Friday, 10 May 2013

KESEJAHTERAAN MANUSIA TERLETAK PADA KEPATUHAN TERHADAP ALLAH

SAMSUNG Galaxy Tab 2 7.0 Espresso 8GB Wi-Fi - White
Kenyataan tuntutan Allah kepada manusia agar patuh kepadaNya, adalah dimaksudkan
demi kesejahteraan dan kebaikan manusia itu sendiri. Allah tidaklah sama dengan
penguasa-penguasa di dunia ini. Apabila penguasa-penguasa agar
rakyat patuh kepada mereka, hal itu mereka lakukan adalah demi kepentingan mereka
sendiri. Tetapi Allah tidaklah memerlukan apa pun daripada manusia. Allah tidak
memerlukan pajak dari kita. Allah tidak perlu mendirikan istana, membeli kendaraan,
dan membeli barang mewah dari hasil pajak yang dipungut dari kita. Maha Suci Allah,
Dia tidak memerlukan sesuatu apa pun yang sejenis itu. Karena, segala sesuatu yang ada
di dunia ini adalah milikNya belaka. Allah adalah pemilik semua simpanan kekayaan
yang ada di bumi ini. Allah menuntut kesetiaan manusia kepadaNya hanya karena Dia
menginginkan agar manusia hidup sejahtera. Allah tidak menginginkan makhluk paling
mulia yang diciptakanNya menjadi hamba syaitan atau hamba manusia, atau
menundukkan kepala di hadapan benda-benda atau makhluk-makhluk yang berderajat
rendah. Allah tidak menginginkan mereka yang menjadi wakilNya di bumi ini, meraba-
raba dalam kegelapan, kebodohan dan, sebagaimana binatang, menjadi hamba bagi hawa-
nafsunya sendiri, dan dengan demikian merendahkan derajat dirinya kepada derajat yang
serendah-rendahnya. Karena itu Dia memerintahkan: "Patuhlah kamu kepada Kami.
Berjalanlah terus ke depan dengan membawa obor, cahaya, yang telah Kami kirimkan
kepadamu melalui utusan-utusan Kami. Pasti kalian akan menemui jalan yang lurus, dan
dengan menempuh jalan itu kamu akan memperoleh kedudukan yang terhormat di dunia
ini dan di akhirat nanti".

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar
kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang
kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia
mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan
orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan
mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni
neraka, mereka kekal di dalamnya". (Al-Qur'an, al-Baqarah 2:256-257)

Thursday, 9 May 2013

ORANG ISLAM HANYALAH ORANG YANG SEPENUHNYA MENUNJUKKAN KESETIAAN KEPADA ALLAH

SAMSUNG Galaxy Tab 2 7.0 Espresso 8GB Wi-Fi - White

Terdapat perbedaan antara Islam dan ajaran-ajaran lain. Apabila ajaran-ajaran
lain menuntut dari manusia pengabdian dan pengorbanan diri, sebenarnya mereka tidak
berhak untuk menuntut seperti itu. Tuntutan itu tidak layak mereka ajukan terhadap
manusia. Berbeda halnya, bila Islam yang mengajukan tuntutan itu, karena itu memang
adalah haknya. Ajaran-ajaran lain itu tidak mempunyai alasan yang kukuh untuk
menuntut manusia agar mengorbankan seluruh hidup mereka untuknya. Tetapi jika
tuntutan pengorbanan itu diajukan kepada siapa saja mereka wajib menurut dan
Allah juga semestinya mempunyai hak untuk menuntut seluruh manusia agar
memasrahkan diri kepadaNya, karena apa pun yang ada di langit dan di bumi ini
semuanya adalah milik Allah. Bahkan, manusia sendiri adalah milik Allah. Demikian
juga, segala sesuatu yang ada pada manusia dan yang dimilikinya adalah milik Allah.
Oleh karena itu, adalah sesuai dengan keadilan maupun akal yang sehat bahwa, apa pun
yang menjadi milik Allah haruslah diserahkan kepadaNya saja. Apa saja yang
dikorbankan manusia untuk manusia lain, atau untuk kepentingannya sendiri, atau untuk
memuaskan hawa-nafsunya, adalah merupakan pengkhianatan amanat kecuali apabila hal
itu dilakukan atas perintah Allah dan menurut cara-cara yang telah ditentukanNya.
Sebaliknya, apa saja yang dikorbankan untuk Allah, pada hakikatnya hanyalah
memberikan hak yang memang sudah menjadi milikNya.

Namun umat Islam boleh mengambil pengajaran terhadap sikap orang-orang yang
mengorbankan segala milik mereka untuk kepentingan ajaran-ajaran batil yang mereka
anut serta sembahan-sembahan mereka yang bathil dengan semangat pengorbanan,
pengabdian dan kesetiaan yang tidak ada taranya dalam sejarah. Alangkah anehnya kita
lihat kepada sikap mereka karena semangat pengabdian dan pengorbanan yang begitu
tinggi diperlihatkan oleh manusia terhadap ajaran yang bathil, sementara tiada satu
peratus pun dari semangat seperti itu yang diberikan untuk kebenaran.

MUHASABAH DIRI

Saya ingin mengajak kita semua untuk menilai diri kita masing-masing dengan nilaian
iman dan Islam yang telah dikemukakan pada permulaan bab ini; dan mengukur
kehidupan kita dengan sinaran kriteria tersebut. Bila kita mengakui telah menerima
Islam dan menyatakan iman kepadanya, periksalah apakah benar bahwa hidup dan mati
kita adalah benar-benar untuk Allah saja. Apakah hidup, akal fikiran, tenaga yang ada
pada jiwa dan raga kita, waktu dan usaha-usaha kita, semuanya kita abdikan untuk
memenuhi kehendak Allah? Apakah yang harus kita kerjakan untuk membawa kepada
tercapainya tugas yang telah diberikan Allah kepada ummat Islam? Selanjutnya, apakah
kita telah memberikan seluruh kepatuhan dan pengabdian kita sepenuhnya kepada
Allah? Apakah pelayanan kepada hawa-nafsu dan pengabdian kepada keluarga, saudara-
saudara, handai-taulan, masyarakat dan penguasa negara, telah sepenuhnya terhapus dari
jiwa kita? Sudahkah kita mengukur suka dan benci kita, semuanya bergantung pada
kehendak Allah? Kemudian kita juga harus memeriksa apakah apabila kita mencintai
seseorang, hal itu kita lakukan karena Allah atau tidak,  apakah bila kita membenci
seseorang, juga karena Allah? Apakah dalam cinta dan benci kita tidak mengandung
unsur egoisme? Sekali lagi, kita harus memeriksa apakah tindakan kita, dalam memberi
atau tidak memberi sesuatu kepada seseorang juga, telah kita lakukan karena Allah.
Benarkah bahwa, apa pun yang kita belanjakan untuk kepentingan kita sendiri,
ataupun kita berikan kepada orang lain itu telah ditetapkan Allah, dan bahwa dengan
perbelanjaan dan pemberian itu, bertujuan semata-mata mencari redhaNya? Demikian
juga apabila kita tidak memberikan sesuatu kepada seseorang, apakah hal itu juga karena
Allah melarang kita memberikannya? Bila kita merasakan yang sedemikian itu dalam
diri kita, maka kita harus bersyukur kepada Allah bahwa kita telah dianugerahi
rahmat iman yang sebenar-benarnya dalam diri. Tetapi apabila dalam hal ini kita masih
merasakan suatu kekurangan, maka kita harus memusatkan tekad dan perhatian kita
untuk menghilangkan kekurangan ini, karena kesejahteraan kita di dunia ini dan
keselamatan kita di akhirat nanti, bergantung pada usaha kita untuk menghilangkan
kekurangan dalam iman kita itu. Kita mungkin saja boleh mencapai kejayaan yang
setinggi-tingginya di dunia ini. Tetapi kejayaan kita itu tidak akan dapat menebus
kerugian kita di akhirat, karena kekurangan iman kita itu. Tetapi apabila kita berjaya
menutupi kekurangan iman kita, maka walaupun kita tidak memperoleh apa-apa di
dunia ini, maka ingatlah kita akan tetap berjaya di akhirat nanti.

Kriteria ini ditetapkan bukan dengan maksud agar kita menilai orang lain dengannya,
dan menentukan apakah mereka itu mukmin, kafir atau munafik, tetapi supaya kita
menilai diri kita sendiri, dan setelah mengetahui kekurangan dalam iman kita, kita
segera mencoba menghilangkannya sebelum kita dihadapkan di mahkamah pengadilan
akhirat nanti. Kita tidak perlu penilaian ulama, mufti atau kadi mana pun. Namun yang
penting bagi kita adalah penilaian dari Penguasa Tertinggi, yang mengetahui hal yang
ghaib maupun yang kelihatan. Janganlah kita cepat merasa puas dengan melihat nama
kita tercantum sebagai seorang Islam dalam buku bacaan penduduk kita, tetapi
berusahalah agar nama kita tercatat dalam Buku Catatan Allah sebagai hambanya yang
patuh. Tiada gunanya apabila seluruh manusia di dunia ini memberikan surat keterangan
bahwa kita adalah seorang Islam. Kejayaan kita yang sebenarnya terletak dalam
penilaian yang diberikan oleh Allah, bahwa kita adalah seorang Mukmin, bukannya
seorang munafik, seorang beriman dan bukannya seorang kafir.


Wednesday, 8 May 2013

DUA MACAM ORANG ISLAM

SAMSUNG Galaxy Note 8 - Cream White
1. Islam Setengah-setengah

Yang pertama ialah yang menyatakan diri mereka sebagai Islam dan mereka mengaku
beriman kepada Allah dan UtusanNya serta menerima Islam sebagai agama mereka,
tetapi mereka memperlakukan agama mereka itu hanya sebagai suatu bagian dari
keseluruhan hidup mereka. Dari satu segi, pada diri mereka kelihatan ciri-ciri pernyataan
hubungan dengan Islam seperti banyaknya ibadat, pemakaian tasbih, solat, zikir,
perlaksanaan kesucian dalam hal makanan dan sebagian hubungm-hubungan sosial,
dan hal-hal lain yang pada umumnya biasa dikaitkan dengan sikap orang yang warak dan
beragama.  Tetapi dari segi lain, sikap hidup seluruh mereka sama sekali tidak
mencerminkan Islam dan tidak dihubungkan dengan Islam. Bila mereka mencintai
seseorang atau sesuatu, cinta mereka itu adalah karena dorongan hawa nafsu mereka
sendiri dan demi keuntungan serta kesenangan mereka sendiri, atau demi tanahair dan
bangsa juga demi seseorang manusia semata-mata. Bila mereka menyatakan permusuhan
dan melakukan peperangan, maka hal itu mereka lakukan demi kepentingan pribadi dan
duniawi. Masalah perniagaan, isteri dan anak-anak serta keluarga, masyarakat dan teman-
teman sekerja, semuanya ini sebagian besar mereka tidak merujuk ajaran-ajaran agama
dan mereka menyelesaikan masalah ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
duniawi. Sebagai doktor, ahli perniagaan, presiden, tentara dan pemegang suatu jawatan
tertentu, pada mereka semua bidang dan kedudukan mereka adalah bebas dan tiada
hubungan dengan kedudukan mereka sebagai orang-orang Islam. Kemudian orang-orang
seperti ini biasanya akan berkumpul dan bersama-sama mendirikan lembaga-lembaga
kebudayaan, pendidikan dan politik yang dikaitkan dengan Islam untuk menarik minat
orang ramai supaya menyertai mereka. Tetapi sebenarnya semua lembaga-lembaga dan
persatuan seperti itu tiada hubungannya sama sekali dengan Islam.

2. Islam Sepenuhnya

Manakala yang kedua ialah yang meleburkan sepenuh keperibadian dan kehidupan
mereka kepada Islam. Semua kedudukan yang mereka pegang terlebur ke dalam
posisi mereka sebagai Muslim. Peranan mereka sebagai ayah, anak, suami atau isteri,
ahli perniagaan, pemerintah, buruh atau pegawai-pegawai profesional akan
mencerminkan watak sebagai seorang Muslim. Perasaan, keinginan, ideologi, fikiran
dan pendapat-pendapat mereka, kebencian, kecenderungan, kesenangan dan
ketidaksenangan mereka, dari segala segi kepribadian atau sifat mereka semuanya
tunduk dan patuh kepada suruhan dan larangan Allah. Islam secara keseluruhannya
telah mempengaruhi hati dan fikiran serta mata dan telinga mereka, perut dan
bagian-bagian seksual tubuh mereka, kaki dan tangan mereka. Secara umumnya
seluruh jiwa dan raga mereka berpandukan ajaran Islam. Baik cinta ataupun benci
mereka, tidak lepas dari Islam. Bila mereka berkelahi dan berperang, hal itu mereka
lakukan semata-mata demi Islam. Bila mereka memberikan sesuatu kepada orang
lain, itu adalah karena Islam menyuruh mereka berbuat demikian. Bila mereka tidak
memberi sesuatu kepada seseorang juga karena Islam melarang mereka untuk berbuat
demikian. Sikap mereka yang demikian ini tidaklah terbatas pada individu-individu
mereka saja, tetapi juga berlaku dalam kehidupan bersama mereka, yang
seluruhnya didasarkan pada prinsip Islam. Kewujudan mereka berkembang menjadi
suatu masyarakat yang hanya berdasarkan Islam, dan seluruh tingkah laku kolektif
mereka hanya didasarkan pada ajaran-ajaran Islam.

Tuesday, 7 May 2013

KRITERIA ISLAM YANG SEBENARNYA

SAMSUNG Galaxy Tab 2 7.0 Espresso 8GB Wi-Fi - White
Saudara-saudara sesama Muslim!

Allah telah mengatakan dalam Kitab SuciNya:

Katakanlah: 'Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
(kepada Allah)’”. (Al-Qur'an, al-An’am, 6:162-163)

Ayat tersebut di atas dijelaskan oleh Rasulullah saw dengan sabdanya:

“Barangsiapa yang menjalinkan persahabatan karena Allah, menyatakan
permusuhan karena Allah, dan meninggalkan sesuatu karena Allah, maka sesungguhnya
ia telah melengkapkan imannya, yakni menjadi seorang Mukmin yang sempurna”.

Ayat yang saya ambil di atas menunjukkan bahwa apa yang dituntut oleh Islam adalah
bahwa manusia haruslah mempersembahkan seluruh kerjanya, hidup dan matinya
semata-mata untuk Allah dan tidak membagikan hak Allah dalam hal ini dengan yang
lainnya. Artinya, baik kerja, hidup maupun matinya tidak boleh dipersembahkan kepada
siapa pun atau sesuatu pun selain Allah.

Penjelasan yang diberikan Rasulullah di atas, merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh
seorang Muslim dalam menjalin hubungan persahabatan ataupun permusuhan dengan
orang lain serta dalam menangani urusan-urusan dunianya. Hal-hal tersebut hendaklah
dilakukan dengan niat semata-mata untuk mencari keredhaan Allah, dan dilakukan
menurut aturan-aturan yang telah digariskanNya. Jika tidak dilakukan sedemikian, iman
tidak dapat dikatakan sempurna, apalagi untuk mencapai derajat spiritual yang tinggi.
Dalam hal ini, kelemahan iman ditunjukkan oleh kelemahan seseorang dalam memenuhi
syarat-syarat yang tersebut di atas. Apabila dalam hal ini seseorang telah menuruti aturan
Allah sepenuhnya, maka barulah imannya boleh dikatakan sempurna.

Kebanyakan orang mengira bahwa kualitas iman yang tersebut di atas hanyalah
diperlukan oleh mereka yang ingin mencapai derajat spiritual yang tinggi, sedangkan
orang kebanyakan tidaklah dituntut untuk memiliki Islam dan iman yang sempurna atau
lengkap. Maksud mereka, tanpa syarat-syarat ini pun, seseorang boleh menjadi seorang
Mukmin dan Muslim. Tetapi pandangan seperti ini adalah pandangan keliru yang timbul,
karena pada umumnya orang tidak membedakan antara Islam KTP dengan Islam yang
sebenarnya menurut pandangan Allah.

Monday, 6 May 2013

JALAN MENUJU KEREDHAAN ALLAH

LG Nexus 4 E960
Saudara-saudara!

Dalam al-Qur’an Allah berfirman :

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu
nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahui” (Al-Qur’an, Ali ‘Imran,3:92).

Ayat ini adalah keperluan dari Islam dan iman. Kebesaran Islam yang sebenarya terletak
pada prinsip bahwa segala apa pun yang kita cintai mestilah kita korbankan untuk
Allah. Kita tentu tahu bahwa dalam semua urusan hidup kita, Allah mengajak kita
kepada suatu arah, sedangkan kita sendiri mengajak ke arah lain. Allah menyuruh kita
mengerjakan suatu perbuatan, tetapi nafs (diri) sendiri membujuk kita agar tidak
mengerjakannya dengan menyatakan bahwa pekerjaan itu akan mendatangkan kesulitan
dan kerugian. Allah melarang kita mengerjakan sesuatu, tetapi nafs membujuk kita untuk
melakukannya dengan mengatakan bahwa pekerjaan itu sangat menyenangkan dan
menguntungkan. Di satu pihak terdapat keredhaan Allah, sedangkan di pihak yang lain
adalah kesenangan dan kepuasan diri. Ringkasnya, dalam setiap langkah kehidupannya,
manusia sentiasa dihadapkan kepada suatu persimpangan jalan. Jalan yang pertama
adalah jalan Islam, dan jalan yang satu lagi adalah jalan kufur dan kemunafikan.
Seseorang yang mengabaikan semua bujukan dunia serta tunduk patuh pada perintah-
perintah Allah adalah orang yang telah memilih jalan Islam. Sebaliknya, seseorang yang
mengetepikan perintah-perintah Allah, dan menuruti segala kemauannya sendiri serta
godaan-godaan dunia, adalah orang yang memilih jalan kufur dan kemunafikan.

Saturday, 4 May 2013

BEBERAPA CONTOH KEPATUHAN KEPADA ALLAH


SAMSUNG Galaxy Tab 2 7.0 Espresso 8GB Wi-Fi - White
SAMSUNG Galaxy S4 [i9500] - White SAMSUNG Galaxy Grand [HSMI9082MEB] - White
1. Meninggalkan Minuman Keras

Tentu kita semua telah mendengar betapa meluasnya kebiasaan meminum minuman
keras (khamar) di negeri Arab sebelum kedatangan Islam. Lelaki, perempuan, tua dan
muda, semuanya gemar meminum khamar. Mereka memang sudah terbiasa dengan
minuman tersebut. Mereka mengarang dan menyanyikan lagu-lagu untuk memuji
khamar, dan mereka begitu tergila-gila kepada khamar tersebut. Dan kita semua tahu
juga bahwa sukar sekali berhenti dari meminum minuman keras bila telah ketagih
kepadanya. Seorang pemabuk lebih suka mati daripada berhenti minum. Bila ia tidak
memperoleh khamar, ia merasa lebih sakit dari orang sakit. Tetapi sudahkah kita
mendengar apa yang terjadi ketika larangan minum minuman keras diturunkan oleh
Allah? Ketika mendengar larangan itu, orang Arab yang bersedia mati demi minuman
keras itu, dengan tangan mereka sendiri memecahkan bekas-bekas yang berisi minuman
keras itu. Dan minuman itu mengalir di jalan-jalan dan di lorong-lorong, di kota
Madinah, waktu itu, seperti air hujan. Dalam suatu pertemuan, sekumpulan orang sedang
asyik meminum minuman keras. Ketika mereka mendengar utusan Nabi saw mengatakan
bahwa minuman keras telah dilarang, tangan-tangan mereka berhenti bergerak seketika.
Mereka yang sudah memegang mangkuk minuman itu di bibir, seketika itu juga
menyingkirkannya dari mulut mereka, dan tidak membiarkan setetes pun arak menyentuh
bibir mereka. Inilah kebesaran iman. Inilah yang dinamakan patuh kepada Allah dan
RasulNya.

2. Pengakuan Dosa

Kita tahu juga betapa kerasnya hukuman yang diberikan Islam bagi orang yang berzina -
seratus kali pukulan rotan di punggung yang telanjang; yang membuat orang menggeletar
hanya dengan membayangkannya saja. Dan bila yang berzina adalah orang yang sudah
pernah kawin, maka hukumannya lebih mengerikan: dirajam sampai mati. Mendengar
kata rajam saja orang sudah gementar. Tetapi sudahkah kita mendengar,bagaimana
perilaku orang yang mempunyai iman dalam hatinya? Pada zaman Nabi saw ada seorang
beriman yang telah berzina. Tidak ada saksi, tidak ada seorang pun yang menyeretnya
ke muka pengadilan. Tidak pula ada seorang pun yang melaporkannya kepada polisi.
Hanya ada iman, yang bertakhta dalam hatinya. Dan iman itulah yang mengatakan
kepadanya: “Pergilah kamu menjalani hukuman yang telah disediakan Allah atas
perbuatanmu itu”. Maka pergilah orang itu dengan kemauannya sendiri kepada
Rasulullah saw dan berkata: "Wahai Rasulullah saya telah berzina. Hukumlah saya”.
Mendengar itu, Nabi, memalingkan wajahnya dari orang itu. Tetapi orang itu terus
saja menghadap wajah Rasulullah saw dan mengulangi permintaannya. Rasulullah
kembali memalingkan wajahnya dari orang itu, dan orang itu juga kembali bergerak ke
tempat menghadapi wajah Rasulullah dan kembali mengulangi permintaannya untuk-
ketiga kalinya. Inilah iman. Memang, bagi seseorang yang memiliki iman dalam hatinya,
adalah mudah untuk menjalani hukuman seratus kali libasan pada punggungnya yang
telanjang. Bahkan hukuman rajam pun. Ia segan untuk kembali kehadirat Tuhannya
dengan sifat seorang hamba yang tidak patuh.

3. Pemutusan Hubungan

Kita juga tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih dicintai seseorang selain
daripada sanak saudaranya. Terutama sekali, ayah, saudara dan anak adalah terlalu
dicintai sehingga orang bersedia untuk mati karena mereka. Tetapi lihatlah dalam sejarah
Islam, sewaktu terjadi Perang Badar dan Uhud, dan lihatlah siapa yang berperang
melawan siapa? Si ayah berada di barisan tentara Islam dan si anak di dalam barisan
tentara kafir, dan sebaliknya. Seseorang berada di satu pihak dan saudaranya ada di pihak
lainnya. Sanak saudara dan kerabat-kerabat yang dekat saling berhadapan dan bertempur
seakan-akan satu sama lain adalah orang-orang asing. Dan semangat permusuhan ini
menyala bukan karena membela tanah air atau merebut harta benda, bukan pula karena
dendam pribadi. Tetapi perang melawan keluarga dan sanak saudara itu terjadi karena
orang-orang yang beriman berani dan rela membunuh atau terbunuh oleh ayah, anak,
saudara dan keluarga mereka sendiri, demi membela ajaran Allah dan RasulNya.

4. Taobat dari Adat Kebiasaan Lama

Kita juga tahu bahwa Islam telah meruntuhkan dengan saksama semua adat kebiasaan
lama yang berlaku di negeri Arab sebelum kedatangannya. Dosa terbesar yang muncul
dari adat kebiasaan lama ini adalah penyembahan berhala yang telah menjadi amalan
selama ratusan tahun. Islam melarang perbuatan dosa ini bersama-sama dengan minuman
keras, perzinaan, perjudian, pencurian dan perampasan, yang biasa dilakukan sebelum
Islam. Sebelum Islam, kaum wanita biasa bepergian ke luar rumah dengan pakaian
terbuka. Islam menyuruh mereka mengenakan Jilbab. Sebelum Islam datang, kaum
wanita tidak berhak untuk memperoleh harta warisan, kemudian Islam memerintahkan
agar mereka juga diberi bagian. Sebelum Islam, anak-anak angkat diberi kedudukan
yang sama dengan anak-anak kandung, tetapi Islam membatalkan persamaan kedudukan
ini serta mengesahkan perkawinan dengan anak angkat. Pendeknya, tidak ada satu
pun adat lama yang dibiarkan tetap tegak oleh Islam. Tetapi tahukah kita bagaimana
sikap orang-orang yang telah menyatakan iman kepada Allah dan RasulNya? Orang-
orang yang beriman ini menghancurkan berhala-berhala, yang selama ini disembah oleh
mereka dan nenek-moyang mereka, dengan tangan-tangan mereka sendiri. Mereka
mempersembahkan korban-korban tersebut di atas altar-altar pemujaan mereka. Mereka
menghapuskan semua adat kebiasaan keluarga yang telah mereka warisi turun-temurun
selama berabad-abad lamanya. Dengan perintah Allah, mereka menghancurkan benda-
benda yang sebelum itu mereka pkitang suci. Sebaliknya, mereka mengesahkan hal-hal
yang sebelum itu mereka pkitang menjijikkan. Perkara-perkara yang selama berabad-
abad lamanya dipkitang suci, tiba-tiba saja menjadi kotor, dan juga sebaliknya.
Semua amalan-amalan yang pada masa jahiliyyah merupakan sumber keuntungan atau
kesenangan akan dihapuskan setalah datangnya larangan dari Allah. Sebaliknya, semua
perintah-perintah Islam yang membawa kesulitan-kesulitan dan keberatan-keberatan
diterima dengan gembira. Inilah yang disebut iman dan inilah yang dinamakan Islam.
Sekitainya orang-orang Arab pada masa itu berkata: “Kami tidak mau menerima hal itu
karena itu merugikan kami. Kami tidak dapat menghentikan perbuatan ini karena ia
menguntungkan kami. Kami juga akan tetap, mengerjakan perbuatan yang lainnya itu
karena ia adalah warisan budaya nenek-moyang nenek-moyang kami. Juga, kami
menyukai perkara-perkara tertentu yang dilakukan oleh bangsa Romawi dan amalam-
amalan bangsa Iran yang menyenangkan kami”. Pendeknya, sekitainya mereka semua
menolak setiap perkara yang datang dari Islam, kita boleh membayangkan bahwa pasti
tidak ada seorang Muslim pun di dunia sekarang ini.

TEST KEIMANAN

LG Nexus 4 E960 Saudara-saudara sesama Muslim!

Dalam khutbah yang lalu saya telah menerangkan bahwa menurut al-Qur'an ada tiga
jalan yang dapat menyesatkan manusia.
Yang pertama adalah mengetepikan hukum-hukum Allah dan mengikut dorongan hawa
nafsu. Yang kedua adalah melebihkan kebiasaan keluarga dan cara-cara nenek-moyang
daripada hukum Allah. Yang ketiga adalah mengabaikan sistem kehidupan yang
diajarkan oleh Allah dan RasulNya, dan mengikuti cara-cara yang ditempuh oleh
manusia, baik oleh orang-orang yang hebat bangsanya sendiri maupun bangsa-bangsa
lain.

MUSLIM YANG SEBENARNYA

Definisi yang sebenarnya untuk seorang Muslim adalah bahwa ia harus kebal terhadap
ketiga-tiga penyakit tersebut di atas. Orang yang disebut Muslim hanyalah orang yang
tidak menjadi hamba sahaya kepada apa pun kecuali Allah, dan tidak mengikuti siapa
pun kecuali RasulNya. Seorang Muslim hanyalah orang yang dengan setulus hati percaya
bahwa ajaran Allah dan RasulNya adalah kebenaran yang mutlak, dan apa pun yang
bertentangan dengannya adalah sesat, dan apa pun yang baik bagi manusia dalam
kehidupan di dunia ini maupun di akhirat nanti seluruhnya telah terkandung dalam
ajaran-ajaran Allah dan UtusanNya. Seseorang yang beriman sepenuhnya kepada
kebenaran-kebenaran ini adalah orang yang selalu mencari petunjuk dari ajaran Allah dan
RasulNya dalam setiap langkah kehidupannya dan yang bersangkutan dengan masalah
yang dihadapinya, dan setelah mengetahui ajaran tersebut, terus mengikutinya. Setelah
berbuat demikian, ia tidak akan memperdulikan apakah fikirannya akan merasa tidak
tenang karenanya, atau apakah sanak saudaranya akan memarahi dan mencaci-makinya,
atau orang-orang yang memuja keduniaan akan menentangnya. Karena, bila hal itu
terjadi ia hanya cukup menjawab dengan jelas dan tegas: “Saya adalah hamba sahaya
Allah dan bukan hambamu; saya hanya percaya kepada UtusanNya, dan tidak
kepadamu”.

TANDA- TANDA KEMUNAFIKAN

Memperturutkan Kemauan Sendiri (Nafs)

Berlawanan dengan hal di atas, apabila seseorang berkata: “Meskipun ini adalah perintah
Tuhan dan RasulNya, fikiran saya tidak boleh menerimanya karena saya menganggap
perintah ini merugikan. Karena itu saya akan mengetepikan petunjuk-petunjuk Tuhan dan
berbuat menurut pendapat saya sendiri”, maka jelas hati orang seperti ini telah kehilangan
iman. Ia bukanlah seorang Mukmin, tetapi seorang munafik. Karena, sementara di mulut
ia mengatakan bahwa ia adalah seorang hamba Tuhan dan pengikut RasulNya, dalam
tindakannya ia adalah hamba dirinya sendiri dan pengikut pendapatnya sendiri.

Pemujaan Kepada Adat Istiadat

Sama halnya, bila seseorang berkata bahwa meskipun bertentangan dengan perintah
Allah dan RasulNya, bagaimana suatu adat tertentu boleh ditinggalkan, sedangkan ia
sudah dilaksanakan turun-temurun sejak zaman nenek-moyang atau bagaimana suatu tata
cara yang sudah menjadi kebiasaan akan dihentikan, sedangkan ia sudah menjadi pilihan
sejak waktu yang lama di kalangan sanak saudaranya? Orang seperti ini juga termasuk
kelompok munafik, walaupun di dahinya sudah tumbuh benjolan yang diakibatkan oleh
banyaknya ia bersujud dalam solat yang tidak henti-hentinya, dan yang mungkin telah
membuat wajahnya tampak betul-betul seperti seorang yang soleh, karena kebenaran din
yang sebenarnya tidak meresap ke dalam hatinya. Din tidaklah terdiri dari ruku’, sujud,
puasa dan haji, tidak pula ia terdapat pada wajah dan pakaian seseorang: Sebenarnya, din
berarti kepatuhan kepada Allah dan RasulNya. Seseorang yang menolak untuk patuh
kepada Allah dan RasulNya dalam urusan masalah-masalah hidupnya, sebenarnya
hatinya kosong dari din. Solatnya, puasanya, dan wajahnya yang soleh hanyalah penipuan
belaka.

MENIRU-NIRU BANGSA LAIN

Demikian pula, apabila seseorang, dengan tidak memperdulikan Kitab Allah dan
petunjuk-petunjuk RasulNya, mendesak agar suatu kebiasaan tertentu dilaksanakan
karena kebiasaan itu biasa dilakukan orang-orang Barat, dan agar suatu
diterima saja karena bangsa lain yang menerimanya ternyata mengalami kemajuan,
atau agar sesuatu dipersetujui saja karena dianjurkan oleh seorang besar, maka orang
yang begini mesti berhati-hati menjaga imannya. Pendapat seperti ini tidak boleh
dirujukkan dengan iman. Bila kita adalah seorang Muslim dan ingin tetap sebagai
seorang Muslim, maka kita harus melemparkan jauh-jauh setiap pendapat yang
bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya. Bila kita tidak mampu melakukan
perkara ini, kita tidak patut mengatakan diri kita sebagai penganut Islam. Hanya di
mulut saja kita percaya kepada Allah dan RasulNya, kita telah mengetepikan ajaran-
ajaranNya dan ajaran-ajaran RasulNya. Kalau dalam masalah-masalah hidup, kita
memberi tempat kepada ajaran-ajaran manusia, itu bukanlah Islam namanya dan bukan
pula iman. Itu adalah kemunafikan yang terang-terangan. Allah telah menyatakan dalam
al-Qur'an:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah
memimpin siapa yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus. Dan mereka
berkata: “Kami telah beriman kepada Alah dan rasul, dan kami mentaati (kedua-
duanya)’. Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali
mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil
kepada Allah dan rasulNya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka,
tiba-tiba sebagian di antara mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan
itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.
Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau
(karena) mereka ragu-ragu, ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasulNya
berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya mereka itulah orang-orang yang zalim.
Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah
dan rasulNya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan:
“Kami mendengar, dan kami patuh” dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasulNya, maka mereka
adalah orang-orang yang mendapat kemenangan". (Al-Qur'an, an-Nur, 24:46-52).

Fikirkanlah definisi iman yang dinyatakan dalam ayat-ayat tersebut di atas. Iman yang
sejati adalah menghambakan diri kepada Kitab Allah dan petunjuk-petunjuk rasulNya.
Apa pun perintah yang datang dari kedua-duanya mestilah betul-betul dipatuhi, dan apa
pun yang bertentangan dengannya tidak boleh didengarkan, biarpun datangnya dari
fikiran sendiri, dari keluarga ataupun dari orang banyak. Hanya orang yang mempunyai
keadaan fikiran yang beginilah yang boleh disebut Mukmin dan Muslim. Yang tidak
memilikinya adalah orang munafik.