slogan: “Siapa yang kuat, dialah yang menang”. Ada pula situasi di mana kita berhadapan dengan masa peralihan peradaban yang dahsyat, di mana berbagai gelombang pemikiran dan berbagai arus kepentingan
menjungkirbalikkan umat manusia, baik sebagai pribadi, masyarakat, organisasi-organisasi
pemerintahan, dan lainnya. Akal pikiran menjadi kacau balau. jiwa pun terguncang meradang, dan orang yang beraqidah bersih pun kebingungan berhadapan dengan gelombang dahsyat peradabannya. Ia meraba-raba untuk mencari jalan keluar, sementara rambu-rambu kebenaran timbul tenggelam dan cahayanya pun meredup, bahkan nyaris tak bersinar.

Sementara itu di setiap ujung jalan berdiri para propagandis kesesatan yang menyeru manusia menuju kegelapan malam yang pekat. Keadaan yang demikian itu membuat kami tidak menemukan lagi kata-kata untuk menggambarkannya secara lebih tepat selain dari "kacau".

Demikian pula, ada saatnya di mana kita harus menghadapi semua ini dan berjuang untuk menyelamatkan umat dari mara bahaya yang mengepung dari seluruh penjuru.

Sesungguhnya umat yang dilingkupi oleh situasi sebagaimana yang ada sekarang ini, yang hendak bangkit untuk suatu kepentingan sebagaimana kepentingan kami, yang menghadapi berbagai tantangan sebagaimana yang kami hadapi, tidak patut bersantai ria dan berkhayal belaka. Sebaliknya, ia harus menyiapkan dirinya untuk memikul beban perjuangan berat di perjalanan nan panjang, untuk menghadapi pertempuran antara hak dan batil, antara maslahat dan mafsadat, antara pemilik kebenaran dan perampasnya, antara peniti jalan yang lurus dan pengacaunya, antara para da'i yang tulus di satu sisi dari da'i palsu di sisi lainnya. Ia harus memahami bahwa kata "perjuangan" itu identik dengan kata "lelah" dan "sulit". Sebaliknya, kata "santai" tidak pernah sekalipun berdampingan dengan kata "jihad".

Bagi umat, tidak ada bekal yang dapat digunakan untuk menghadapi situasi yang buas ini kecuali hati yang sarat iman, hasrat yang kuat dan kemauan yang keras, sikap murah hati dan kesediaan berkorban, serta kesiapan terjun ke medan juang pada waktunya. Tanpa ini semua, umat akan hancur, perjuangan senantiasa menuai kegagalan, dan nasib tak menentu bakal menimpa generasinya.

Meskipun situasi yang kami hadapi demikian pelik dan berat, sebagaimana anda ketahui, namun jiwa kami tetaplah jiwa yang lembut, sensitif, dan tenang. Demikian lembut dan sensitifnya, sehingga jika kedua pipi ini diterpa hembusan angin sepoi, cukup membuatnya terluka, dan jika ujung jari ini disentuh ujung kain sutera, cukup menjadikannya berdarah. Sedangkan para pemuda dan pemudi kami, sebagai harapan masa depan dan gantungan cita-cita, tetaplah sebagai generasi; yang nasib baik mereka merupakan kebanggaan dan harga diri yang harus diperjuangkan. Meskipun untuk itu
kami harus mengorbankan kemerdekaan, kemuliaan, atau membayar dengan terampasnya. hak-hak umat.

Kalian menyaksikan ironi pada diri para pemuda yang lisannya fasih mengucapkan kata-kata segar dan di guratan wajahnya terbersit air muka yang jernih dan berkilau, menghiba di depan pintu berbagai kantor untuk melamar pekerjaan.

Kalian menyaksikan mereka itu berjuang mati-matian mencari koneksi kepada berbagai pihak untuk melicinkan jalan. Wahai sahabatku, jika mereka telah memperoleh pekerjaan yang mereka impikan itu, apakah anda berpikir bahwa suatu hari mereka akan siap meninggalkannya. demi harga diri atau kehormatannya, meskipun mereka sesungguhnya juga mengalami penderitaan dan penindasan dalam bekerja?

Mentalitas kita -hari-hari ini- sungguh membutuhkan pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan perbaikan bagi akhlak yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Cita-cita besar yang menggelayuti akal pikiran para da'i pembaharu di satu sisi, dan problematika yang demikian berat di sisi yang lain, menuntut kita untuk segera memperbaharui mentalitas dan membangun jiwa kembali dengan bentuk bangunan yang bukan sekedar sebagaimana yang pernah kita miliki; yang telah lapuk dimakan usia dan telah lenyap ditelan berbagai tragedi.  Tanpa proses ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini kita tidak mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.

Jika kalian mengetahui semua ini dan senantiasa sepakat dalam memahami bahwa standar ini adalah standar yang lebih pas dan lebih detail untuk menimbang kadar kebangkitan umat maka ketahuilah bahwa tujuan pertama yang digariskan oleh Ikhwanul Muslimin adalah tarbiyah shahihah, yakni pembinaan umat untuk mengantarkannya menuju kepribadian yang utama dan mentalitas yang luhur.
Pembinaan -untuk membangun jiwa yang dinamis- itu ditegakkan dalam rangka merebut kembali kemuliaan dan kejayaan umat dan untuk memikul beban tanggung jawab di jalan yang mengantarkan kepada tujuan.

Setelah menyimak penjelasan ini, barangkali kalian bertanya, 'Apa saja sarana yang dipergunakan lkhwanul Muslimin untuk memperbaharui mentalitas dan meluruskan akhlak mereka? Apakah Ikhwan pernah mencoba menggunakan sarana tersebut? Dan sejauhmana keberhasilan percobaan itu?"

Monday, 1 September 2014

APAKAH KITA PARA AKTIFIS (3)

YAYASAN-YAYASAN DAN PROYEK-PROYEK

Pemikiran Ikhwanul Muslimin telah tersebar di lebih dari lima puluh wilayah di Mesir. Di setiap wilayah tersebut, Ikhwan, Mendirikan proyek-proyek amal dan lembaga-lembaga sosial. Engkau, dapat menyaksikan, di Ismailiyah telah dibangun masjid dan gelanggang Ikhwanul Muslimin. juga dibangun lembaga pendidikan Islam Hira' untuk anak-anak, dan sekolah untuk kaum ibu muslimah dalam rangka memberi
bekal kepada mereka bagaimana mendidik putra putrinya.

Di Syibrakhit juga didirikan masjid Ikhwan, gelanggang olah raga, dan ma'had (lembaga pendidikan) Hira' dalam satu kompleks. Di sebelah kompleks yang besar itu dibangun gedung latihan yang diperuntukkan bagi siswa-siswa ma'had yang tidak bisa menyelesaikan pendidikan. Jam'iyah ini membekali mereka dengan berbagai keterampilan. untuk mencetak tenaga trampil yang berwawasan dan pekerja yang bermoral.

Di Mahmudiyah Al-Buhaira didirikan proyek seperti itu pula, Di sana dibangun pabrik tenun untuk memproduk karpet, sajadah, dan yang semacamnya, persis di sebelah ma'had Tahfidzul Qur'an yang bertempat di gelanggang lkhwanul Muslimin. Ma'had Tahfidul Qur'an telah mengeluarkan banyak alumnus, padahal waktu berdirinya belum terlalu lama. Lihatlah, para penghafal Qur'an yang lihai bermunculan dalam
waktu yang relatif singkat, di mana hanya sedikit saja dari lembaga pendidikan yang ada yang dapat menghasilkan serupa itu.

Rasanya tidak perlu saya tuliskan satu persatu, yang jelas bahwa setiap cabang Ikhwanul Muslimin hampir di seluruh wilayah Mesir telah mendirikan berbagai proyek sosial, dari Adfoo hingga Iskandariyah. Di banyak yayasan Ikhwan, kita dapati lembaga yang menangani kerja sosial di bidang advokasi. Dengan izin Allah, ikhwan dapat menyelesaikan berbagai kasus dengan segera,yang jika ditangani oleh lembaga hukum pemerintah akan membutuhkan waktu yang lama.

Ada lagi lembaga yang bergerak di bidang santunan sosial, khususnya kepada para fakir miskin di hari-hari raya. itu semua untuk meringankan beban mereka di satu sisi dan untuk ikut membentengi mereka dari upaya licik kelompok zeding (kristenisasi) di sisi yang lain.

Banyak juga lembaga. ikhwan yang aktif di bidang; penerangan dan konseling yang bergerak di tempat-tempat yang belum atau tidak tersentuh oleh aktivitas tersebut, seperti warung-warung kopi, gelanggang-gelanggang umum, tempat-tempat pesta, dan forum-forum upacara kematian. Di banyak tempat, khususnya daerah perkampungan, Ikhwan juga mendirikan lembaga yang bergerak di sektor pelayanan umum, seperti: pembangunan masjid, pembersihan jalan, penetangan gang-gang, pengadaan puskesmas keliling, dan usaha
usaha lain yang mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat, baik untuk urusan dunia maupun agamanya.

Di tempat lain didirikan pula lembaga yang bekerja untuk memerangi tradisi yang rusak dan kebodohan yang merajalela, terutama di tempat-rempat yang jauh dari lingkungan ilmiah Pada saat yang bersamaan didirikan pula lembaga untuk menghidupkan sunah dan kewajiban agama yang secara praktek telah banyak dilupakan
orang, meskipun secara teori masih banyak diketahui seperti mengumpulkan zakat biji-bijian yang disimpan di tempat khusus lalu membagikannya-dengan sepengetahuan jamaah-kepada orang-orang yang berhak menerimanya (tanpa tujuan mempengaruhi), sebagaimana yang dilakukan Ikhwan di wilayah Barambal beberapa waktu yang lalu.

Di Kairo didirikan pula koran mingguan lkhwanul Muslimin yang disusul kemudian dengan berdirinya percetakan milik Ikhwan. Semua itu dapat terwujud dalam kurun waktu kurang dari setahun. Jam'iyatul Ikhwan juga memberi perlindungan kepada kaum fakir miskin dari pengaruh misionaris akhir-akhir ini. Maka rumah-rumah Ikhwan pun menjadi tempat penampungan mereka, lembaga-lembaga latihan Ikhwan memberi bimbingan kepada mereka, dan sekolah-sekolah Ikhwan pun siap mendidik mereka. Para pengurus lembaga memberi peringatan kepada masyarakat akan bahayanya para misionaris yang sesat itu. yang selalu mengelabui mereka dengan aqidahnya dan sibuk menyesatkan orang-orang yang lemah dan fakir miskin.

Itulah beberapa dampak konkret aktivitas Ikhwanul Muslimin. Saya tidak perlu lagi menyebutkan berbagai majelis ta'lim ceramah, diskusi, serta kunjungan dan wisata, yang semua ini biasanya dikenal dengan istilah dakwah bil lisan. Kami pernah mengatakan bahwa kami telah lelah berbicara dan telah bosan berpidato. Kini tinggallah kami berbuat sesuatu yang nyata, Engkau barangkali terkejut ketika mengetahui bahwa Ikhwanul Muslimin, dalam melakukan kerja raksasa ini, tidak meminta bantuan dana dari pemerintah maupun pihak
lain, kecuali 500 junaih (mata uang Mesir) yang pernah disumbangkan oleh Koperasi Terusan Suez untuk membantu pembangunan masjid dan sekolah di Ismailiyah.

Banyak orang menduga-sebagian dugaan adalah perbuatan dosa-dan berkata tentang Ikhwan dengan sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu. Namun, semua itu tidak menjadi masalah bagi kami dan cukuplah bagi kami bahwa Allah swt. mengetahuinya. itu semua karena limpahan taufik dan hidayah-Nya dan bahwa harta itu adalah harta khusus anggota Ikhwan, yang diberikan dengan hati yang tulus ikhlas. Maka diberkatilah harta itu dan datanglah buahnya setiap saat dengan seizin Tuhannya, Cukuplah kami katakan kepada setiap orang dan semua pihak di mana pun ia berada dengan terus-terang bahwa Ikhwanul Muslimin tidak membiayai proyek-proyeknya selain dengan iuran para anggotanya. Dengan begitulah mereka eksis dan semakin percaya diri. Sementara para anggota mendapatkan kenikmatan tersendiri dengan
pengorbanan di jalan Allah itu.

Barangkali anda juga heran ketika mengetahui bahwa kontribusi finansial kepada lkhwanul Muslimin bersifat suka rela, bukan paksaan, sehingga barangsiapa tidak mampu memberikannya kepada jamaah tidak dikurangi sedikit pun hak-hak ukhuwahnya. Meskipun hal ini jelas-jelas tertuang dalam teks Anggaran Dasar jamaah, namun para anggota Ikhwan senantiasa berlomba-lomba untuk berqurban di jalan Allah                   jika diseru untuk itu. Dengarlah sebuah kisah di tengah pembangunan masjid di wilayah islamiyah Ketika salah satu ketua kelompok jamaah memberikan himbauannya kepada anggota untuk berinfaq, berdirilah salah seorang dari mereka yang profesinya adalah buruh pabrik. Ia berjanji akan menyumbang 1.5 junaih (mata uang Mesir) tiga hari kemudian. Akan tetapi, ia banyalah buruh pabrik yang miskin, dari mana ia
mendapatkan uang sebanyak itu? Sebenarya ia ingin meminjam dahulu, namun khawatir pembayarannya tertunda. Ia ingin mengadakan uang dengan segera tetapi tidak dengan cara demikian. Ia pun berpikir keras, namun tidak kunjung mendapatkan jalan untuk itu. Yang bisa dilakukan kini hanyalah menjual sepeda satu-satunya yang biasa dipakai untuk berangkat ke tempat kerja vang berjarak sekitar 6 kilometer, Benarlah, akhirnya diwujudkannya jalan pikiran itu. Tepat pada hari yang dijanjikan ia menyerahkan uangnya. Dengan demikian ia menghimpun dua kebajikan: menepati janji dan bersedekah.

Di kemudian hati sang ketua melihat bahwa al-akh yang profesinya buruh tadi sering terlambat datang di majelis ta'lim Isya' Ia tidak mengetahui alasannya. dan jika bertanya pun tidak dijawabnya. Akhirnya ia diberi tahu oleh salah seorang kawan dekatnya yang mengetahui duduk persoalan. Ia memberitahu ketua bahwa al-akh tadi menjual sepedanya untuk melunasi janji infaq pembangunan masjid. oleh karenanya, setiap pagi ia berjalan kaki dan terlambat mengikuti pengajian. Mendengar ini terkejutlah sang ketua dan para ikhwan yang lain. Mereka kemudian membuat keputusan untuk mengganti sumbangan infaqnya. dan mengganti sepeda lamanya dengan sepeda yang baru agar ia senantiasa mengenang balasan kesetiaannya pada janji.

Dengan jiwa semacam inilah, jiwa yang memiliki ikatan kuat dengan para assabiqunal awwalun (para pendahulu) dari kalangan tokoh-tokoh Islam yang menjadi mercu suar umat, fikrah Ikhwanul Muslimin bangkit dan berkembang. Sukseslah berbagai proyek kerja dakwah yang diembannya. Mereka adalah kaum fakir miskin yang dermawan, mereka sedikit hartanya tetapi murah hati Dengan kelangkaan harta benda yang dimiliki mereka berderma dengan sesuatu yang banyak, diberkatilah harta ini oleh Allah melimpahruahlah kebajikan yang diperoleh akhirnya.

Dengan demikian, mudah-mudahan saya telah menyingkap beberapa hal yang masih samar di mata sebagian orang yang menuduh bahwa di balik keberhasilan dakwah Ikhwan ada persekongkolan dengan berbagai pihak dan ada sikap tunduk hadap kepentingan-kepentingan pribadi. Namun-alhamdulillah- Ikhwan bersih dari itu semua.

Itulah beberapa baris tulisan yang berisi sebagian kisah jihad Ikhwanul Muslimin secara operasional, yang kami paparkan kepada orang-orang yang ingin menimbang bobot Ikhwan dengan standar yang biasa dipakai oleh berbagai yayasan dan proyek sosial pada umumnya. Ikhwan berusaha menjadikan lembaran-lembaran tulisan ini sebuah buku yang berisi data berbagai kegiatan sosial yang ditunaikan dengan hati yang tulus karena Allah swt. Dengan demikian, mudah-mudahan mereka berpikir kembali untuk memberikan dukungan kepada jamaah itu, yang senantiasa menapaki jalannya menuju tujuan yang diimpikan, yang hanya bersandar dan berharap kepada Tuhannya.

Wednesday, 20 August 2014

APAKAH KITA PARA AKTIVIS (2)

KEPADA PUTRA-PUTRA ISLAM YANG PENUH SEMANGAT

Kepada kelompok ini, yang berkepribadian mulia, yang berhati jernih, yang bercita-cita tinggi, yang berjiwa terhormat, yang cinta bekerja, dan menjadi tumpuan harapan, dimana seorang penyair telah putus asa mendapatkan orang semacamnya:

Telah sekian lama ‘ku bergaul dengan banyak orang
pengalaman demi pengalaman menempaku
tiada hari datang kepadaku
kecuali menyenangkan di jumpa-jumpa pertama
namun menyakitkan jua di akhirnya

kami katakan, “Kalian kini berada di hadapan seruan dakwah yang baru. Kaum muda menyeru kalian untuk bekerja bersama mereka dan bergaul dengannya untuk menuju suatu tujuan, yang ia adalah cita-cita setiap muslim dan harapan setiap mukmin. Adalah hakmu bertanya tentang sejauh mana persediaan sarana operasional jamaah. Dan kewajibanmu pula untuk mengetahui lebih dalam apa-apa yang diserukannya
kepadamu.

Saya merasa kagum akan kejujuran dan ketulusan mereka untuk bergabung dengan jamaah kita. mereka minta penjelasan terhadap setiap kata dan setiap ungkapan kepada saya. Mereka mengkonsultasikan setiap sarana yang dipergunakan, hingga jika sudah merasa puas, mereka segera menyampaikan pesan-pesannya dengan keyakinan yang bulat, jelas maksudnya, dan riil pula dampaknya. Mereka senantiasa bekerja
dengan kesungguhan yang penuh hingga saat ini, dan saya berharap akan terus begitu dengan izin Allah swt. Namun demikian, saya mempunyai beberapa catatan untuk mereka, antara lain:

Daripada mereka membuang waktu untuk berbagai pertanyaan ini, bukankah lebih baik jika bergabung saja dengan jamaah dan bekerja didalamnya? Jika mereka melihat kebaikan disana, itulah yang semestinya. Namun jika selain itu yang dilihat, maka jalan untuk keluar dan melepaskan diri darinya demikian jelas membentang, apalagi pintunya ada di dua tempat: tempat masuk dan tempat keluar.

Aktivitas jamaah begitu jelas, tidak ada yang tersembunyi dan tidak ada pula misterius. Dahulu ada cerita bahwa para ahli nahwu berselisih pendapat tentang jumlah bait Alfiyah (pelajaran nahwu yang dipuitisasikan ) Ibnu Malik. Perselisihan ini telah memancing perdebatan serius yang justru tidak mendatangkan manfaat apa pun, hingga akhirnya datanglah salah seorang tokoh mereka dengan membawa bukunya dan berkata, “Inilah dia, hitunglah dan sepakatlah.” maka dengan itulah perselisihan bisa diselesaikan. Inilah Jam’iyah Ikhwanul Muslimin, wahai sahabatku. Di setiap tempat, ia menyeru orang dan membuka pintunya lebar-lebar sembari berkata, “Marilah, jika anda lihat sesuatu yang menyenangkan hati, maka bergabunglah bersama dengan berkah Allah. Jika tidak melihat yang demikian, maka berkatalah sebagaimana yang dikatakan Basyar:

Jika suatu negeri mengingkari
Atau aku mengingkarinya
Aku pun segera keluar bersama burung-burung
Dan penduduknya

Tidakkah mereka tahu bahwa jamaah itu tiada lain adalah sekumpulan individu yang terikat? Jika setiap individu bertanya dengan pertanyaan “Maka di manakah jamaah itu sebenarnya?” ini adalah tipuan logika belaka yang-sayangnya-banyak diikuti orang. Jika anda ingin mengenalkan kursi misalnya, anda akan mengatakan bahwa ia adalah benda yang terdiri dari tiga unsur tempat duduk, sandaran dan empat buah kaku. Akan tetapi, tahukah bahwa definisi seperti ini sesungguhnya tidak benar dan menipu belaka? Kenapa demikian, karena apakah benda itu sesuatu yang ada di luar ketiga unsur tersebut? Jika anda pisahkan kursi itu dari kaki-kakinya, tempat duduk, dan sandarannya, apakah masih ada sebuah benda yang bisa diidentifikasi sebagai berwujud?

Demikian juga, orang banyak tertipu dalam memahami hakekat jamaah dan individu. Mereka mengira bahwa jamaah itu sesuatu sedangkan individu adalah sesuatu yang lain. Padahal jamaah itu tidak lain kecuali kumpulan dari individu-individu, dan individu-individu itu adalah komponen bangunan jamaah itu sendiri. Apabila komponen bercerai-berai dan setiap mereka bertanya dengan pertanyaa “Lalu di mana jamaah itu?”
siapa yang bertanya dan siapa yang ditanya? Kita sering memahami secara keliru seperti demikian ini disebabkan oleh kebiasaan kita bersikap kurang bertanggung jawab; kita menimpakan beban tanggung jawab hanya pada pundak seseorang. Berikutnya lahirlah sikap masa bodoh, tidak tahan uji menghadapi keadaan, dan tidak kunjungan melangkah lebih maju.

Kami serukan kepada para putra Islam yang memiliki semangat bahwa seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani. Maka haramlah hukumnya bagi orang semacam ini untuk tertinggal dari kafilah, meskipun sesaat. Dan tidakkah mereka memahami-semoga Allah memberinya dukungan-bahwa hendaknya mereka segera
bergabung dengan jamah ini. Jika mereka menjumpai bahwa jamaah ini adalah jamaah yang aktif sebagaimana mestinya, maka berbahagialah. Namun jika merka tidak menjumpai yang demikian itu, tunjukkan kepribadian dan kekuatan pengaruhnya untuk membangun apa-apa yang seharusnya ada. Kalau ternyata apa yang mereka upayakan tidak bisa diterima, mereka telah mendapatkan pemakluman dari tuhan dan dirinya. Apalagi jika orang-orang yang menyeru dakwah ini adalah kaum yang mengetahui bahwa diatas orang yang memiliki pengetahuan dan Dzat yang Mahatahu, dan bahwa setiap orang yang memiliki pendapat berhak menyampaikan pendapatnya. Lihatlah Rasulullah saw. Jika dibanding dengan manusia seluruhnya, pendapatnya adalah sebenar-benar pendapat dan pemikirannya adalah sematang-matang pemikiran, namun
ia mengambil juga pendapat Hubaib ra. Di perang Badar dan pendapat Salam di perang khandaq. Mereka tentu saja sangat bahagia, karena ada yang mengambil pendapatnya untuk suatu pekerjaan yang benar.

Tidakkah mereka mengetahui bahwa jika mereka telah mencoba sekali, dua kali, atau lebih dari itu, namun belum juga berhasil, janganlah putus asa. Mereka harus ‘memainkan bola’ terus-menerus sehingga menciptakan ‘gol’ pada saatnya. Jika mereka tergesa-gesa dan cepat putus asa, hilanglah kesempatannya untuk memperoleh keberuntungan itu.

Hal ini persis sebagaimana kisah seorang pemburu ikan. Suatu saat ia mendapat ikan yang besar. Lalu ia melihat di dasar air itu ada rumah karang yang disangkanya mutiara. Demi melihat itu, ditinggalkanlah ikan yang sudah di tangan untuk mengambil rumah karang. Ketika ia melihat dari dekat, menyesallah hatinya. Kemudian ia melihat ikan kecil membawa mutiara, namun ia tidak mengacuhkannya karena disangka rumah
karang. Akhirnya ia hanya mendapatkan ikan kecil, serta kehilangan ikan besar dan mutiara, sesuatu yang berlipat-lipat lebih berharga, atau seperti seekor itik di suatu danau. Ia melihat bayangan di dasar air yang disangkanya ikan. Ia berusaha menjulurkan paruhnya untuk mendapatkannya. Ia mematuknya berkali-kali hingga kecapaian lalu ditinggalkan dengan perasaan marah. Sejenak kemudian berlalulah ikan dihadapannya. Ia acuh tak acuh karena menganggapnya bayangan. Lalu ia pun meninggalkannya. Dengan begitu ia merugi dan kehilangan kesempatan berharga dan sirnalah pula harapannya.

Inilah beberapa catatan, yang perlu saya sampaikan kepada orang-orang yang ingin beraktivitas dalam Islam dari kalangan putra-putranya. Saya pikir ini patut direnungkan dalam-dalam. Kami serukan dakwah Ikhwanul Muslimin ini kepada mereka. Hendaklah mereka mencoba bergabung dengannya. Jika mereka mendapati kebaikan, dukunglah dan jika mendapati kebengkokan, luruskanlah. Jangan sampai percobaan mereka menjadi penghalang bagi kemajuan bersama. Saya berharap mereka menyaksikan pada diri Ikhwan pemandangan yang menentramkan hati-hati, insya Allah. Saya akan menyampaikan lagi sebagian keterangan pada kesempatan mendatang.

Monday, 18 August 2014

APAKAH KITA PARA AKTIVIS (1)

Kami telah menjawab pertanyaan “Kepada Apa Kita Menyeru Manusia?” yang dilontarkan oleh banyak orang berkali-kali, pada risalah yang lalu. Mereka senantiasa bertanya setiap diseru untuk mendukung jam’iyyah Ikhwanul Muslimin dengan pertanyaan: “Kepada apa jam’iyyah Ikhwanul Muslimin menyeru?” saya terpaksa menjawab dan menjelaskan dasar-dasar dakwah ini-pada risalah yang lalu-dengan jawaban yang kiranya dapat memenuhi hajat orang-orang yang bertanya tersebut, tanpa ada yang rancu lagi. Kalau tidak salah, saya telah memberi jawaban secara globaldengan membahas dasar-dasar dakwah ini-pada tulisan yang pertama, kemudian saya merincinya pada uraian selanjutnya. Dengan demikian, rasanya tidak ada lagi alasan bagi orang yang ingin mengenal hakekat dakwah Ikhwanul Muslimin, baik secara global maupun rinci, untuk mengatakan: tidak tahu!

Ada lagi pertanyaan yang tersisa, yang banyak dilontarkan orang ketika diajak memberikan dukungan kepada jamaah ini; yang beraktivitas siang dan malam tanpa mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari siapapun, kecuali dari Allah saw. Semata. Mereka tidak pula menyandarkan langkah-langkahnya kecuali kepada dukungan dan pertolongan-Nya, karena ‘tidak ada kemenangan kecuali dari sisi-Nya’. Pertanyaan tersebut, yang sering dilontarkan dengan nada sinis, adalah: Apakah jamaah ini merupakan jamaah aktif, dan anggotanya para aktivis? Orang yang bertanya ini adalah salah satu dari orang-orang dengan tipe berikut:

- Mungkin ia adalah sosok pengumbar hawa nafsu yang perangainya destruktif, yang ketika melontarkan pertanyaan ini tidak memiliki kepentingan kecuali untuk membuat kekacauan ditubuh jamaah dan prinsip pemikirannya, serta para pendukungnya yang tulus. Ia tidak menganut agama jika dengan itu tidak mendapatkan keuntungan pribadi. Ia tidak peduli dengan urusan orang lain, kecuali jika urusan itu memberikan kemanfaatan bagi dirinya.

- Mungkin ia pribadi yang lalai akan dirinya sendiri dan-begitu juga-terhadap orang lain. Ia tidak memiliki tujuan hidup, tidak memiliki prinsip pemikiran, dan tidak pula aqidah.

- Mungkin ia adalah sisik yang hobinya bersilat lidah dan melontarkan pertanyaan- pertanyaan yang indah indah agar dianggap oleh para pendengarnya sebagai orang ‘berisi’, meski kenyataannya ‘tong kosong berbunyi nyaring’ dengan perilakunya, ia ingin membersitkan kesan dibenak kalian bahwa dirinya adalah sosok pencinta amal. Ia senantiasa berusaha membersitkan kesan itu, namun tidak pernah menemukan jalan. Ia menyadari betul kebohongan dirinya dengan lontaran katakatanya itu, dan itu semua ia lakukan sekedar untuk menutupi kelemahan dirinya.

- Mungkin ia seorang yang tengah berupaya untuk melemahkan semangat orangorang yang menyeru dakwah, agar-dengan lemahnya semangat itu-ia punya alasan untuk menapik seruanya, untuk merespon secara dingin, dan akhirnya berpaling dari amal jama’i.

Golongan yang manapun dari mereka itu, jika anda menemuinya dijalan lalu anda jelaskan padanya manhaj amal yang produktif, anda tuntun mata-telinga, akal pikiran, dan tangannya menuju jalan yang benar, niscaya mereka akan berpaling juga dalam keadaan bingung, jiwanya guncang, bibirnya gemetar untuk mengucapkan kata-katanya, geraknya meragukan, dan diamnya pun tampak salah tingkah. Ia lalu menyampaikan
kata-kata ‘maafnya’ dan meminta kesempatan di waktu yang lain saja. Akhirnya, ia pun menghindar darimu dengan seribu satu alasan. Itu semua dilakukan setelah ia-dengan gigihnya-berdiskusi denganmu berlama-lama, dan setelah itu-engkau lihat, ia bahkan merintangi jalan dengan congkaknya.

Perumpamaan mereka itu seperti sepotong cerita bahwa ada seseorang yang dengan semangatnya menghunus pedang, tombak, dan senjata lainnya. Setiap malam ia pandangi senjata-senjata itu dengan gerakan geram karena tidak kunjung menemui musuhnya untuk bias menunjukkan keberanian dan kepahlawanannya. Suatu saat, istrinya ingin menguji kesungguhannya. Dibangunkanlah ia pada tengah malam sembari memanggilnya dengan nada meminta bantuan, “Bangunlah pak, kuda-kuda perang telah mendobrak pintu rumah kita.” Seketika ia terbangun dalam keadaan gemetaran dan wajahnya pucat pasi sambil bergumam ketakutan, “Kuda perang, kuda perang …” Hanya itu yang ia ucapkan, tidak lebih. Ia bahkan tuidak berusaha untuk membela diri. Tatkala waktu pagi tiba, hilanglah akal sehatnya karena ketakutan yang amat sangat dan terbanglah pula nyalinya, padahal ia belum terjun ke medan perang secara nyata dan
belum menjumpai seorang musuh pun. Seorang penyair bertutur:

Kalaupun seorang pengecut tinggal sendiri di bumi
Ia ‘kan menantang tombak dan peperangan

Allah swt. Berfirman :

“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang mereka mencaci kamu dengn lidah yang tajam., sedangkan mereka bakhil untuk berbuat kebaikan . mereka itu tidak beriman, maka
Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
(Al-Ahzab: 18-19)

Untuk orang-orang seperti ini kita tidak perlu memberi komentar. Kita tidak perlu menjawab mereka, kecuali dengan kata-kata, “Semoga keselamatan atas kalian dan kami tidak membutuhkan orang-orang jahil.” Bukan untuk mereka kita menulis dan bukan kepada mereka dan kita berbicara. Kita telah lama berharap kebaikan untuk mereka dan kita telah tertipu oleh mulut manisnya suatu waktu, lalu terbukalah kedok mereka dan terangkurlah apa yang ada di balik kata-katanya itu. Kita melihat beragam sosok dan kelompok mereka yang membuat hati ini semakin tidak cenderung kepadanya dan tidak sekali-kali akan menyerahkan urusan kepada mereka, meskipun sepele.

Ada lagi kelompok lain: sedikit jumlahnya, tetapi besar kesungguhannya; langka bilangannya, tetapi diberkati dan dilindungi oleh Allah. Mereka bertanya kepadamu dengan pertanyaan serupa ketika diajak untuk mendukung dan bergabung dengan jamaah ini, namun dengan hati yang tulus. Mereka adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi dengan kerinduan untuk berbuat, sehingga kalau saja mengetahui jalan untuk itu, mereka pasti terjun seketika. Mereka adalah para mujahid, namun tidak kunjung menjumpai medan jihad yang dapat membuktikan kepahlawananya. Mereka telah banyak berinteraksi dengan berbagai kelompok dan telah pula mengkaji berbagai lembaga dan organisasi dakwah, namun itdak menjumpai sesuatu yang memuaskan hatinya. Jika saja mereka menjumpai apa yang mereka inginkan di sana, mereka pasti
menempati posisi di barisan pertama dan menjadi bagian dari para aktivis yang tekun.

Kelompok ini telah hilang dan sedang dinanti kedatangannya. Saya yakin sepenuhnya, jika saja seruan ini terdengar olehnya dan sampai di hatinya, mereka pasti akan menjadi salah satu dari dua golongan: golongan aktivis atau-paling tidak-golongan simpatisan; dan tidak mungkin menjadi yang ketiga. Mereka, kalaupun tidak mendukung fikrah ini, tidak akan pernah sekali-kali menjadi musuhnya. Untuk kelompok inilah kita menulis, kepada merekalah kita berbicara, dan bersama merekalah kita saling memahami. Allah swt. Sendirilah yang memilih tentara-tentara-nya dan menyeleksi para aktivis dakwah-Nya.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Al-Qashash:56)

Mudah-mudahan kita sepakat akan apa-apa yang kita inginkan Allah swt. Berfirman dengan kebenaran dan hanya Dialah petunjuk jalan.

Sunday, 17 August 2014

KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA (9)

JALAN PANJANG

Saya berharap bahwa kalimat-kalimat ini telah cukup menjelaskan tujuan dakwah Ikhwanul Muslimin,
dan sedikit banyak menerangkan jalan yang akan ditempuh oleh mereka dalam mencapai tujuan itu. Sebenarnya saya telah menjelaskan masalah ini kepada mereka yang masih menyimpan cinta dan ghirah terhadap Islam, dan bercita-cita untuk mengembalikan kejayaannya. Saya menerangkannya dalam sebuah tulisan yang berjudul, "Kepada Apa Kami Menyeru Manusia".

Mereka pun telah mendengarkannya dengan seksama, memahami makna dari kata demi kata, hingga akhirnya kami sama-sama sepakat dengan tujuan besar berikut metodenya yang efektif itu. Dan betapa dahsyat keterkejutan saya ketika saya melihat ada semacam kesepakatan umum di kalangan mereka bahwa "jalan ini amatlah panjang." Aliran-aliran pemikiran destruktif yang begitu kuat mencengkram negeri ini telah
melahirkan keputusasaan dalam jiwa umat. Agar para pembaca tidak perlu menemukan perasaan yang sama seperti yang dirasakan sebelumnya oleh mereka yang pernah berbicara tentang masalah ini, saya ingin
mengemukakan kalimat-kalimat sarat dengan harapan, penuh dengan keyakinan akan datangnya keberhasilan, insya Allah. Dan semua urusan itu ada di tangan Allah swt. Untuk itulah saya ingin membatasi tema ini dengan dua sudut pandang positif.

PERSPEKTIF FILSAFAT SOSIAL

Para pakar ilmu sosial menyatakan bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari. Pandangan itu dibenarkan oleh realitas dan dikuatkan dengan banyak alasan, Bahkan sesungguhnya kemajuan kemanusiaan dan perjalanannya menuju puncak kejayaan tersimpan dalam pandangan ini. Siapa yang dapat menyangka sebelumnya kalau para ilmuwan akan sampai pada penemuan-penemuan dahsyat seperti yang kita lihat sekarang? Para ilmuwan itu sendiri pada Mulanya bahkan tidak percaya, sampai akhirnya kenyataan membuat mereka yakin. Sebenarnya banyak contoh bisa dikemukakan untuk membuktikan itu. Namun pandangan ini telah menjadi aksioma dan karenanya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut.

PERSPEKTIF SEJARAH

Kebangunan semua bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan; sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan yang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi di balik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan, dan ketenangan dalam melangkah, telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan.

Siapakah yang bisa percaya sebelumnya, bahwa di tengah gurun pasir jazirah Arab yang gersang dan kering kerontang itu akan memancar seberkas cahaya kearifan, di mana dengan kekuatan spiritual dan kemampuan berpolitik putera-puteranya dapat menguasai semua kekuatan adidaya dunia? Siapakah yang percaya sebelumnya, bahwa lelaki lembut semacam Abu Bakar yang sering membingungkan rakyatnya karena sifat lembutnya itu, tiba-tiba saja mengirim pasukan untuk memerangi para pembangkang, pemberontak dan
kaum murtad, hingga akhirnya ia berhasil menyelamatkan Daulah Islamiyah dari ancaman perpecahan dan mengembalikan hak Allah dalam kewajiban zakat? Siapakah yang percaya sebelumnya, bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi yang berjuang dalam waktu yang lama, akhirnya dapat mengalahkan dan mengusir raja-raja Eropa, sekalipun jumlah mereka jauh lebih banyak. Bahkan sekalipun duapuluhlima raja dari duapuluhlima kerajaan bersatu menyerangnya?

Itu semua terjadi dalam sejarah lama. Dalam sejarah modern pun ada banyak fakta. Siapakah yang bisa percaya sebelumnya, bahwa raja Abdul Aziz Alu Su'ud dapat mengembalikan kerajaannya dan menjadi tumpuan harapan dunia Islam untuk mengembalikan persatuan dan kejayaannya, setelah sebelumnya keluarga dan kerajaan terampas? Siapakah yang dapat percaya sebelumnya, bahwa buruh Jerman yang bernama Hitler itu, suatu ketika dapat memiliki kekuatan dahsyat yang menggentarkan dunia?

ADAKAH JALAN LAIN?

Ada dua pandangan negatif yang juga melahirkan hasil seperti ini, serta menuntun hati mereka yang memiliki ghirah dengan kuat dan benar.

Pertama, bahwa sekalipun jalan ini sangat panjang dan berliku, tapi tak ada pilihan lain selain ini. Tidak ada jalan selain itu yang dapat ditempuh untuk membangun kejayaan umat dengan benar. Pengalaman telah membuktikan kebenaran anggapan ini..

Kedua, bahwa seorang pekerja pertama kali harus bekerja menunaikan kewajibannya, baru kemudian boleh mengharap hasil kerjanya. Jika ia telah bekerja, berarti ia telah menunaikan kewajiban, dan pasti kelak akan mendapat balasan dari Allah swt. Tak ada keraguan dalam hal ini, selagi syarat-syaratnya terpenuhi. Sedang masalah hasil, itu terserah kepada Allah swt. Boleh jadi peluang kemenangan itu datang tanpa terduga, sehingga ia memperoleh hasil yang sangat memuaskan dan penuh berkah. Sementara bila ia tidak bekerja, ia akan mendapat dosa karena tidak berbuat, ia juga akan kehilangan pahala jihad, dan tentu saja dia sama sekali tidak akan mendapatkan hasil di dunia. jadi, manakah di antara kedua golongan itu yang terbaik?
Al-Qur'an Suci telah menandaskan itu dengan jelas,

"Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa?". Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpalkan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." 
(Al-A'raf: 164-165)

Friday, 15 August 2014

KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA (8)

PERSAUDARAAN ITU MEMAKLUMKAN KEMANUSIAAN

Aqidah Islamiyah telah membuahkan dua hal yang pasti akan kita petik, dan karenanya harus aku jelaskan pada kalian tentang kelezatan dan kebaikan yang dibawanya.

Pertama, aqidah ini membuahkan gerakan pembebasan Islam yang tiada taranya sepanjang sejarah baik dalam hal tujuan, cara, manajemen gerakan, maupun hasil-hasilnya. Seorang pembebas Muslim bergerak membebaskan suatu negeri, tidak ada motivasi lain kecuali demi menegakkan kebenaran dan menerangi segenap sudut negeri itu dengan cahaya Al-Qur'an. Ketika jiwa-jiwa penduduk negeri itu telah diterangi oleh cahaya petunjuk Ilahi, maka lenyaplah segenap perbedaan dan lenyap pula segala kezaliman. yang tinggal
hanyalah keadilan, cinta kasih, dan persaudaraan. Tak ada lagi istilah "pembebas yang menang" dan "musuh yang kalah". Mereka semua telah menjadi saudara, saling mengasihi dan saling mencintai. Dalam pada itu, ide kebangsaan tak lagi relevan, lebur meleleh bagai salju tertimpa teriknya sinar mentari. Sebelum ia menyerang siapa pun yang hendak diserang, mengalahkan siapa pun yang hendak dikalahkan, sesungguhnya sang Pembebas Muslim telah menjual diri dan keluarganya kepada Allah, melepas semua bentuk fanatisme kebangsaan dengan segenap atributnya. Mereka tak lagi berperang dan menang demi kebangsaan dan nasionalisme. Mereka melakukan itu setulusnya untuk Allah semata. Allah, Dzat yang tidak ada sekutu
bagi-Nya. Sebuah riwayat tentang puncak keikhlasan dan kebersihan diri dari hawa nafsu tertera dengan indah dalam sebuah sabda Rasulullah saw. berikut ini,

Seorang lelaki datang dan berkata kepada Rasulullah saw., "wahai Rasul Allah, sesungguhnya aku suka berjihad di jalan Allah dan aku senang bila orang lain melihat sepak terjangku," Rasulullah saw terdiam dan tidak menjawab, hingga turunlah firman Allah swt.,

"Barangsiapaa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (AlKahfi: 110)

Lihatlah, bagaimana Islam menempatkan obsesi seseorang kepada pujian dan sanjungan - yang sebenarnya merupakan tabiat jiwa manusia- sebagai syirik kecil yang harus ia bersihkan, untuk kemudian menggantinya dengan cita-cita luhur nan agung? Adakah keikhlasan yang melebihi saat di mana seseorang melupakan segala kepentingan dirinya demi tercapainya cita-cita perjuangan? Apakah anda mengira bahwa seseorang -
yang oleh agamanya diwajibkan untuk membersihkan dirinya dari segenap hawa nafsu, menekan semua emosi dan kecendrungannya, agar jihadnya sepenuhnya hanya untuk Allah- masih akan berpikir untuk berjihad demi kebangsaan dan nasionalisme? Demi Allah, tidak. Tidak akan pernah.

Orang-orang dikalahkan oleh mereka (para pembebas muslim), yang telah ditakdirkan untuk berbahagia dengan Islam dan selamat dengan tuntunannya, sama sekali tidak membiarkan sang pembebas menguasai negerinya dan merampas semua kekayaannya. Tapi ia membiarkan apa yang ia biarkan karena ia telah membaurkan jiwanya dengan jiwa Sang Pembebas, sembari sama-sama berseru, "Hakku adalah hakmu, kewajibanku adalah kewajibanmu. Hanya Kitab Allah yang berhak menjadi hakim di antara kita." Maka mereka melebur bersama untuk menggapai cita-cita yang sama, dan berkorban demi memperjuangkan agama yang sama. Mereka membiarkan apa yang mereka biarkan agar cahaya Allah menerangi segenap kemanusiaan, agar mentari AlQur'an Suci memenuhi segenap ruang kehidupan ini. Hanya dengan cara ini, Manusia dapat menemukan semua kebahagiaan, kesempurnaan, dan kemajuan, kalau saja mereka mau mengetahui.

TAPAL BATAS NEGERI ISLAM

Adapun buah kedua adalah, bahwa persaudaraan Islam telah menjadikan setiap muslim percaya bahwa setiap jengkal tanah di mana di situ ada manusia yang memeluk agama Al-Qur'an Suci, maka jengkal tanah itu adalah bagian dari tanah air Islam. Karenanya Islam mewajibkan setiap mereka bekerja untuk melindunginya dan berupaya membahagiakan warganya. itulah tapal batas negeri Islam, Tapal batas yang terlepas dari sekat-sekat geografis dari apa yang disebut tanah tumpah darah. Negeri Islam itu adalah sebentuk kedaulatan ideologi agung dan agama suci; ia merupakan sekumpulan hakikat yang dijadikan Allah sebagai petunjuk dan cahaya bagi dunia ini. Dan ketika Islam menanamkan makna dalam diri putera-puteranya, ia segera. pula menurunkan sebuah kewajiban menjaga dan melindungi setiap jengkal tanah Islam dari berbagai bentuk agresi, membebaskannya dari cengkraman penjajah, dan menjaganya dari ambisi keserakahan para imperialis.