Tuesday, 7 May 2013

KRITERIA ISLAM YANG SEBENARNYA

SAMSUNG Galaxy Tab 2 7.0 Espresso 8GB Wi-Fi - White
Saudara-saudara sesama Muslim!

Allah telah mengatakan dalam Kitab SuciNya:

Katakanlah: 'Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
(kepada Allah)’”. (Al-Qur'an, al-An’am, 6:162-163)

Ayat tersebut di atas dijelaskan oleh Rasulullah saw dengan sabdanya:

“Barangsiapa yang menjalinkan persahabatan karena Allah, menyatakan
permusuhan karena Allah, dan meninggalkan sesuatu karena Allah, maka sesungguhnya
ia telah melengkapkan imannya, yakni menjadi seorang Mukmin yang sempurna”.

Ayat yang saya ambil di atas menunjukkan bahwa apa yang dituntut oleh Islam adalah
bahwa manusia haruslah mempersembahkan seluruh kerjanya, hidup dan matinya
semata-mata untuk Allah dan tidak membagikan hak Allah dalam hal ini dengan yang
lainnya. Artinya, baik kerja, hidup maupun matinya tidak boleh dipersembahkan kepada
siapa pun atau sesuatu pun selain Allah.

Penjelasan yang diberikan Rasulullah di atas, merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh
seorang Muslim dalam menjalin hubungan persahabatan ataupun permusuhan dengan
orang lain serta dalam menangani urusan-urusan dunianya. Hal-hal tersebut hendaklah
dilakukan dengan niat semata-mata untuk mencari keredhaan Allah, dan dilakukan
menurut aturan-aturan yang telah digariskanNya. Jika tidak dilakukan sedemikian, iman
tidak dapat dikatakan sempurna, apalagi untuk mencapai derajat spiritual yang tinggi.
Dalam hal ini, kelemahan iman ditunjukkan oleh kelemahan seseorang dalam memenuhi
syarat-syarat yang tersebut di atas. Apabila dalam hal ini seseorang telah menuruti aturan
Allah sepenuhnya, maka barulah imannya boleh dikatakan sempurna.

Kebanyakan orang mengira bahwa kualitas iman yang tersebut di atas hanyalah
diperlukan oleh mereka yang ingin mencapai derajat spiritual yang tinggi, sedangkan
orang kebanyakan tidaklah dituntut untuk memiliki Islam dan iman yang sempurna atau
lengkap. Maksud mereka, tanpa syarat-syarat ini pun, seseorang boleh menjadi seorang
Mukmin dan Muslim. Tetapi pandangan seperti ini adalah pandangan keliru yang timbul,
karena pada umumnya orang tidak membedakan antara Islam KTP dengan Islam yang
sebenarnya menurut pandangan Allah.

Monday, 6 May 2013

JALAN MENUJU KEREDHAAN ALLAH

LG Nexus 4 E960
Saudara-saudara!

Dalam al-Qur’an Allah berfirman :

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu
nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahui” (Al-Qur’an, Ali ‘Imran,3:92).

Ayat ini adalah keperluan dari Islam dan iman. Kebesaran Islam yang sebenarya terletak
pada prinsip bahwa segala apa pun yang kita cintai mestilah kita korbankan untuk
Allah. Kita tentu tahu bahwa dalam semua urusan hidup kita, Allah mengajak kita
kepada suatu arah, sedangkan kita sendiri mengajak ke arah lain. Allah menyuruh kita
mengerjakan suatu perbuatan, tetapi nafs (diri) sendiri membujuk kita agar tidak
mengerjakannya dengan menyatakan bahwa pekerjaan itu akan mendatangkan kesulitan
dan kerugian. Allah melarang kita mengerjakan sesuatu, tetapi nafs membujuk kita untuk
melakukannya dengan mengatakan bahwa pekerjaan itu sangat menyenangkan dan
menguntungkan. Di satu pihak terdapat keredhaan Allah, sedangkan di pihak yang lain
adalah kesenangan dan kepuasan diri. Ringkasnya, dalam setiap langkah kehidupannya,
manusia sentiasa dihadapkan kepada suatu persimpangan jalan. Jalan yang pertama
adalah jalan Islam, dan jalan yang satu lagi adalah jalan kufur dan kemunafikan.
Seseorang yang mengabaikan semua bujukan dunia serta tunduk patuh pada perintah-
perintah Allah adalah orang yang telah memilih jalan Islam. Sebaliknya, seseorang yang
mengetepikan perintah-perintah Allah, dan menuruti segala kemauannya sendiri serta
godaan-godaan dunia, adalah orang yang memilih jalan kufur dan kemunafikan.

Saturday, 4 May 2013

BEBERAPA CONTOH KEPATUHAN KEPADA ALLAH


SAMSUNG Galaxy Tab 2 7.0 Espresso 8GB Wi-Fi - White
SAMSUNG Galaxy S4 [i9500] - White SAMSUNG Galaxy Grand [HSMI9082MEB] - White
1. Meninggalkan Minuman Keras

Tentu kita semua telah mendengar betapa meluasnya kebiasaan meminum minuman
keras (khamar) di negeri Arab sebelum kedatangan Islam. Lelaki, perempuan, tua dan
muda, semuanya gemar meminum khamar. Mereka memang sudah terbiasa dengan
minuman tersebut. Mereka mengarang dan menyanyikan lagu-lagu untuk memuji
khamar, dan mereka begitu tergila-gila kepada khamar tersebut. Dan kita semua tahu
juga bahwa sukar sekali berhenti dari meminum minuman keras bila telah ketagih
kepadanya. Seorang pemabuk lebih suka mati daripada berhenti minum. Bila ia tidak
memperoleh khamar, ia merasa lebih sakit dari orang sakit. Tetapi sudahkah kita
mendengar apa yang terjadi ketika larangan minum minuman keras diturunkan oleh
Allah? Ketika mendengar larangan itu, orang Arab yang bersedia mati demi minuman
keras itu, dengan tangan mereka sendiri memecahkan bekas-bekas yang berisi minuman
keras itu. Dan minuman itu mengalir di jalan-jalan dan di lorong-lorong, di kota
Madinah, waktu itu, seperti air hujan. Dalam suatu pertemuan, sekumpulan orang sedang
asyik meminum minuman keras. Ketika mereka mendengar utusan Nabi saw mengatakan
bahwa minuman keras telah dilarang, tangan-tangan mereka berhenti bergerak seketika.
Mereka yang sudah memegang mangkuk minuman itu di bibir, seketika itu juga
menyingkirkannya dari mulut mereka, dan tidak membiarkan setetes pun arak menyentuh
bibir mereka. Inilah kebesaran iman. Inilah yang dinamakan patuh kepada Allah dan
RasulNya.

2. Pengakuan Dosa

Kita tahu juga betapa kerasnya hukuman yang diberikan Islam bagi orang yang berzina -
seratus kali pukulan rotan di punggung yang telanjang; yang membuat orang menggeletar
hanya dengan membayangkannya saja. Dan bila yang berzina adalah orang yang sudah
pernah kawin, maka hukumannya lebih mengerikan: dirajam sampai mati. Mendengar
kata rajam saja orang sudah gementar. Tetapi sudahkah kita mendengar,bagaimana
perilaku orang yang mempunyai iman dalam hatinya? Pada zaman Nabi saw ada seorang
beriman yang telah berzina. Tidak ada saksi, tidak ada seorang pun yang menyeretnya
ke muka pengadilan. Tidak pula ada seorang pun yang melaporkannya kepada polisi.
Hanya ada iman, yang bertakhta dalam hatinya. Dan iman itulah yang mengatakan
kepadanya: “Pergilah kamu menjalani hukuman yang telah disediakan Allah atas
perbuatanmu itu”. Maka pergilah orang itu dengan kemauannya sendiri kepada
Rasulullah saw dan berkata: "Wahai Rasulullah saya telah berzina. Hukumlah saya”.
Mendengar itu, Nabi, memalingkan wajahnya dari orang itu. Tetapi orang itu terus
saja menghadap wajah Rasulullah saw dan mengulangi permintaannya. Rasulullah
kembali memalingkan wajahnya dari orang itu, dan orang itu juga kembali bergerak ke
tempat menghadapi wajah Rasulullah dan kembali mengulangi permintaannya untuk-
ketiga kalinya. Inilah iman. Memang, bagi seseorang yang memiliki iman dalam hatinya,
adalah mudah untuk menjalani hukuman seratus kali libasan pada punggungnya yang
telanjang. Bahkan hukuman rajam pun. Ia segan untuk kembali kehadirat Tuhannya
dengan sifat seorang hamba yang tidak patuh.

3. Pemutusan Hubungan

Kita juga tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih dicintai seseorang selain
daripada sanak saudaranya. Terutama sekali, ayah, saudara dan anak adalah terlalu
dicintai sehingga orang bersedia untuk mati karena mereka. Tetapi lihatlah dalam sejarah
Islam, sewaktu terjadi Perang Badar dan Uhud, dan lihatlah siapa yang berperang
melawan siapa? Si ayah berada di barisan tentara Islam dan si anak di dalam barisan
tentara kafir, dan sebaliknya. Seseorang berada di satu pihak dan saudaranya ada di pihak
lainnya. Sanak saudara dan kerabat-kerabat yang dekat saling berhadapan dan bertempur
seakan-akan satu sama lain adalah orang-orang asing. Dan semangat permusuhan ini
menyala bukan karena membela tanah air atau merebut harta benda, bukan pula karena
dendam pribadi. Tetapi perang melawan keluarga dan sanak saudara itu terjadi karena
orang-orang yang beriman berani dan rela membunuh atau terbunuh oleh ayah, anak,
saudara dan keluarga mereka sendiri, demi membela ajaran Allah dan RasulNya.

4. Taobat dari Adat Kebiasaan Lama

Kita juga tahu bahwa Islam telah meruntuhkan dengan saksama semua adat kebiasaan
lama yang berlaku di negeri Arab sebelum kedatangannya. Dosa terbesar yang muncul
dari adat kebiasaan lama ini adalah penyembahan berhala yang telah menjadi amalan
selama ratusan tahun. Islam melarang perbuatan dosa ini bersama-sama dengan minuman
keras, perzinaan, perjudian, pencurian dan perampasan, yang biasa dilakukan sebelum
Islam. Sebelum Islam, kaum wanita biasa bepergian ke luar rumah dengan pakaian
terbuka. Islam menyuruh mereka mengenakan Jilbab. Sebelum Islam datang, kaum
wanita tidak berhak untuk memperoleh harta warisan, kemudian Islam memerintahkan
agar mereka juga diberi bagian. Sebelum Islam, anak-anak angkat diberi kedudukan
yang sama dengan anak-anak kandung, tetapi Islam membatalkan persamaan kedudukan
ini serta mengesahkan perkawinan dengan anak angkat. Pendeknya, tidak ada satu
pun adat lama yang dibiarkan tetap tegak oleh Islam. Tetapi tahukah kita bagaimana
sikap orang-orang yang telah menyatakan iman kepada Allah dan RasulNya? Orang-
orang yang beriman ini menghancurkan berhala-berhala, yang selama ini disembah oleh
mereka dan nenek-moyang mereka, dengan tangan-tangan mereka sendiri. Mereka
mempersembahkan korban-korban tersebut di atas altar-altar pemujaan mereka. Mereka
menghapuskan semua adat kebiasaan keluarga yang telah mereka warisi turun-temurun
selama berabad-abad lamanya. Dengan perintah Allah, mereka menghancurkan benda-
benda yang sebelum itu mereka pkitang suci. Sebaliknya, mereka mengesahkan hal-hal
yang sebelum itu mereka pkitang menjijikkan. Perkara-perkara yang selama berabad-
abad lamanya dipkitang suci, tiba-tiba saja menjadi kotor, dan juga sebaliknya.
Semua amalan-amalan yang pada masa jahiliyyah merupakan sumber keuntungan atau
kesenangan akan dihapuskan setalah datangnya larangan dari Allah. Sebaliknya, semua
perintah-perintah Islam yang membawa kesulitan-kesulitan dan keberatan-keberatan
diterima dengan gembira. Inilah yang disebut iman dan inilah yang dinamakan Islam.
Sekitainya orang-orang Arab pada masa itu berkata: “Kami tidak mau menerima hal itu
karena itu merugikan kami. Kami tidak dapat menghentikan perbuatan ini karena ia
menguntungkan kami. Kami juga akan tetap, mengerjakan perbuatan yang lainnya itu
karena ia adalah warisan budaya nenek-moyang nenek-moyang kami. Juga, kami
menyukai perkara-perkara tertentu yang dilakukan oleh bangsa Romawi dan amalam-
amalan bangsa Iran yang menyenangkan kami”. Pendeknya, sekitainya mereka semua
menolak setiap perkara yang datang dari Islam, kita boleh membayangkan bahwa pasti
tidak ada seorang Muslim pun di dunia sekarang ini.

TEST KEIMANAN

LG Nexus 4 E960 Saudara-saudara sesama Muslim!

Dalam khutbah yang lalu saya telah menerangkan bahwa menurut al-Qur'an ada tiga
jalan yang dapat menyesatkan manusia.
Yang pertama adalah mengetepikan hukum-hukum Allah dan mengikut dorongan hawa
nafsu. Yang kedua adalah melebihkan kebiasaan keluarga dan cara-cara nenek-moyang
daripada hukum Allah. Yang ketiga adalah mengabaikan sistem kehidupan yang
diajarkan oleh Allah dan RasulNya, dan mengikuti cara-cara yang ditempuh oleh
manusia, baik oleh orang-orang yang hebat bangsanya sendiri maupun bangsa-bangsa
lain.

MUSLIM YANG SEBENARNYA

Definisi yang sebenarnya untuk seorang Muslim adalah bahwa ia harus kebal terhadap
ketiga-tiga penyakit tersebut di atas. Orang yang disebut Muslim hanyalah orang yang
tidak menjadi hamba sahaya kepada apa pun kecuali Allah, dan tidak mengikuti siapa
pun kecuali RasulNya. Seorang Muslim hanyalah orang yang dengan setulus hati percaya
bahwa ajaran Allah dan RasulNya adalah kebenaran yang mutlak, dan apa pun yang
bertentangan dengannya adalah sesat, dan apa pun yang baik bagi manusia dalam
kehidupan di dunia ini maupun di akhirat nanti seluruhnya telah terkandung dalam
ajaran-ajaran Allah dan UtusanNya. Seseorang yang beriman sepenuhnya kepada
kebenaran-kebenaran ini adalah orang yang selalu mencari petunjuk dari ajaran Allah dan
RasulNya dalam setiap langkah kehidupannya dan yang bersangkutan dengan masalah
yang dihadapinya, dan setelah mengetahui ajaran tersebut, terus mengikutinya. Setelah
berbuat demikian, ia tidak akan memperdulikan apakah fikirannya akan merasa tidak
tenang karenanya, atau apakah sanak saudaranya akan memarahi dan mencaci-makinya,
atau orang-orang yang memuja keduniaan akan menentangnya. Karena, bila hal itu
terjadi ia hanya cukup menjawab dengan jelas dan tegas: “Saya adalah hamba sahaya
Allah dan bukan hambamu; saya hanya percaya kepada UtusanNya, dan tidak
kepadamu”.

TANDA- TANDA KEMUNAFIKAN

Memperturutkan Kemauan Sendiri (Nafs)

Berlawanan dengan hal di atas, apabila seseorang berkata: “Meskipun ini adalah perintah
Tuhan dan RasulNya, fikiran saya tidak boleh menerimanya karena saya menganggap
perintah ini merugikan. Karena itu saya akan mengetepikan petunjuk-petunjuk Tuhan dan
berbuat menurut pendapat saya sendiri”, maka jelas hati orang seperti ini telah kehilangan
iman. Ia bukanlah seorang Mukmin, tetapi seorang munafik. Karena, sementara di mulut
ia mengatakan bahwa ia adalah seorang hamba Tuhan dan pengikut RasulNya, dalam
tindakannya ia adalah hamba dirinya sendiri dan pengikut pendapatnya sendiri.

Pemujaan Kepada Adat Istiadat

Sama halnya, bila seseorang berkata bahwa meskipun bertentangan dengan perintah
Allah dan RasulNya, bagaimana suatu adat tertentu boleh ditinggalkan, sedangkan ia
sudah dilaksanakan turun-temurun sejak zaman nenek-moyang atau bagaimana suatu tata
cara yang sudah menjadi kebiasaan akan dihentikan, sedangkan ia sudah menjadi pilihan
sejak waktu yang lama di kalangan sanak saudaranya? Orang seperti ini juga termasuk
kelompok munafik, walaupun di dahinya sudah tumbuh benjolan yang diakibatkan oleh
banyaknya ia bersujud dalam solat yang tidak henti-hentinya, dan yang mungkin telah
membuat wajahnya tampak betul-betul seperti seorang yang soleh, karena kebenaran din
yang sebenarnya tidak meresap ke dalam hatinya. Din tidaklah terdiri dari ruku’, sujud,
puasa dan haji, tidak pula ia terdapat pada wajah dan pakaian seseorang: Sebenarnya, din
berarti kepatuhan kepada Allah dan RasulNya. Seseorang yang menolak untuk patuh
kepada Allah dan RasulNya dalam urusan masalah-masalah hidupnya, sebenarnya
hatinya kosong dari din. Solatnya, puasanya, dan wajahnya yang soleh hanyalah penipuan
belaka.

MENIRU-NIRU BANGSA LAIN

Demikian pula, apabila seseorang, dengan tidak memperdulikan Kitab Allah dan
petunjuk-petunjuk RasulNya, mendesak agar suatu kebiasaan tertentu dilaksanakan
karena kebiasaan itu biasa dilakukan orang-orang Barat, dan agar suatu
diterima saja karena bangsa lain yang menerimanya ternyata mengalami kemajuan,
atau agar sesuatu dipersetujui saja karena dianjurkan oleh seorang besar, maka orang
yang begini mesti berhati-hati menjaga imannya. Pendapat seperti ini tidak boleh
dirujukkan dengan iman. Bila kita adalah seorang Muslim dan ingin tetap sebagai
seorang Muslim, maka kita harus melemparkan jauh-jauh setiap pendapat yang
bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya. Bila kita tidak mampu melakukan
perkara ini, kita tidak patut mengatakan diri kita sebagai penganut Islam. Hanya di
mulut saja kita percaya kepada Allah dan RasulNya, kita telah mengetepikan ajaran-
ajaranNya dan ajaran-ajaran RasulNya. Kalau dalam masalah-masalah hidup, kita
memberi tempat kepada ajaran-ajaran manusia, itu bukanlah Islam namanya dan bukan
pula iman. Itu adalah kemunafikan yang terang-terangan. Allah telah menyatakan dalam
al-Qur'an:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah
memimpin siapa yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus. Dan mereka
berkata: “Kami telah beriman kepada Alah dan rasul, dan kami mentaati (kedua-
duanya)’. Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali
mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil
kepada Allah dan rasulNya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka,
tiba-tiba sebagian di antara mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan
itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.
Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau
(karena) mereka ragu-ragu, ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasulNya
berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya mereka itulah orang-orang yang zalim.
Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah
dan rasulNya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan:
“Kami mendengar, dan kami patuh” dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasulNya, maka mereka
adalah orang-orang yang mendapat kemenangan". (Al-Qur'an, an-Nur, 24:46-52).

Fikirkanlah definisi iman yang dinyatakan dalam ayat-ayat tersebut di atas. Iman yang
sejati adalah menghambakan diri kepada Kitab Allah dan petunjuk-petunjuk rasulNya.
Apa pun perintah yang datang dari kedua-duanya mestilah betul-betul dipatuhi, dan apa
pun yang bertentangan dengannya tidak boleh didengarkan, biarpun datangnya dari
fikiran sendiri, dari keluarga ataupun dari orang banyak. Hanya orang yang mempunyai
keadaan fikiran yang beginilah yang boleh disebut Mukmin dan Muslim. Yang tidak
memilikinya adalah orang munafik.

Monday, 1 April 2013

TIGA JALAN MENUJU KESESATAN

SAMSUNG Galaxy S4 [i9500] - WhiteSAMSUNG Galaxy S4 [i9500] - Black
LENOVO IdeaPad B490 042




Sekarang saya akan menjelaskan kepada anda dari mana sebenarnya kekufuran dan
bid'ah timbul. Al-Qur'an Suci mengatakan kepada kita bahwa kejahatan-kejahatan ini
muncul melalui tiga sumber:

1. Mengikuti kemauan sendiri.

“... Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa-nafsunya
dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".
(Al-Qur'an, al-Qashash, 28:50).

Ayat di atas mengartikan bahwa faktor terbesar penyebab kesesatan manusia adalah
dorongan-dorongan hawa nafsunya sendiri. Dan sama sekali tidak mungkin bagi
seseorang untuk menjadi hamba Allah, sementara ia masih menuruti dorongan-dorongan
hawa nafsunya sendiri. la akan terus-menerus memikirkan pekerjaan apa yang akan
mendatangkan uang baginya, usaha apa yang akan membawa kemasyuran dan
penghormatan orang padanya, ke mana ia harus mengejar kesenangan dan kepuasan,dan
apa saja yang bisa memberikan kemudahan dan kesuksesan hidup baginya.
Ringkasnya, ia akan menempuh segala macam cara untuk mencapai tujuan-tujuan
tersebut, tak peduli apakah Allah melarang cara-cara tersebut. Dan ia takkan pernah
mengerjakan suatu apapun yang dianggapnya tidak akan membawa tercapainya tujuan-
tujuan tersebut, meskipun Allah memerintahkannya untuk mengerjakannya. Jadi Tuhan
bagi orang seperti itu adalah dirinya sendiri (nafs), bukannya Allah Yang Agung. Jadi,
bagaimana ia akan mendapat manfaat dari petunjuk Allah? Hal ini telah diterangkan
dalam ayat berikut:

"Terankanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu
mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka tidak lain,
hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya (dari binatang ternak
itu)." (Al-Qur'an, al-Furqan, 25:43-44).

Bahwa menjadi budak hawa nafsu adalah lebih hina daripada menjadi binatang, ini
adalah suatu hal yang tidak perlu diragukan lagi. Anda tidak akan pernah melihat seekor
binatang pun yang mau melanggar batas-batas yang telah ditentukan Allah baginya.
Setiap binatang memakan apa yang telah ditetapkan Allah baginya. la hanya
melaksanakan fungsi yang telah ditentukan Allah baginya. Tetapi manusia adalah
binatang yang apabila sudah menjadi budak hawa nafsunya sendiri, akan melakukan
perbuatan-perbuatan yang bahkan membuatkan syaitan sendiri gementar.

2. Mengikuti nenek-moyang tanpa berfikir

Yang tersebut di atas tadi adalah jalan pertama menuju kesesatan. Jalan yang kedua
adalah mengikuti adat kebiasaan, kepercayaan-kepercayaan dan fikiran-fikiran, acara-
acara ritual dan upacara-upacara yang biasa dilakukan oleh nenek-moyang, dan
menganggapnya lebih penting daripada perintah Allah. Bila perintah-perintah Allah
dibacakan, maka orang-orang yang suka mengikuti nenek-moyangnya akan bersikap
keras bahwa mereka hanya akan mengikuti apa yang dilakukan oleh nenek-moyang
mereka saja, dan akan melakukan apa yang telah menjadi kebiasaan keluarga dan suku
bangsanya. Bagaimana orang yang telah terkena penyakit seperti ini akan dapat menjadi
hamba Allah? Tuhan-tuhannya adalah nenek-moyangnya, keluarga dan suku bangsanya.
Hak apa yang dimilikinya untuk mendakwa bahwa dirinya adalah seorang Muslim?
Dalam hal ini al-Qur'an -juga memberikan peringatan yang keras:

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Ikutlah apa yang telah diturunkan oleh
Allah’, mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah
kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. (Apakah mereka akan mengikuti
juga), walaupun nenek moyang mercka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak
mendapat petunjuk?". (Al-Qur'an, al-Baqarah, 2:170).

Di tempat lain dikatakan:

"Apabila dikatakan kepada mereka: 'Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah.
dan mengikuti Rasul'. Mereka menjawab: 'Cukuplah untuk kami apa yng kami
dapati bapa-bapa kami mengerjakannya'. Dan apakah mereka akan mengikuti juga
nenek-moyang mereka walaupun nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui apa-
apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? Hai orang-orang yang beriman, jagalah
dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila
kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali scmuanya, maka
Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (Al-Qur'an, Al-
Maidah, 5:104-105).

Jahatnya kesesatan itu adalah sedemikian rupa, sehingga semua orang-orang bodoh di
setiap zaman terkena cengkamannya. Kesesatan selama-lamanya telah mencegah mereka
menerima bimbingan dari utusan-utusan Allah. Ketika Musa a.s. mengajak kaumnya
untuk mengikuti Syari'ah Allah, mereka menjawab:

“Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari
apa yang kami dapati nenek-moyang kami mengerjakannya?...’ ”
(Al-Qur'an, Yunus, 10: 78)

Ketika Ibrahim a.s. memujuk kaumnya untuk meninggalkan kepercayaan syirik,
“Mereka menjawab: ‘Kami mendapati bapa-bapa kami menyembahnya (patung-
patung)’”, (Al-Quran, 21:53).

Begitulah, masyarakat selalu mengatakan hal yang sama kepada setiap rasul: “Apa
yang kamu itu bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh nenek-
moyang kami; karena itu kami tidak boleh menerimanya” Demikianlah, dikatakan
dalam al-Qur'an:

“Dan demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan
pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu
berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapa-bapa kami menganut suatu agama
dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak  mereka. (Rasul itu) berkata:
‘Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama)
yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapa-bapamu
menganutnya?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami mengingkari agama yang
kamu diutus untuk menyampaikannya’. Maka Kami binasakan mereka maka
perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”
(Al-Qur'an, az-Zukhruf, 43:23-25).

Setelah mengemukakan fakta-fakta ini, Allah Yang Maha Kuasa mengatakan: "Kamu
ikuti nenek-moyang kamu atau kamu laksanakan perintah-perintah Kami. Pilih salah
satu". Karena kedua hal ini, memang, tidak boleh berdampingan bersama-sama. Bila
anda mau menjadi seorang Muslim, anda harus mematuhi apa yang diperintahkan oleh
Allah dan membuang yang lain-lain.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutlah apa yang telah diturunkan Allah’.
Mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati
bapa-bapa kami mengerjakannya'. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapa-bapa
mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala
nyala (neraka)? Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang
dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang kukuh. Dan hanya kepada Allah lah kesudahan segala urusan. Dan
barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada
Kamilah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah
mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati”.
(Al-Qur'an, Luqman, 31:21-23).

3. Kepatuhan kepada selain Allah

Itulah tadi jalan yang kedua menuju kesesatan. jalan yang ketiga, seperti dinyatakan di
dalam al-Qur'an, adalah apabila manusia mengetepikan perintah-perintah Allah, lalu
mentaati perintah-perintah manusia dengan bermacam-macam alasan, misalnya “karena
bapa kepada anu adalah seorang besar, maka kata-katanya mestilah selalu baik”, atau
“karena rezeki saya tergantung pada orang itu, maka saya harus patuh kepadanya”, atau
“karena orang itu mampu menghancurkan hidup saya dengan perkataannya, dan mampu
menjamin saya masuk syurga, maka apa yang dikatakannya pastilah benar”, atau “karena
bangsa anu adalah bangsa yang maju, kita harus meniru cara-cara yang dipakainya", dan
sebagainya. Dengan diajukannya alasan-alasan seperti ini, tertutuplah pintu petunjuk
Tuhan.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah...” (Al-Qur'an, al-An’am, 6:116)


Ayat ini berarti bahwa manusia hanya boleh tetap berada di jalan yang benar, bila ia
percaya seratus peratus kepada Satu Tuhan. Bagaimana manusia boleh bertemu jalan
yang benar kalau ia percaya kepada ribuan tuhan, dan sebagai akibatnya, sekali
waktu ia harus mematuhi tuhan ini dan sekali waktu tuhan yang lain?

Sekarang anda tahu bahwa ada tiga sebab seseorang menjadi sesat :

Pertama : Menjadi hamba kepada diri sendiri.
Kedua : Menjadi hamba kepada adat kebiasaan nenek-moyang, keluarga dan suku
bangsa.
Ketiga : Menjadi hamba kepada manusia pada umumnya, termasuk orang-orang,
 kaya, pemerintah yang berkuasa, ulama-ulama dan kiyai-kiyai palsu,
bangsa-bangsa yang sesat, dan unsur-unsur lain yang seperti itu.

Itulah berhala-berhala besar yang selalu menjadi sembahan-sembahan manusia. Maka
barangsiapa yang mau menjadi seorang Muslim yang sebenar, mestilah ia
menghancurkan ketiga-tiga jenis berhala itu terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia boleh
menyebut dirinya seorang Muslim sejati. Kalau tidak, sulit baginya untuk disebut sebagai
hamba Allah. Mungkin saja, dengan menjalankan solat lima kali sehari, berpuasa di
bulan Ramadhan, dan menunjukkan tingkahlaku sebagai seorang Muslim ia boleh
menipu orang kebanyakan, dan memujuk dirinya sendiri, bahwa ia adalah seorang
Muslim, namun ia tak mungkin bisa mengelabui Allah.

Wednesday, 27 March 2013

SIAPA YANG DISEBUT MUSLIM


Saudara-saudara sesama Muslim!

Hari ini saya akan menjelaskan kepada anda sifat-sifat seorang Muslim. Saya akan
menyebutkan persyaratan-persyaratan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang Muslim,
dan apa yang harus dilakukan oleh seseorang agar ia dapat disebut sebagai seorang
Muslim.

APAKAH "KUFUR" DAN ISLAM ITU?

Untuk memahami masalah tersebut di atas, pertama-tama anda harus mengerti apa itu
kufur dan apa itu Islam. Kufur adalah penolakan seseorang untuk melaksanakan perintah-
perintah Allah, dan Islam adalah kepatuhan kepada Allah semata-mata, serta penolakan
atas semua sistem, hukum dan perintah-perintah yang bertentangan dengan petunjuk-
petunjuk yang diterima dari Allah. Perbedaan yang nyata antara Islam dan kufur ini telah
dinyatakan dengan jelas di dalam al-Qur'an, Allah berkata:

Barangsiapa yang memutuskan tidak menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu adalah orang yang kafir". (Al-Qur'an, al-Maidah, 5:44)

Menetapkan hukum tidak hanya berarti mengadili perkara-perkara dalam sidang-
sidang pengadilan saja. Sesungguhnya, hukum di sini berarti setiap keputusan yang
dibuat oleh setiap orang setiap saat dalam hidupnya. Setiap saat anda dihadapkan kepada
persoalan apakah anda harus melakukan sesuatu atau tidak, dengan cara bagaimana
sesuatu harus dilakukan, cara apakah yang harus dipakai dalam menyelesaikan sesuatu
persoalan, dan sebagainya. Bagi setiap hal yang seperti ini, suatu metodologi untuk
membuat keputusan telah digariskan dalam Kitab Allah dan Sunnah RasulNya,
sedangkan metodologi-metodologi selain itu adalah metodologi-metodologi yang
ditentukan oleh kemauan diri sendiri, adat kebiasaan nenek moyang atau aturan-aturan
yang dibuat oleh manusia. Nah, apabila seseorang mengetepikan cara-cara yang telah
digariskan Allah dan memutuskan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang lain, maka
sesungguhnya ia telah mengikuti jalan kufur. Dan apabila ia selama hidupnya menempuh
cara-cara kufur dalam melakukan segala sesuatu, maka ia adalah seorang kafir. Apabila ia
mematuhi petunjuk Allah dalam sebagian masalah, dan dalam masalah-masalah yang
lain mengikuti kemauannya sendiri atau adat kebiasaan masyarakat atau aturan-aturan
buatan manusia, maka ia telah terlibat dalam kekufuran sejauh pembangkangannya
terhadap hukum-hukum dan aturan-aturan Allah. Seseorang mungkin setengah kafir,
seperempat kafir, sepersepuluh atau mungkin seperduaputuh kafir. Pendeknya, ukuran
kekufuran seseorang adalah menurut sejauh mana ia telah membangkang hukum Allah.
Islam tidak lain adalah penghambaan seseorang semata-mata kepada Allah. Ia sama-
sekali tidak mengikuti kemauannya sendiri, atau kemauan nenek-moyangnya atau
kemauan keluarga dan sukunya, atau kemauan kaum ulama atau kiyai, kemauan
pemerintah, hakim, atau kemauan siapapun yang lain, selain kehendak Allah semata-
mata. Allah menyatakan dalam al-Quran:

Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak
ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah, kecuali Allah
dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita
menjadikan sebagian yang lain tuhan selain daripada Allah. Jika mereka
berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah
orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah”.
(Al-Quran, Ali 'Imran, 3:64).

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal
kepadaNya lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik
dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah lah mereka dikembalikan".
(Al-Qur'an, Ali 'Imran, 3:83).

Dalam kedua-dua ayat ini hanya satu ajaran yang dikemukakan, yakni bahwa agama
yang sebenarnya adalah kepatuhan dan kepasrahan kepada Allah. Menyembah Allah
tidak hanya berarti bersujud di hadapanNya lima kali sehari, tetapi sebenarnya berarti
melaksanakan perintah-perintahNya di setiap saat, siang dan malam. Anda harus
menghindari semua yang telah dilarangNya dan mengerjakan apa yang telah
diperintahkanNya. Dalam setiap masalah, anda harus menyelidiki apa perintah Allah
mengenai masalah tersebut. Anda sekali-kali tidak boleh memikirkan kemauan anda
sendiri, pendapat akal fikiran anda, adat kebiasaan nenek-moyang anda, kemauan
keluarga dan sanak saudara anda, apa yang dikatakan oleh kiyai atau ulama tentang hal
itu, apa yang diperintahkan oleh si anu, dan apa yang boleh menyenangkan hati si anu.
Bila anda mengikuti kemauan siapa pun juga dan mengetepikan perintah-perintah
Allah, maka sesungguhnya anda telah menyekutukannya dengan Allah. Dengan
perbuatan anda itu, berarti anda telah memberikan kepadanya kedudukan yang
sebenarnya adalah hak Allah semata-mata, karena yang berhak memberi perintah
hanyalah Allah saja:

“menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah, Dia menerangkan yang
sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik".
(Al-Qur'an, al-Anam, 6:57).

Hanya Dia sajalah yang layak disembah, Dia yang telah menciptakan dan
menghidupkan anda. Semua yang ada di langit dan di bumi tunduk kepada perintahNya.
Tidak ada sebuah batu pun yang tunduk kepada batu yang lain. Tiada sebatang pohon
pun yang tunduk kepada pohon yang lain. Tidak seekor binatang pun yang tunduk kepada
perintah binatang yang lain. Maka apakah anda akan menjadi lebih hina dari binatang,
pohon, dan batu dengan tunduk kepada sesama manusia dan mengetepikan Allah,
sedangkan binatang, pohon, dan batu hanya tunduk kepada Allah semata-mata? Inilah
masalah yang terkandung dalam kedua ayat tersebut di atas tadi.

Monday, 25 March 2013

TUJUAN KALIMAH THAYYIBAH: MEMPERBAHARUI PENGETAHUAN DAN PERBUATAN


Sekarang timbul pertanyaan lagi megenai tujuan membaca kalimah thayyibah. Kita
telah menjawab bahwa tujuannya adalah untuk membedakan antara nasib akhir
seorang, Muslim dan nasib akhir seorang kafir. Nah, setelah mendapat penjelasan tentang
arti hasil akhir yang diperoleh di akhirat, maka kita mesti mempertimbangkan kembali
jawaban kita. Sekarang kita mesti mengatakan bahwa tujuan membaca kalimah
thayyibah adalah untuk memperbaharui pengetahuan dan perbuatan seseorang agar ia
dapat memperoleh kedudukan yang baik di akhirat nanti. Kalimat ini mengajarkan
kepada manusia untuk menanami ladang dunia dengan tanaman yang baik, dan
merawatnya dengan baik pula, agar hasilnya nanti dapat dipetiknya di akhirat. Apabila
seseorang tidak beriman kepada kalimah thayyibah ini, bagaimana ia dapat bercocok
tanam di ladang dunianya dan dari mana ia akan memperoleh hasil di akhirat nanti? Dan
bila seseorang hanya mengucapkan kalimat tersebut di mulut saja, tetapi perbuatan dan
tingkahlakunya tetap sama dengan seorang kafir, maka kita tentu akan mengatakan
bahwa pengucapan kalimat syahadatnya yang sedemikian itu adalah sia-sia saja.
Tidak ada alasan mengapa nasib akhir orang seperti itu harus berbeda dari seorang kafir.
Bagaimana sekalipun, ia tidak boleh menuntut apa-apa dari Allah dengan hanya
mengucapkan kalimat syahadat di mulut saja, serta tidak pula mempelajari cara
menanami ladang dunianya. Bahkan ia pun tidak menanaminya sama-sekali dengan
tanaman yang baik. Sebaliknya, ia telah menaburkan duri sepanjang masa hidupnya.
Bagaimana ia dapat berharap untuk mendapatkan kebun yang berbuah lebat di dunia yang
akan datang nanti? Seperti telah saya terangkan kepada kita dengan contoh-contoh,
adalah sia-sia dan tidak ada gunanya untuk melakukan sesuatu yang bila dikerjakan atau
tidak dikerjakan hasilnya adalah sama saja. Obat yang tidak bisa mengubah keadaan
orang yang sakit menjadi lebih baik bukanlah Obat namanya. Sama halnya, bila setelah
membaca kalimat syahadat, pengetahuan dan tingkahlaku orang yang bersangkutan masih
tetap sama dengan orang yang tidak membaca kalimat tersebut, maka perbuatannya
membaca kalimat tersebut adalah tidak berarti apa-apa. Apabila hidup seorang Muslim
di dunia ini tidak berbeda dengan hidup seorang kafir, bagaimana hidupnya di akhirat
nanti dapat berbeda dengan hidup seorang kafir.